Ini 2 Tips Sukses ala Bappeda Magelang untuk Mahasiswa Baru Polbangtan Kementan

Ini 2 Tips Sukses ala Bappeda Magelang untuk Mahasiswa Baru Polbangtan Kementan
Didik Kristia Sofian, Kepala Bidang Perekonomian dan Pengembangan Wilayah, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Magelang saat memberikan 2 tips sukses dalam acara Mabidama (Masa Bimbingan Dasar Mahasiswa Baru) di kampus Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta – Magelang.

MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.COM – Masuknya mahasiswa baru di Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta – Magelang (Polbangtan YoMa) menandakan lahirnya cikal bakal pengusaha sukses di masa mendatang. Keberadaan generasi milenial ini perlu dikuatkan motivasinya untuk menekuni sektor pertanian.

Hadir dalam acara Mabidama (Masa Bimbingan Dasar Mahasiswa Baru), Didik Kristia Sofian, Kepala Bidang Perekonomian dan Pengembangan Wilayah, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Magelang memberi 2 tips suksesnya.

Ia menyebutkan mahasiswa harus mencari ilmu, bukan sekedar mendapatkan nilai. “Kesalahan pertama mahasiswa adalah mereka mencari nilai, bukan mencari ilmu. Sehingga di kemudian hari, Ia tidak mendapatkan pengetahuan yang diperlukan di dunia pekerjaan”, sebutnya.

Didik mengajak mahasiswa baru untuk membulatkan tekadnya mencari ilmu selama 4 tahun pendidikan di Polbangtan YoMa. Setelah mengantongi pengetahuan yang cukup, Ia menyebutkan pesan kedua bagi mahasiswa untuk mengawali usaha dengan skala kecil.

“Awali dengan yang kecil. Tidak perlu malu. Dengan yang kecil ini, kalian akan belajar bagaimana membangun usaha dan siap dengan skala yang lebih besar.” lanjut Didik.

Ia memberikan contoh usaha ayam di Soropadan Temanggung, yang memulai usahanya dengan 10 ekor ayam, hingga menjadi 20 ribu populasi saat ini. Keberhasilan ini karena ilmu yang diperoleh dicoba dan kemudian dikembangkan hingga berproduksi massal.

Lebih lanjut Didik menyebutkan Polbangtan YoMa adalah tempat yang tepat bagi mahasiswa untuk menggali ilmu dan mencari jawaban atas tantangan yang akan dihadapi di dunia pekerjaan. Inovasi menjadi jawaban atas permasalahan yang terjadi.

Dengan luas lahan produksi yang terus berkurang, iklim yang tidak menentu, dan hama/ penyakit yang semakin komplek, sementara kebutuhan penduduk atas pangan yang semakin meningkat, maka diperlukan sumber daya manusia yang tangguh.

Di sinilah diperlukan peran generasi milenial, lanjut Didik, “Petani milenial menjadi lokomotif penggerak dan pelopor pertanian yang inovatif”.

Hal ini sejalan dengan pesan Mentan, Syahrul Yasin Limpo agar petani Indonesia mengikuti perkembangan teknologi di era 4.0.

“Petani Indonesia tidak boleh tertinggal karena banyak inovasi teknologi dan mekanisasi yang dibuat untuk meningkatkan produktivitas pertanian,” kata Syahrul.

Masuk ke era Revolusi Industri 4.0, Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan terobosan dalam meningkatkan produksi pertanian di berbagai komoditas melalui peningkatan minat generasi muda.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi, mengatakan generasi muda atau yang saat ini bisa disebut pemuda milenial menjadi penentu kemajuan pertanian di masa depan. Estafet petani selanjutnya adalah pada pundak generasi muda, mereka mempunyai inovasi dan gagasan kreatif yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan pertanian.

“Dibutuhkan sekelompok anak muda yang memiliki loyalitas dan integritas untuk memajukan pertanian Indonesia secara modern dan berorientasi ekspor agar Indonesia menjadi negara agraris yang mandiri pangan,” ujar Dedi.(hms)