Industri Mesin Sangrai Kopi Tak Goyang Dihantam Pandemi

AKTIVITAS. Salah satu pekerja sedang beraktivitas di bengkel pembuatan mesin roasting di Desa Mangunan, Kebonsari, Wonoboyo, kemarin. (Foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)
AKTIVITAS. Salah satu pekerja sedang beraktivitas di bengkel pembuatan mesin roasting di Desa Mangunan, Kebonsari, Wonoboyo, kemarin. (Foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)

MAGELANGEKSPRES.COM, TEMANGGUNG – Berkembangnya dunia kopi akhir-akhir ini, tidak hanya menguntungkan pelaku kopi dari hulu ke hilir saja, namun juga menjadi ladang usaha yang menggiurkan bagi industri mesin sangrai kopi. Bahkan industri mesin sangrai ini masih tetap bertahan di tengah hantaman badai Covid-19, meski paling tidak omset penjualannya mengalami penurunan.

“Alhamdulillah selama pandemi Covid-19 tetap masih bisa produksi,” tutur Retnawan salah satu pelaku industri mesin sangrai di Desa Mangunan, Kebonsari, Wonoboyo, Selasa (15/6).

Menurutnya, selama pandemi Covid-19 ini omset penjualan mengalami penurunan yang cukup banyak. Sebelumnya, dalam satu bulan paling tidak bisa memproduksi 8 sampai 10 mesin, namun sejak pandemi ini hanya 4 sampai 5 mesin saja dalam satu bulan.

“Tapi saya masih beruntung, meskipun menurun, tapi tetap ada saja pelanggan yang memesan mesin rosting di tempat saya. Alhamdulillah sekarang ada yang bantu-bantu 13 orang,” tuturnya.

Menurutnya, mesin sangrai atau mesin roasting produksinya dibuat dalam berbagai kapasaitas, mulai dari kapasitas satu kilogram hingga kapasitas 10 kilogram, dengan spek yang berbeda juga sesuai dengan pesanan dari pelanggan.

Untuk harga sendiri lanjutnya, juga bisa disesuaikan dengan anggaran, karena pembuatan mesin roasting kopi ini bisa disesuaikan dengan kualitas mesin tetap yang terbaik.

“Dari kapasitas terkecil mulai harga Rp10 juta hingga Rp120 juta, tergantung dari pemesan saja,” jelasnya.

Retnawan mengungkapkan, mulai memproduksi mesin roasting pada tahun 2016, sebelumnya hanya membuka bengkel sepeda motor lengkap dengan onderdilnya.

“Dulu pertama kali memang bengkel motor custom di Bogor, kemudian saya pulang ke kampung dan kembali membuka bengkel sepeda motor lagi, bahkan sempat ke pembuatan tralis,” ceritanya.

Namun, setelah pulang kampung dan memahami situasi dan kondisi, dirinya nekat membuat mesin roasting kopi, dan ternyata mesin sangrainya banyak permintaan dari para pelaku kopi.

Artikel Menarik Lainnya :  BPJamsostek Temanggung Serahkan Jaminan Kematian kepada Keluarga Satpam Pasar Legi

“Sekitar tempat say ini banyak petani kopi, banyak penjual kopi, jadi saya nekat membuat mesin rosting ini. Mesin pertama buatan saya yang beli orang Jakarta, saya waktu itu juga tidak menyangka sama sekali,” ujarnya.

Setelah beberapa tahun kemudian, dirinya terus berusaha memperbaiki kualitas mesin roasting produksinya, hingga akhirnya mesin roasting buatannya ini sudah dikirim hampir ke seluruh pulau di Idonesia.

“Yang belum itu hanya ke Papua, kalau ke luar negeri sudah ada pesanan tapi untuk saat ini memang saya belum terima, karena ongkos kirimnya lebih mahal daripada harga mesinnya,” tuturnya.

Selain mesin roasting, Retnawan juga memproduksi mesin grinder (penggiling kopi), huller, pulper dan mesin lainnya.

“Semua alat-alat atau mesin kopi, tergantung permintaan dan pesanan dari pelanggan saja,” tuturnya. (set)