Industri Kecil Kerajinan Mainan Anak Mulai Bangkit Dari Pandemi

Industri Kecil Kerajinan Mainan Anak Mulai Bangkit Dari Pandemi (foto : prokompim kota magelang)
Industri Kecil Kerajinan Mainan Anak Mulai Bangkit Dari Pandemi (foto : prokompim kota magelang)

KAMPUNG TANGGUH KOTA MAGELANG

MAGELANGEKSPRES.COM, MAGELANG – SEMPAT terpuruk di awal pandemi, usaha mainan anak edukatif di Kemirirejo dan Jurangombo Selatan, Kota Magelang mulai bergeliat lagi. Pasar luar daerah mulai melirik kembali usaha kerajinan mainan anak secara daring. Meskipun tak sebesar sebelum pandemi Covid-19 melanda, namun perlahan usaha kerajinan mainan anak edukatif ini mengalami fase kebangkitan.

Salah satu perajin mainan anak di Kampung Bojong, Kelurahan Jurangombo Selatan, Magelang Selatan, Wahid Isrodi mengatakan, setiap harinya memproduksi mainan mobil-mobilan, puzzle, dan kitiran berbahan baku kayu. Rata-rata setiap bulannya, ia memproduksi sebanyak 400 unit dengan pasar di Jakarta, Jogja, Semarang, dan beberapa daerah di Jawa Timur.

”Kebanyakan yang pesan untuk digunakan sendiri. Paling banyak adalah mainan mobil-mobilan,” katanya belum lama ini.

Ia menuturkan, jumlah produksi memang sudah maksimal. Apalagi dampak dari pandemi sehingga ia terpaksa mengurangi jumlah karyawannya. Dirinya hanya memproduksi mainan anak ketika ada pesanan saja.

”Sementara tidak menjual secara offline. Karena Taman Kyai Langgeng (TKL) masih ditutup. Biasanya kami menjual di sekitaran Kyai Langgeng. Sedangkan pesanan dari sekolah-sekolah, TK, dan PAUD juga turun drastis karena tidak ada tatap muka,” ujarnya.

Ia bercerita bahwa dalam membuat alat permainan edukatif, hal yang harus diperhatikan adalah detail bagian-bagian dari mainan yang kemudian dirakit menjadi satu dan dicat.

”Selesai dicat, dikeringkan, dan dikemas. Kita juga perhatikan paku, bahan cat, dan teknik penggarapannya supaya aman untuk anak-anak,” jelasnya.

Untuk tiap mobil-mobilan dibanderol dengan harga Rp20.000-Rp150.000. Selain itu, ia juga memproduksi puzzle dengan harga mulai Rp6.000 per buah. Kemudian, mainan kuda kayu yang harganya Rp90.000 tiap unit.

Artikel Menarik Lainnya :  Lebih Lengkap, Dapatkan Promo Hemat Satu Pekan dan JSM, hanya di Alfamidi Magelang

Pembuatan mainan tradisional ini ternyata juga menular ke daerah tetangga seperti Kelurahan Kemirirejo. Lokasi mereka yang berdekatan dengan pusat wisata Taman Kyai Langgeng (TKL) ini lah kemudian dimanfaatkan warga setempat untuk mencoba peruntungan dengan memproduksi mainan kayu.

Seperti juga dirasakan Supardi, perajin di kampung yang sama. Ia mengaku sudah cukup lama merintis usaha produksi mainan anak dari bahan dasar kayu. Gagasan ini muncul di era tahun 90-an lalu.

Begitu banyaknya peminat koleksi mainan, Supardi mengaku tidak pernah istirahat memproduksi berbagai macam mainan yang sebagian besar terbuat dari kayu bekas itu.

“Namun sejak pandemi sebagian dari kami terpaksa menunda produksi. Bahannya sudah mulai terbatas dan terkadang penjualannya sangat susah. Karena untuk bergerak di sektor digital kami masih kesulitan,” ucapnya.

Sebagian dari langganannya, terutama Taman Kanak-kanak dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di berbagai daerah mulai jarang. Kini, meski hanya sedikit saja pemesannya, tapi hal itu tak membuatnya berhenti. Dari usaha ini pula dia mampu bertahan menjadi seorang perajin hingga kini.

Sementara itu, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Magelang, Niken Ichtiaty Muchamad Nur Aziz meminta semua pihak untuk memberi motivasi dan strategi industri kecil dan menengah (IKM) Kerajinan untuk bertahan di masa pandemi Covid-19 ini.

Niken berharap keberadaan Dekranasda mampu memberikan inovasi dan kreativitas. Sebab hanya dengan cara itu IKM dapat bertahan di tengah pandemi Covid-19.

”Tugas kita semua adalah membuat perubahan, sehingga semakin kreatif, inovatif, IKM kita juga senantiasa memperhatikan kualitasnya,” tandasnya.

Niken tak menampik, pandemi Covid-19 mengakibatkan banyak IKM dan UMKM terpuruk. Menurutnya, pembenahan menjadi tugas bersama agar mereka dapat bangkit lagi.

Artikel Menarik Lainnya :  Tim Timor Amankan Pelajar yang Diduga akan Tawuran

”IKM tidak hanya bertahan tapi juga harus bisa meningkatkan produksinya secara kualitas maupun kuantitas meski di tengah pandemi Covid-19. Siapa yang bisa bertahan dialah yang bisa adaptasi lingkungan,” ujarnya. (prokompim/kotamgl)