Ikut Musrenbang, Forum Anak Wadul Ganjar Soal Pernikahan Dini

Gubernur Ganjar Pranowo saat memimpin Musrenbang di wilayah Wanarakuti (Juwana, Jepara, Kudus, Pati) dan Banglor (Rembang, Blora) di Pendopo Kabupaten Blora, Senin (25/4). foto istimewa
Gubernur Ganjar Pranowo saat memimpin Musrenbang di wilayah Wanarakuti (Juwana, Jepara, Kudus, Pati) dan Banglor (Rembang, Blora) di Pendopo Kabupaten Blora, Senin (25/4). foto istimewa

BLORA, MAGELANGEKSPRES.COM Forum anak, perwakilan perempuan dan penyandang disabilitas merupakan tiga komunitas yang selalu dilibatkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dalam pembangunan. Setiap Musrenbang, tiga kelompok itu yang memiliki hak menyampaikan pendapat urutan pertama.

Setiap Musrenbang, banyak masukan dan usulan dari tiga kelompok ini yang masuk ke Ganjar. Seringkali, masukan dan usulan itu langsung direspon Ganjar dengan cepat.
Seperti saat memimpin Musrenbang di wilayah Wanarakuti (Juwana, Jepara, Kudus, Pati) dan Banglor (Rembang, Blora) di Pendopo Kabupaten Blora, Senin (25/4). Dalam kesempatan itu, seorang perwakilan forum anak bernama Yani, menyampaikan ke Ganjar tentang maraknya pernikahan anak. Bahkan menurut siswa SMAN 1 Ngawen ini, sepanjang tahun 2022 ada 15 anak yang melakukan pernikahan dini di desanya.

“Di desa saya banyak teman-teman yang menikah dini. Di tahun ini, sudah ada 15 anak menikah dini. Rata-rata, usianya masih 12-15 tahun Pak,” kata Yani.

Yani mengatakan, banyak diantara mereka menikah karena tuntutan ekonomi keluarga. Orang tua mereka menikahkan anak-anak itu karena kemiskinan.
“Kalau tidak dinikahkan, jadi beban keluarga. Makanya akhirnya mereka dinikahkan ke orang yang lebih tua pak, yang lebih mapan,” ucapnya.

Yani meminta Ganjar untuk membantu menyelesaikan persoalan itu. Menurutnya, pernikahan anak harus dicegah untuk kebahagiaan dan masa depan anak-anak.

“Kami minta diberikan pelatihan pak, editing film, pelatihan menjahit, pelatihan lain agar kita punya skill dan bisa menopang ekonomi keluarga. Kami juga minta diberikan pendidikan tentang reproduksi atau seks education di sekolah agar lebih paham,” ucapnya.
Ganjar cukup terkejut dengan laporan Yani. Ia pun langsung meminta Dinas Perempuan dan Anak untuk turun dan memberikan pelatihan pada anak-anak di desa tersebut.

“Saya minta nomor telponmu ya, nanti biar dinas saya langsung turun. Kamu kumpulkan teman-teman kamu yang siap dilatih, nanti akan kami berikan pelatihan,” kata Ganjar.
Ganjar bangga melihat anak-anak begitu aware pada persoalan yang mereka hadapi. Mereka berani berbicara dan mengkampanyekan soal itu.

“Anak-anak itu peduli pada temannya, khususnya soal pernikahan dini. Bahkan mereka dinikahkan karena alasan ekonomi orang tua. Bahkan yang menjadi keresahan kita, usianya ada yang 12 tahun lho,” ucapnya.

Ganjar mengatakan, gerakan Jo Kawin Bocah memang menjadi program yang terus digenjot. Ia akan terus menggencarkan sosialisasi dan pendekatan termasuk masuk ke sekolah untuk mengajarkan tentang pendidikan reproduksi.

“Kita akan kerjasama dengan BKKBN, Dinkes dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk masuk ke sekolah dan desa-desa untuk melakukan sosialisasi dan edukasi. Termasuk tadi anak-anak minta difasilitasi pelatihan, tentu akan kami penuhi,” katanya.

Ganjar menghimbau kepada masyarakat khususnya orang tua untuk lebih peduli. Apa yang dilaporkan forum anak dalam Musrenbang tersebut menjadi warning bagi orang tua, agar kita lebih peduli pada anak-anak.

“Kita dituntut memberikan kepercayaan diri pada anak-anak. Berikan semangat pada mereka untuk mendapatkan cita-citanya. Gerakan Jo Kawin Bocah harus terus kita gaungkan agar bisa diterima dan dipahami oleh masyarakat banyak,” pungkasnya. (hms/rls)