HPN 2021, Penyair Es Wibowo Bacakan “Warta Corona”

WARTA CORONA. Penyair asal Kota Magelang, Es Wibowo membawakan puisi berjudul "Warta Corona" di Kali Kota, sebagai peringatan HPN tahun 2021,

MAGELANGEKSPRES.COM,MAGELANG UTARA – Saat ini media sosial sudah menjadi salah satu sumber utama informasi lantaran punya kecepatan hingga mengakomodasi secara bebas interaksi para pembacanya. Sayangnya, kebebasan itu membuat potensi berita bohong atau hoaks lebih mudah menyusup, dibandingkan dengan media arus utama yang lebih kredibel.

Hal itu dikatakan Budayawan sekaligus Penyair asal Kota Magelang, Es Wibowo, saat memperingati Hari Pers Nasional (HPN) di Kali Kota, Potrosaran, Potrobangsan, Kota Magelang, Senin (8/2).

Dengan nada bergetar, penyair ES Wibowo mendeklamasikan pusi “Warta Corona”di atas Panggung Bengung Kali Kota. Puisi ini khusus dibuat untuk wartawan yang bertugas di Kota Magelang dan di Indonesia pada umumnya.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, penyair asal Kota Sejuta Bunga ini hanya sendirian membacakan puisi. Padahal, biasanya ia didampingi pentas kesenian dan orasi budaya dari akademisi.

“Karena pandemi, sehingga kami hanya memperingati HPN dengan sederhana, tapi konsistensi tetap terjaga sejak 7 tahun lalu. Tahun ketujuh ini spesial, karena di tengah situasi Covid-19 yang mewabah,” kata Es Wibowo.

Baca Juga
Jalan Temanggung-Kendal Kerap Makan Korban, Kondisinya Rusak Parah

Dia menuturkan, puisi ini dibuat dalam waktu cukup lama sejak bulan April 2020 lalu dan selesai Januari 2021. Lamanya waktu penciptaan ini karena membutuhkan kontemplasi mendalam terkait kondisi saat ini, terutama yang dialami masyarakat, khususnya wartawan.

“Melalui puisi ini, penyair ingin menerjemahkan watak dan sikap dari wartawan. Paling menonjol wartawan itu sebagai cendekiawan. Fungsinya selalu hadir di masyarakat, terutama saat ada masalah yang harus diselesaikan, wartawan hadir memberikan solusi,” katanya.

Wartawan, kata Pimpinan Padepokan Tidar ini, merupakan profesi yang berwibawa. Ia pun menuliskannya dalam puisi tersebut di baris ketiga bait pertama, yakni “Talingane Landhep Sumping Karna” (Pendengarannya tajam berwibawa). Wartawan juga sebagai profesi kemanusiaan dalam bait “Tahtane Kanggo Jalma Manungsa” (Profesinya untuk kemanusiaan).

Artikel Menarik Lainnya :  Cegah Klaster Sekolah, DPRD Kota Magelang Minta PTM Dievaluasi

“Wartawan itu ibarat sumping raja, karena pendengarannya tajam dan ucapannya juga dekat sekali dengan telinga. Sedangkan mahkota seorang wartawan itu adalah rakyat. Ini yang menjadikan wartawan sebagai profesi intelektual, cendekiawan, tidak semua orang bisa menjadi wartawan,” jelasnya.

Di tengah situasi sekarang ini, ia melihat, kecenderungan masyarakat yang lebih suka membaca media sosial. Hal ini pun membuat rasa keprihatinan tersendiri bagi Es Wibowo. Apalagi, ia adalah pelaku yang pernah mengalami pers ketika dikebiri, kemudian terbuka di masa reformasi, dan sekarang terkalahkan akibat pesatnya media sosial.

“Tulisan wartawan dengan tulisan orang awam itu akan sangat berbeda. Karena wartawan menggali sesuatu itu dari dalam, lalu dituangkan di permukaan. Sedangkan pelaku media sosial, kebiasaan hanya melihat apa yang terjadi di permukaan, tanpa mengetahui latar belakang di balik semua itu,” ungkapnya.

Lebih parah lagi, lanjut Es Wibowo, penggunaan media sosial seolah sekarang sudah kebablasan. Jika pers memiliki batasan atau koridor yakni UU Pers dan kode etik, tapi media sosial tidak ada yang mengaturnya.

“Itulah kenapa hoaks itu banyak tersebar di media sosial. Urusan lain yang menurut saya kemunduran informasi, tatkala seorang pengunggah media sosial salah kutip maka dia cukup menghapus unggahannya. Berbeda dengan pers, ketika diciptakan sebuah informasi itu, melekat di dalamnya adalah tanggung jawab yang besar,” ucapnya.

Ia pun mengkritik, pengguna media sosial yang hanya menduplikasi informasi dari media massa maindstream kemudian diunggah untuk menarik perhatian warganet. Dengan begitu, akun-akun media sosial ini akan “kebanjiran” orderan iklan.

“Usaha mereka tidak lebih dari sekadar mengunggah ulang, bukan menciptakannya. Dia bahkan tidak tahu, ketika meliput itu usaha wartawannya seperti apa. Kadang harus menunggu lama, panas-panas, kehujanan, ini ada yang cukup dari telepon genggamnya bisa mendapat keuntungan dari usaha yang dibuat wartawan,” tandasnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Hari Pertama PTM, Siswa SMP Mutual Langsung Ujian

Dia merasa bahwa profesi wartawan sangatlah mulia. Untuk itu, dia meminta pegiat media sosial supaya sama-sama menghargai profesi ini.

“Sekali lagi bahwa wartawan adalah telinga dan mata masyarakat. Oleh karena itu, hargailah wartawan,” pungkasnya. (wid)