Hingga Akhir Tahun Nihil Agenda Kebudayaan, 86,5 Persen Anggaran Dialihkan Penanganan Covid-19

DINAS. Kantor DinasPendidikandanKebudayaan Kota Magelangterletak di Jalan Ali Basah
DINAS. Kantor DinasPendidikandanKebudayaan Kota Magelangterletak di Jalan Ali Basah

MAGELANGEKSPRES.COM, MAGELANG – Agenda kebudayaan dan kesenian di Kota Magelang, Jawa Tengah hingga akhir tahun 2020 terpaksa dibatalkan. Itu tidak lain dampak dari pandemi covid-19 yang melarang adanya kerumunan. Besaran anggaran yang telah disusun pun dialihkan untuk penanganan virus tersebut.

“Sehingga tidak hanya bulan Juni. Sampai akhir tahun 2020 (Desember) Kota Magelang tidak ada pentas seni,” kata Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Magelang, Sugeng Priyadi (50), ketika ditemui di kantornya kemarin (4/8/2020).

Anggaran pentas seni, festival maupun pameran di kota yang mencangkup tiga kecamatan ini dialihkan untuk anggaran penanganan covid-19 atau corona. Total yang dialihkan mencapai 86,5 persen. Hal itu dikarenakan kebijakan dari pemerintah pusat untuk memotong anggaran minimal 50 persen. Pemotongan tersebut untuk bantuan kemasyarakatan.

“Seperti kebijakan yang pertama yaitu perlindungan berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan sembako untuk masyarakat terdampak pandemi,” tandasnya.

Dijelaskan, pemerintah berupaya agar tidak selamanya menggunkan kebijakan tersebut, sehingga sekarang muncul sebuah kebijakankedua. Yaitu, tahap pemulihan ekonomi. Unit-unit usaha dan sanggar sudah boleh beraktivitas dengan protokol kesehatan. Seiring dengan hal tersebut, timbul ini inisiatif dari seniman agar tetap berkarya dengan melakukan pentas online (live streaming) menggunakan Youtube dan dialog menggunakan Webinar.

“Sekarang masih dibahas terus oleh pemerintah mengenai penyelenggaraan kegiatan tersebut (live streaming). Kemungkinan akan dimulai pada September tahun ini,” tambahnya.

Bahkan untuk peringatan HUT RI besok dilakukan secara terbatas, Grebeg Getuk dicancel, kegiatan Paskibraka pun demikian. Jadi situasi sekarang fokus pada masalah kesehatan, sosial, dan ekonomi,” ujarnya.

Saat diwawancara, Sugeng membenarkan adanya kegelisahan emosional para seniman terkait terhentinya kegiatan seni yang biasa dijalani. Berbagai pihak yang tergabung dalam bidang seni pun merasakan adanya masalah terkait finansial. Terkait dengan hal tersebut, pemerintah sedang mendiskusikan solusi yang tepat bagi masalah tersebut.

Artikel Menarik Lainnya :  Borobudur Marathon 2021 Powered by Bank Jateng Digelar dengan Prokes Ketat

“Untuk dampak yang disampaikan seniman, memang betul bagi seniman yang biasanya kegiatan itu tiba-tiba terhenti. Di sini tidak hanya seniman, tapi juga ada pekerja seni. Seperti orang-orang yang menangani pernikahan yang mengalami keterbatasan. Tapi ada beberapa solusi dari kami yang salah satunya pentasseni online tadi,” terang Sugeng.

Pandemi corona merupakan hal yang tidak bisa diprediksi manusia. Karena itu masalah virus ini yang berimbas pada kesenian dianggap sebagai masa pacekliknya para seniman. Namun dari fenomena tersebut, banyak dari sisi seniman yang berupaya agar tetap dapat berkarya. Sedangkan dari sisi pemerintah memberi bantuan untuk mereka agar tetap tercukupi juga memberi ruang untuk berekspresi.

“Kreativitas seniman itu contohnya ada Nyawer Kasunyatan, jadi mereka di sini seperti mengamen. Berkarya untuk menghibur orang-orang kemudian yang menonton memberi imbalan, baik berupa sponsor maupin individual. Hal itu yang diharapkan seniman, namun imbalan tersebut jelas tidak sebesar jika mereka pentas seperti normal dulu. Tapi itulah upaya untuk mempertahankan kehidupan,” jelasnya.

Sugeng menuturkan bahwa ada UU Pemajuan Kebudayaan yang di dalamnya terdapat banyak hal yang akan dikembangkan. Namun karena adanya pandemi, hal tersebut menjadi tersendat. Sehingga proses pemajuan kebudayan masih panjang untuk dirintis. Semua orang termasuk seni mandi harapkan untuk berpikir positif untuk kemajuan budaya dan ekonomi itu sendiri.

“Sampai Desember ini memang kita tidak ada anggaran untuk kesenian karena difokuskan untuk covid. Tapi, 2021 nanti sudah kita fokuskan lagi untuk kegiatan seperti dulu. Hasil karya seniman yang tersimpan di media-media nantinya akan dijual ke masyarakat di depan publik jika sudah pulih seperti sedia kala,” pungkasnya. (pkl5/pkl3)