Heboh, Permasalahan Desa Wadas Jadi Soal TUC SMP di Purworejo, Puluhan Warga Protes Datangi Dindikbud

KLARIFIKASI. Warga Desa Wadas datangi Dindikbud Purworejo untuk mengklarifikasi beredarnya soal TUC yang menyinggung konflik Wadas, kemarin.(Foto: eko)
KLARIFIKASI. Warga Desa Wadas datangi Dindikbud Purworejo untuk mengklarifikasi beredarnya soal TUC yang menyinggung konflik Wadas, kemarin.(Foto: eko)

PURWOREJO, PURWOREJOEKSPRES.COM Puluhan warga Desa Wadas Kecamatan Bener mendatangi Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purworejo, Kamis (24/3).

Kedatangan mereka untuk menyampaikan kekecewaan terhadap masuknya konflik penambangan batuan andesit secara terbuka (Quarry) di Desa Wadas, dalam soal Tes Uji Coba (TUC) Ujian Sekolah Kelas IX SMP Tahun Pelajaran 2021/2022.

Siswanto (30), salah satu warga Desa Wadas, menyebut saat ini warga Desa Wadas masih dalam posisi panas dengan adanya konflik penambangan. Dengan adanya soal seperti itu, warga makin merasa resah karena yang disampaiakan dalam soal tersebut juga berbeda dengan keadaan real di desanya.

“Kita merasa sektor pendidikan ini sudah tidak tepat, sudah melenceng, sepertinya ini perlu diluruskan,” katanya.

Sebagai warga, dirinya akan dengan terbuka menerima permintaan maaf dari dinas maupun dari pembuat soal. Akan tetapi, pihaknya juga menegaskan agar masalah ini diusut tuntas dan diselesaikan secara baik.

“Kita meminta dari dinas ada sikap tegas untuk menyelesaikan apa yang menjadi keresahan warga,” jelasnya.

Warga lain, Umam (25), menyampaikan bahwa para warga mendatangi Dindikbud karena resah terkait adanya soal TUC yang beredar di SMP se-Purworejo. Menurutnya, soal itu memuat masalah Wadas, tetapi pembuat soal mengambil dari sumber yang kurang tepat.

“Di dalam soal itu sangat merugikan kami (warga penolak tambang), kami ke sini juga meminta kepada dinas mengusut tuntas siapa saja yang membuat soal, apakah ada kesengajaan dan motifnya itu apa. Kemudian juga kami minta dinas menyebar surat edaran ke seluruh SMP untuk memberikan fakta sebenarnya yang terjadi di Wadas, kami minta pertanggungjawaban secara baik-baik,” ungkapnya.

Kadindikbud Purworejo, Wasit Diono, menyatakan bahwa proses pembuatan soal ini berawal dari rapat Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS). Setelah itu, MKKS menunjuk tim pembuat soal yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

“Lalu soal itu dilaporkan ke MKKS untuk difilter, yang jelas awalnya itu tidak tahu jika akan terjadi seperti ini, akan berdampak meresahkan masyarakat, tidak berpikir sampai di situ,” katanya.

Lebih lanjut diterangkan bahwa pihaknya tidak tahu-menahu mengenai pembuatan soal tersebut. Dalam pembuatan soal ini yang menjadi filter adalah MKKS, setelah soal dibuat oleh MGMP. Oleh karena itu, dalam hal ini yang bertanggungjawab adalah dari MKKS. Namun, karena kejadian ini di bawah naungan Dindikbud, maka dinas juga tidak akan tangan. Sebaliknya, akan ada langkah pembinaan.

“Dari dinas tidak ada yang tahu itu karena memang soal itu rahasia, kalau saya tahu malah jadi cacat hukum, artinya soal yang rahasia jadi tidak rahasia,” terangnya.

Pihaknya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan lagi. Pihaknya juga akan melakukan pembinaan terhadap tim penyusun soal.

“Kedepannya agar lebih hati-hati, kita sudah klarifikasi bahwa tidak ada maksud apapun dengan soal itu, tapi kami juga akan menyelidiki apakah ada kepentingan politik dalam pembuatan soal ini, jika ada akan langsung ditegur dan ada sanksi,” tandasnya.

Ketua MKKS SMP Kabupaten Purworejo, Nikmaturrahmah, menyebut sejak dahulu mekanisme pembuatan soal memang melalui MGMP yang mana berada di bawah tanggung jawab dinas.

“Di MGMP sudah kami bentuk tim sesuai Mapel yang bersangkutan, untuk yang masalah soal ini, di kurikulum sekarang kami dituntut membuat soal yang HOTS (Higher Order Thinking Skills), soal itu memberikan stimulus bagi anak untuk berpikir kritis dan kekinian, maka dibuatlah soal itu. Anak-anak dilatih untuk respect dengan lingkungan yang terkini, yang masih hangat,” jelasnya.

Pihaknya mengatakan bahwa seorang pendidik tidak mungkin akan melihat dari ranah politik dalam membuat soal. Pihaknya yakin para guru sudah kredibel dalam pembuatan soal.

“Tapi kemungkinan karena masih ada masalah di Desa Wadas, kami juga tidak tahu masalah Wadas seperti apa, kami netral, seorang guru tidak mengurusi permasalahan itu, dan memang tidak tahu kami, hanya sebatas yang kekinian kok munculnya ini, dan soal yang diangkat juga ada sumbernya, ranah kami hanya itu” paparnya.

Kendati demikian, lanjutnya, jika sekarang terjadi persoalan semacam ini, maka menjadi pembelajaran bagi para pembuat soal.

“Ini pembelajaran yang baik bagi kami, kami akan memilih soal yang tidak menimbulkan keresahan masyarakat, kami juga minta maaf sesuai dengan arahan atasan,” tandasnya. (top)