Hasil Survei MTCC Unimma, Petani Tembakau Rugi Besar

PEMAPARAN. MTCC Unimma memaparkan hasil survei dampak Covid-19 pada petani tembakau, 
PEMAPARAN. MTCC Unimma memaparkan hasil survei dampak Covid-19 pada petani tembakau, 

MAGELANGEKSPRES.COM,MAGELANG -Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) melakukan survei kepada petani tembakau saat pandemi Covid-19. Ketua MTCC Unimma Retno Rusdjijati mengatakan pandemi Covid 19 ternyata membawa dampak di berbagai sektor kehidupan, salah satu sektor yang terdampak adalah petani tembakau. MTCC memaparkan hasil survei kondisi petani tembakau di Kabupaten Magelang. Survei yang dilakukan pertama pada masa Covid-19 mendapatkan hasil bahwa petani tembakau mengalami kerugian yang sangat besar. Survei dilakukan kepada 40 petani di Kabupaten Magelang dan Temanggung “Dari masing-masing kabupaten kami ambil 4 kecamatan jadi ada 8 kecamatan yang kami lakukan surve. Harga tembakau yang tadinya Rp 7500/kg pada masa pandemi ini merosot menjadi Rp 2500/kg, itupun tidak banyak pembeli yang mencari,”tutur Retno saat menyampaikan hasil memaparkan hasil riset yang dilakukan MTCC, Kamis (3/9) di Balai Desa Candisari, Kecamatan Windusari.

Dalam acara tersebut juga mengundang para petani tembakau untuk menyampaikan permasalahan yang dihadapi selama masa pandemi. Retno mengaku akan memberikan bantuan kepada petani dengan menanyakan kepada pemerintah daerah maupun Kementrian yang berwenang. “Kami dari MTCC berupaya akan bekerjasama kepada pihak-pihak yang dapat membantu para petani. Seperti pendampingan pembuatan pupuk organik ,” ujarnya.

Ibnu Hajar, salah satu petani dari Desa Bulu, Kecamatan Bulu Temanggung sangat mendukung adanya pendampingan pembuatan pupuk organik karena kelangkaan mendapatkan pupuk kimia. “Subsidi pupuk memang sekarang ini dibatasi, jika beli akan meningkatkan biaya produksinya sehingga solusinya adalah membuat sendiri. Apalagi pupuk organik ini akan juga untuk tanah,”katanya.

Baca Juga
15 Kecamatan di Kabupaten Magekang Terpapar Corona

Dengan adanya kerugian menanam tembakau para petani mulai berupaya untuk berpindah komoditas supaya tidak merugi. “Dengan menanam tembakau ini kami para petani sudah mulai menanam tanaman lain,”tukasnya.

Ketua FPMI, Istanto menyatakan bahwa polikultur adalah solusi untuk ketahanan pangan dan juga membantu meningkatkan kesejahteraan petani. Ia menjelaskan bahwa selain berkontribusi terhadap ketahanan pangan memfokuskan tanaman petani pada pangan juga bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Sebagai contoh banyak petani yang memadukan tanaman tembakau bahkan beralih secara total ke tanaman sayuran dan pangan karena alasan tersebut.

“Di Windusari petani yang berhenti menanam tembakau karena selalu merugi dan melakukan tumpangsari  dan diversifikasi sesuai dengan kondisi topografi tanah,” jelas petani tembakau di Windusari, Magelang itu.

Kini petani pun banyak yang menanam ubi jalar yang kualitasnya tidak kalah dengan ubi cilembu yang dinamakan ubi Madusari. Bahkan sudah masuk pasar ekspor. Selain itu juga kopi dan teh.”Hasil ubi jalar sudah masuk ke Malaysia dan Singapura, banyak petani di Windusari yang memilih ubi jalar karena proses budidaya yang tidak banyak membutuhkan biaya,” ungkapnya.(hen)