Hasil Panen 7 ton lebih, Bawang Kapencar Wonosobo Lampaui Rata-rata Produksi Nasional

BAWANG. Wabup Wonosobo Gus Albar hadiri panen bawang putih di Desa Kapencar Kecamatan Kertek.
BAWANG. Wabup Wonosobo Gus Albar hadiri panen bawang putih di Desa Kapencar Kecamatan Kertek.

WONOSOBO, MAGELANGEKSPRES.COM Hasil panen bawang putih petani Desa Kapencar Kecamatan Kertek mampu melampaui rata-rata nasional. Satu hektar lahan mampu menghasilkan 7,97 ton. Sementara rata-rata produksi nasional berkisar di 6 ton per hektar.

“Panen bawang putih di Desa Kapencar, cukup bagus, dan melihat hasilnya. Ini diatas rata-rata nasional yaitu mendapatkan hasil 7,97 ton per hektar. Sementara rata-rata produksi nasional itu adalah 6 ton perhektar,” ungkap Kabid Hortikultura, Dinas Pangan Perikanan dan Pertanian (Dispaperkan) Kabupaten Wonosobo, Sumanto saat panen bawang putih di lahan Food Estate Desa Kapencar, Kamis (24/3).

Menurutnya momen ini cukup menggembirakan. Selain hasil panen yang baik, juga ditambah lagi dengan adanya jaminan harga dari pihak off taker sebagai mitra kelompok tani yang ada, dengan menjamin harga terendah namun bisa memberikan keuntungan bagi para petani tersebut.

“Dengan hasil ini diharapkan pendapatan petani juga lebih meningkat, karena dari para off taker sendiri juga sudah menjamin harga terendah tujuh ribu rupiah, dari harga terendah tujuh ribu ini para petani sudah bisa mendapatkan keuntungan yang lumayan,” katanya.

Sumanto mencontohkan dari lahan 1.600 m² yang dipanen, perhitunganya menghasilkan 1,27 ton. Jika dihitung dengan harga terendah Rp 7.000, maka dapat memperoleh hasil sebesar Rp 8.890.000. Sementara prediksi biaya tanam yang dikeluarkan petani berkisar Rp6 juta. Jadi masih bisa mendapatkan keuntungan kurang lebih sebesar Rp3 juta.

“Dari lahan 1.600 m², taksasi hasil kita mendapatkan 1,27 ton dengan harga Rp 7.000. Tadi maka akan diperoleh hasil Rp 8 juta lebih, sementara prediksi biaya tanam tadi 5 sampai 6 juta rupiah. Jadi masih bisa mendapatkan keuntungan kurang lebih sebesar 3 jutaan,” katanya.

Sementara itu, anggota  kelompok tani Semangat Karya, Slamet menyampaikan keluhan terhadap kestabilan harga yang dialami para  petani saat ini. Harga justru terus mengalami penurunan. Sehingga petani masih ragu untuk kembali menanam bawang putih.

“Kami ingin harga seperti dulu, sebab wilayah desa kami merupakan sentra bawang, namun karena harga tidak pasti, petani kemudian ragu menanam, harus ada patok harga, pangan naik turun,” pintanya.

Menanggapi hal ini, dari Kementerian Pertanian Hanang Dwi Atmojo menerangkan, keunggulan program food estate ini adalah salah satunya untuk mencari solusi terkait hal tersebut. Khusus food estate di Wonosobo dan Temanggung ini, bekerja antara petani dan off taker. Disitulah fungsi pemerintah, baik pusat maupun daerah hanya sebagai penengah.

“Kiita bekerja berdasarkan perjanjian kerjasama yang sudah ditulis disitu berapa harga. Nah disitulah pembedanya sehingga hal yang menjadi permasalahan di petani terkait dengan stabilisasi dan kepastian harga itulah yang diusung oleh program food estate ini. Karena itu kami harap Pemkab bersama kami yang di Pusat untuk mengawal program tersebut,” katanya.

Wakil Bupati Wonosobo Muhammad Albar mengatakan bahwa jika ada kepastian harga komoditas hasil pertanian, kedepan akan banyak yang mengikuti program ini. Karena perhitungan yang dilakukan oleh petani sudah jelas.

“Kalau harga sudah ada kepastian, maka petani saya kira sudah tidak bingung lagi mau menanam apa saja, karena selama ini petani bingung ketika bertemu dengan permasalahan harga, jika ini bisa dijamin, saya yakin kedepan akan semakin banyak yang tertarik untuk mengikuti program ini,” pungkasnya. (gus)