Hari Jadi ke-191 Purworejo, DPRD Berikan Catatan Reflektif

Hari Jadi ke-191 Purworejo, DPRD Berikan Catatan Reflektif
PENTAS. Penari tradisional saat tampil dalam forum Rapat Paripurna Hari Jadi ke-191 Kabupaten Purworejo. Foto: lukman/Purworejo ekspres

PURWOREJO, MAGELANGEKSPRES.COM – Sejumlah catatan reflektif diberikan DPRD Kabupaten Purworejo dalam Rapat Paripurna dalam Rangka Peringatan Hari Jari ke 191 Kabupaten Purworejo yang digelar di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Purworejo, Minggu (27/2). Catatan tersebut dibacakan oleh Ketua DPRD Kabupaten Purworejo, Dion Agasi Setiabudi SIKom MSi yang memimpin rapat paripurna tersebut.

Disampaikannya, di usianya yang ke-191 ini, sudah selayaknya DPRD Kabupaten Purworejo yang menjadi partner pemerintah daerah dengan tugas yang diembannya untuk melakukan pengawasan dan mengawal kinerja pemerintah memberikan catatan sebagai bahan introspeksi dan restropeksi agar Kabupaten Purworejo ke depan semakin baik.

Dalam bidang ekonomi, DPRD Kabupaten Purworejo memberikan apresiasi kepada pemerintah daerah atas dibangunnya pusat perekonomian yang baru di wilayah Purworejo yakni Pasar Purworejo. Namun demikian, pemerintah daerah juga harus terus melakukan pemetaan dan penataan pasar-pasar daerah lainnya agar terjadi pemerataan ekonomi di Kabupaten Purworejo. “Hal ini penting untuk dilakukan agar roda perekonomian di wilayah Kabupaten Purworejo dapat berputar dengan baik. Transaksi ekonomi antara pembeli dengan penjual juga dapat berjalan dengan lebih nyaman,” tandasnya.

Dion menambahkan, DPRD Kabupaten Purworejo menyatakan keprihatinannya terhadap bidang pertanian di Kabupaten Purworejo. Dalam bidang ini, pemerintah daerah disebut masih memiliki pekerjaan rumah untuk memberikan kebijakan yang berpihak kepada para petani. Dikatakannya, yang dirasakan petani saat ini adalah tingginya angka operasional yang tidak sebanding dengan hasil panennya. “Perlu langkah-langkah konkrit dari kita semua untuk mengatasi problem ini. Selain itu, persoalan regenerasi petani juga harus kita pikirkan bersama agar generasi penerus kita mau terjun di bidang pertanian,” ungkapnya.

Terkait pariwisata, Dion mengatakan bahwa sejak pandemi melanda, dunia pariwisata seperti mati suri. Namun akhir-akhir ini, ia melihat situasinya mulai berubah seiring adanya tren positif di dunia pariwisata. Problem yang dihadapi saat ini antara lain kebutuhan infrastruktur dan akses yang representatif serta sarana promosi yang efektif agar dapat menjangkau kunjungan wisata di Purworejo baik dari dalam maupun luar negeri.

“Dari sisi pendidikan, kita semua perihatin bahwa sejak dua tahun terakhir dunia pendidikan kita berjalan dengan tidak normal karena pendidikan tidak dapat dilakukan dengan model tatap muka akibat pandemi yang melanda. Saat ini, pendidikan tatap muka mulai berjalan normal kembali. Namun harus kita waspadai bersama adalah pengawasan protokol kesehatan yang ketat di lingkungan sekolah agar kegiatan tatap muka tersebut aman dilaksanakan untuk para pelajar maupun guru-gurunya,” katanya.

Kepada pemerintah daerah, Dion mewanti-wanti agar aset milik pemerintah daerah dapat lebih dioptimalkan untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat maupun meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Misalnya, bangunan-bangunan SD yang mangkrak maupun eks lahan Plaza Purworejo serta sejumlah aset lainnya. “Kedepan harus lebih dioptimalkan agar mampu menyumbangkan pendapatan bagi daerah,” katanya.

Di akhir catatannya, Dion menyebut salah satu PR penting bagi pemerintah daerah adalah Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan Bener. Menurutnya, hal tersebut harus menjadi perhatian serius bagi eksekutif maupun legislatif agar proyek tersebut dapat berjalan dengan lancar namun tidak memberikan kerugian bagi masyarakat yang terdampak. (luk)