Harganya Lebih Murah, Emak-emak di Temanggung Berburu Minyak Goreng Curah

Harganya Lebih Murah, Emak-emak di Temanggung Berburu Minyak Goreng Curah
Salah seorang pembeli tengah berada di kios sembako di Pasar Kliwon Rejo Amertani Temanggung yang kini telah memiliki stok minyak goreng kemasan cukup melimpah. Foto: rizal ifan chanaris.

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Melambungnya harga minyak goreng kemasan di pasaran yang menyentuh angka Rp 24.000 hingga Rp 25.000 per liter membuat amak-emak di Temanggung secara perlahan bermigrasi atau beralih memburu minyak goreng curah.

Selain lebih ekonomis karena dari segi harga selisihnya lumayan jauh, mayoritas dari mereka menganggap bahwa kualitas minyak goreng curah tidak kalah jika dibandingkan minyak goreng kemasan beragam merek.

“Minyak goreng kemasan sekarang harganya bisa Rp 50.000 ukuran 2 liter. Bagi kami ibu rumah tangga berat sekali. Dulu sebelum harganya naik dan langka paling cuma Rp 24.000 sampai Rp 26.000 untuk ukuran 2 literan. Lha mending minyak goreng curah yang harganya per kilo paling Rp 16.000. Sama saja buat menggoreng, dulu sebelum banyak dijual minyak goreng kemasan kita juga pakai minyak goreng curah,” ungkap Ernawati (53), salah seorang pembeli di Pasar Kliwon Rejo Amertani Temanggung, Kamis (24/3).

Senada, Irianto (55) pengunjung pasar lain asal Kecamatan Temanggung saat diwawancara mengaku dengan adanya kenaikan harga minyak goreng kemasan seperti ini, dirinya akan lebih memilih memasak menggunakan minyak goreng curah yang harganya jauh lebih murah.

“Kalau minyak kemasan kan memang lebih jernih, beda kalau minyak goreng curah. Warnanya lebih kuning muda dan ada semacam endapan putihnya. Dan biasanya dikemas dalam kantong-kantong plastik putih. Cuma seperti itu bedanya. Kalau buat memasak atau menggoreng ya hasilnya sama saja. Apalagi kalau ngecer di warung-warung kelontong bisa beli setengah atau seperempat liter. Jauh lebih ekonomis,” imbuhnya.

Meski animo atau tingkat permintaan terhadap minyak goreng curah mulai menunjukkan peningkatan, namun stok atau pasokan di pasaran sendiri sampai sejauh ini masih terbilang kurang.

Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Kepala Disperindagkop dan UMKM Kabupaten Temanggung, Entargo Yutri Wardono belum lama ini. Ia menyebut, berdasar pantauan ke sejumlah titik, pihaknya menyimpulkan bahwa ketersediaan minyak goreng curah masih sangat minim.

Hal ini disebabkan oleh lambatnya distribusi oleh pabrik maupun distributor yang ada. Sejauh ini, rata-rata setiap pedagang hanya mendapatkan jatah sebesar 9 ton minyak goreng curah yang habis dibeli dalam waktu singkat oleh konsumen yang berasal dari kalangan UKM serta para pedagang kecil.

“Dari hasil pantauan kami ke sejumlah pedagang. Ketersediaan minyak goreng curah di tingkat pedagang masih sangat kurang. Di satu tempat saja, pasokan datang sebesar 9 ton langsung habis dibeli konsumen,” jelasnya.

Ia menambahkan, meski dalam SE Mendag terdapat ketentuan harga minyak goreng curah sebesar Rp 14.000 per liter atau Rp 15.500 per kilogram, namun di lapangan dijual seharga Rp 16.000 per kilogram dengan alasan minimnya pasokan yang datang.

Guna mengatasi permasalahan tersebut, pihaknya telah berupaya mengajukan permintaan kiriman pasokan minyak goreng curah dengan menyirati Disperindag Provinsi Jateng dan pihak distributor.

“Provinsi belum memberi jawaban, sedangkan distributor mengaku belum bisa menyediakan minyak goreng curah,” akunya. (riz)