Harga Minyak Goreng Kemasan Mahal, Jualan Minyak Jelantah pun Turun Dratis

Sugiyarto tengah menunggu penjual minyak goreng bekas atau jelantah di lapak usahanya, Lingkungan Punthuksari, Kelurahan Temanggung I, Kecamatan Temanggung.(Foto: rizal ifan chanaris.)
Sugiyarto tengah menunggu penjual minyak goreng bekas atau jelantah di lapak usahanya, Lingkungan Punthuksari, Kelurahan Temanggung I, Kecamatan Temanggung.(Foto: rizal ifan chanaris.)

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Mahalnya harga minyak goreng kemasan serta langkanya minyak goreng curah di berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Temanggung berdampak tak hanya pada kalangan rumah tangga, industri kecil, serta UKM. Namun juga pengepul minyak goreng bekas atau biasa disebut minyak jelantah.

Ya, usaha pengepulan minyak goreng jelantah milik Sugiyarto (36) di Lingkungan Punthuksari, Kelurahan Temanggung I, Kecamatan/Kabupaten Temanggung turut terdampak akibat mahalnya harga minyak goreng.

Ia mengaku, sebelum mahal dan langkanya minyak goreng, dirinya dapat mengepul atau membeli minyak goreng jelantah hingga 100 liter per hari seharga Rp 6.000 per liternya. Namun kini, semenjak meroketnya harga, per hari ia hanya mampu mendapatkan 50 liter saja per hari.

Sejak berdiri 4 tahun silam, sudah banyak pelanggan yang menjual sisa minyak goreng bekas kepadanya. Mereka antara lain berasal dari kalangan ibu rumah tangga, warung-warung, rumah makan, hingga restoran besar yang ada di seantero Kabupaten Temanggung.

“Ya pastilah Mas, sejak harga minyak goreng kemasan mahal, minyak curah juga langka, jumlah minyak jelantah yang masuk ke lapak saya berkurang sampai 50 persen. Soalnya mereka mulai mengirit penggunaan minyak goreng karena memang mahal,” ungkapnya, Rabu (6/4).

Menurutnya, tak hanya minyak goreng baru saja yang bermanfaat, bisnis ini ia pilih lantaran masih banyak pihak yang memburu minyak jelantah lantaran manfaatnya yang ternyata cukup besar. Yakni dijadikan sebagai alternatif bahan bakar olahan beruoa bio diesel.
Tak tanggung-tanggung, ternyata minyak jelantah ini menjadi komoditas ekspor dan dikirim langsung ke Negeri Kincir Angin atau Belanda.

“Ini saya kumpulkan, kalau sudah banyak saya kirim ke Semarang untuk kemudian diekspor ke Belanda. Karena memang minyak jelantah masih bisa diolah menjadi bahan bakar alternatif, yaitu bio diesel,” pungkasnya. (riz)