Harga Kedelai Impor Naik, Inilah Imbas bagi Pedagang Eceran di Temanggung

Harga Kedelai Impor Naik, Inilah Imbas bagi Pedagang Eceran di Temanggung
NAIK. Salah seorang pemilik kios sembako di Pasar Kliwon Rejo Amertani Temanggung tengah melayani permintaan kedelai jenis impor asal USA. Foto: rizal ifan chanaris.

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Para pedagang eceran di Kabupaten Temanggung mengaku cukup kerepotan dengan tingginya harga kedelai jenis impor asal Amerika yang terus meroket dalam beberapa hari terakhir. Hal itu menyebabkan daya beli masyarakat mengalami penurunan cukup signifikan.

Seperti yang diungkapkan Purwadi (60), salah satu pemilik kios bahan kebutuhan pokok di Pasar Kliwon Rejo Amertani Temanggung, Kamis (24/2). Ia mengaku kenaikan harga seperti ini sudah terjadi sejak sebulan terakhir.

“Sebelumnya harga kedelai impor dari Amerika hanya Rp10.000 per kilogram saya jual. Sekarang sudah Rp11.000 per kilogram. Seperti ini sudah terjadi sejak sebulan terakhir kira-kira,” ungkapnya.

Dengan kenaikan harga sekitar 10 persen itu, pedagang mengaku omzet jualan mereka menurun cukup drastis meski tidak bisa diprediksi secara angka pasti.

Purwadi menambahkan, meski harga terus meroket, namun sejauh ini pasokan yang berasal dari distributor masih aman. Artinya tidak ada pengurangan kuota atau bahkan istilah kelangkaan.

“Kalau masalah pasokan lancar dan aman gak ada perubahan. Setiap seminggu sekali saya dapat kiriman 9 ton kedelai impor. Dan selalu habis meski daya beli konsumen berkurang dengan naiknya harga itu. Dan gak tau juga kenapa naik, belinya naik ya saya jualnya juga ikut naik,” imbuhnya.

Kendati tidak tahu persis penyebab kenaikan harga, namun ia memprediksi kondisi itu sedikit banyak disebabkan juga oleh langkanya kedelai jenis lokal akibat jarang petani yang menanam.

Padahal, jika dinilai secara subjektif, kedelai lokal memiliki rasa yang lebih enak jika digunakan sebagai bahan baku utama membuat tahu. Sebaliknya, kedelai impor banyak digunakan untuk bahan baku pembuatan tempe.

“Kedelai lokal sebenarnya lebih enak kalau buat tahu. Tapi barangnya yang sulit didapat di pasaran. Kalau yang impor biasa dijadikan bahan baku tempe karena lebih bersih dan melar terksturnya,” imbuhnya.

Atas kondisi ini, pihaknya berharap agar harga kedelai impor ke depan lebih stabil. Hal ini dikarenakan para pedagang menginginkan adanya jaminan menghindari fluktuasi pasar yang bisa memicu kerugian.

“Sekarang misal kita beli harga tinggi, tiba-tiba di pasaran harga kedelai turun. Kan pengecer kaya kami yang menanggung rugi. Kepinginnya sih harga stabil jadi ada kejelasan dan kepastian selama berdagang,” harapnya. (riz)