Harapan Warga PPKM Turun Level, Gelora Sanden Segera Dibuka Kembali

KUNJUNGAN. Walikota Magelang dr Muchamad Nur Aziz bersama kepala OPD terkait saat meninjau Gelora Sanden di Kelurahan Kramat Selatan, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang. (foto-foto : prokompim kota magelang)
KUNJUNGAN. Walikota Magelang dr Muchamad Nur Aziz bersama kepala OPD terkait saat meninjau Gelora Sanden di Kelurahan Kramat Selatan, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang. (foto-foto : prokompim kota magelang)

Kampung Tangguh Kota Magelang

KOTA MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.COM – MESKI sudah melandai kasus Covid-19, kedisiplinan protokol kesehatan masih jelas terlihat di Kota Magelang. Tidak hanya itu, Satgas Jogo Tonggo yang dibentuk di tiap RW pun masih aktif dan malah perannya lebih maksimal. Salah satunya di Kramat Selatan, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang. Kelurahan yang terkenal karena keberadaan Gelanggang Olahraga (Gelora) Sanden itu makin disiplin mencegah kemungkinan gelombang ketiga di Kota Magelang.

Hanya saja, masyarakat kini merasakan kerinduan adanya car free day (CFD) di Gelora Sanden, yang sudah setahun lebih ditutup untuk umum. Padahal, kompleks gelanggang olahraga tersebut juga memberikan dampak positif bagi warga, terutama yang memanfaatkan keramaian untuk berjualan.

Mayoritas para pedagang berharap keberadaan sarana dan prasarana olahraga itu, dapat memberikan keuntungan lagi bagi masyarakat sekitar. Terlebih, seiring dengan selesainya tahap pembangunan kolam renang Samapta Aquatic yang siap dibuka untuk umum pada tahun 2022 mendatang.

”Tidak harus CFD, tapi minimal bisa dibuka beberapa kegiatan di sini, sehingga masyarakat yang berjualan di sana bisa mendapatkan pendapatan lagi,” kata Warno, warga Rt 05 Rw 09 Kramat Selatan.

Dia mengaku, semenjak Stadion Moch Soebroto dijadikan markas tanding PSIS Semarang pada tahun 2019 lalu, banyak warga Sanden yang mulai banting setir menjadi pedagang. Namun, baru setahun mereka berdagang, pandemi keburu datang sehingga seluruh kegiatan olahraga dinonaktifkan. Para pedagang pun memilih untuk berjualan di tempat lain.

”Lingkungan mendapatkan berkah dari penyelenggaraan sepakbola dan juga kegiatan CFD. Tapi mau bagaimana lagi, sekarang sudah tidak ada yang dibuka. Sebagian pada pindah ke lapangan Rindam,” ungkapnya.

Para pedagang di kawasan Sanden pun mengaku tidak bisa berbuat banyak setelah CFD dan seluruh aktivitas olahraga di Gelora Sanden dinonaktifkan. Seperti yang diutarakan, Nur Chamid. Dia sudah menempati lapaknya sejak Januari 2019 lalu di sisi timur Stadion Moch Soebroto.

Artikel Menarik Lainnya :  Inilah yang Dilakukan Dosen Untidar saat Melakukan Pengabdian di Desa Sukosari, Bandongan...

”Tahun lalu sempat mencoba jualan pada hari Minggu saja, tapi tetap sepi. Akhirnya saya memutuskan untuk pindah dari sini,” ujarnya.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Magelang, Wulandari Wahyuningsih menyadari bahwa warga sekitar Gelora Sanden memang sangat terdampak akibat penutupan fasilitas olahraga itu selama setahun terakhir. Akan tetapi, kebijakan ini semata demi mencegah penyebaran Covid-19.

”Kami harus mengutamakan kesehatan masyarakat. Pada saatnya nanti kalau sudah siap, pasti akan dibuka kok,” tuturnya.

Ia menjelaskan jika PPKM Kota Magelang nantinya terus turun, menjadi level 2 atau 1, pihaknya akan langsung membuka fasilitas olahraga terbesar di Kota Magelang tersebut. Termasuk di antaranya membuka kembali Stadion Moch Soebroto dan kolam renang Samapta Aquatic.

”Kolam renang Samapta Aquatic ini sekaligus akan dilaunching, dan diperuntukkan juga untuk masyarakat umum. Ke depan arahan Pak Wali (Walikota Magelang dr Muchamad Nur Aziz) supaya jangan hanya atlet yang latihan di kolam renang ini, tapi masyarakat umum juga boleh di sini,” ungkapnya.

Bahkan, Wulan berencana membuat konsep kawasan kolam renang berstandard internasional tersebut untuk olahraga dan pariwisata. Menurut Wulan, fasilitas olahraga ini tidak hanya untuk meningkatkan prestasi atlet saja, lebih dari itu juga diharapkan bisa dimanfaatkan masyarakat secara umum. Misalnya, kolam renang suatu saat bisa menjadi tempat rekreasi keluarga.

“Saya izinkan UPT untuk studi banding di Jakarta yang katanya ada kolam renang yang memiliki pengaturan untuk kedalamannya. Jadi, saat kolam digunakan untuk latihan atlet diatur kedalamannya yang sesuai. Sebaliknya ketika dipakai masyarakat umum diatur juga kedalamannya yang pas,” jelasnya. (prokompim/kotamgl)