Gula Semut Wonosobo Tembus Ekspor ke Kanada dan India

Gula Semut Wonosobo Tembus Ekspor ke Kanada dan India
PANTAU. Wabup Gus Albar memantau produksi gula semut di dusun mendongan desa gondowulan kepil, gula semut tersebut sudah diekspor ke luar negeri

WONOSOBO, MAGELANGEKSPRES.COM – Gula semut asal Dusun mendongan Desa Gondowulan Kepil sudah tembus ekspor ke Kanada dan India. Terkait hal itu pemkab akan memperkuat pemetaan potensi produk tersebut sebagai salah satu komoditas andalan.

“Kami mengolah gula semut sejak 2016 lalu, bermula karena melihat potensi kelapa di sini sangat baik dan karena ini menjadi penghasilan satu-satunya bagi para petani, maka kami mempunyai ide untuk merubah menjadi gula semut agar harganya naik,” ungkap pengrajin gula semut asal Mendongan Desa Gondowulan Kecamatan Kepil, Siti Mungawanah.

Menurutnya, dari ide dan hasil kerja kerasnya tersebut sudah membuahkan hasil yang cukup menjanjikan. Dalam satu bulan ia mampu memproduksi 18 hingga 22 ton gula semut. Dan tercatat sejak tahun 2020 lalu sudah mengantongi sertifikasi dari Control Union (CU). Sehingga dari itu walaupun masih ikut sub ekspor ia berhasil menembus pasar ekspor ke Kanada dan India. Untuk nasional produknya juga masuk di dapur Paspampres 3 ton tiap bulan.

“Di tahun 2020 kami sudah kantongi sertifikat CU, dari usaha kecil-kecilan saya, walaupun masih ikut sub ekspor namun kami sudah bisa berhasil produksi 28 hingga 22 ton per bulan, sehingga gula semut kami sudah bisa tembus ekspor ke Kanada dan India, dan untuk nasional kami rutin mengirim ke dapur paspampres,” katanya.

Pihaknya menambahkan, gula semut ini berbahan baku dari gula kelapa yang diambil dari para petani yang sudah bermitra dengan koperasi produsen miliknya, yakni ada 362 orang petani. Dan kesemuanya telah mendapatkan sertifikasi lahan, EU dan USDA dari CU, yang memastikan lahan tersebut memenuhi syarat karena lahan organik, sehingga gula cetak hasil produknya dijamin sehat karena tanpa bahan campuran.

“Kami mempunyai petani binaan sebanyak 362 orang yang menjadi pemasok gula sebagai bahan baku. Semuanya ikut disertifikasi EU dan USDA, yang jelas organik, sehingga gula cetak dari mereka jelas sehat karena organik tanpa bahan campuran apapun, jika terdeteksi ada campuran maka tidak lolos uji untuk diekspor,” ucapnya

Sementara itu, Wakil Bupati Wonosobo Muhammad Albar yang berkesempatan menghadiri pertemuan koperasi produsen gula semut se-Jateng, di desa Gondowulan Kecamatan Kepil. Mengapresiasi para produsen gula semut tersebut karena mayoritas anggotanya adalah kaum muda.

“Saya greget sekali, karena para produsen gula semut yang tergabung di Jawa Keren ini adalah petani milenial, kaum muda, karena saat ini mencari petani yang usianya 40 tahun kebawah itu sangat sulit, namun di sini terlihat cukup cerah karena isinya kebanyakan kaum milenial,” katanya.

Wabup menegaskan usaha seperti ini harus terus dipupuk dan ditingkatkan, karena semangat ini bisa mendorong untuk berdaya, maju, mandiri dan lebih berdaya saing sehingga kekompakan dan kebersamaan bisa mewujudkan harapan para anggota dan bermanfaat terhadap masyarakat umum.

“Karena ini akan memberdayakan semua untuk lebih berdaya, maju, mandiri dan lebih berdaya saing, sehingga dengan kebersamaan dan kekompakan seperti ini kedepan insyaallah apa yang menjadi harapan kita akan terwujud dengan baik,” katanya.

Menurutnya, karena sudah masuk pasar ekspor, maka harus memenuhi beberapa faktor yang harus diperhatikan yaitu kualitas kuantitas dan kontinuitas serta komitmen. Gus Albar juga minta agar dilakukan peremajaan, dengan mengganti varian baru pohon kelapa, dengan bibit genjah entok yang tumbuh tidak terlalu tinggi.

“Karena ini sudah masuk pasar ekspor, jadi harus dipenuhi beberapa faktor, yaitu kualitas, kuantitas, kontinuitas dan komitmen, sehingga gula semut yang aman dan sehat untuk siapapun ini lebih mendunia dan lebih digandrungi, saya harap adanya perubahan dengan peremajaan dengan mengganti varian kelapa genjah entok,” pungkasnya.(gus)