Gogoh Iwak Jadi Perekat Silaturahmi di Masa Pandemi

    BEREBUT. Warga Desa Megulung Lor Kecamatan Pituruh berebut ikan dalam tradisi Gogoh Iwak di sungai depan balai desa setempat, kemarin.

    MAGELANGEKSPRES.COM,Pandemi Covid-19 yang dialami masyarakat sejak setahun terakhir menjadi sekat dan penghalang untuk bersilaturahmi antar sesama warga. Namun, warga Desa Megulunglor Kecamatan Pituruh memiliki tradisi unik yang sudah turun temurun dilakukan untuk memperkokoh tali silarutahmi antar warga. Meskipun virus Covid-19 masih saja mengancam, tradisi gogoh iwak tersebut tetap digelar dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

    Waktu menunjukkan pukul 08.00 pagi. Embung atau kedung di depan Balai Desa Megulunglor tampak sudah penuh dengan warga yang berduyun-duyun dari segenap penjuru desa. Jumlahnya ratusan. Tua muda,  lelaki perempuan tampak antusias dengan segala perangkat untuk memburu ikan. Gogoh iwak, begitu warga desa yang berjarak 25an kilometer ke arah barat itu dari pusat kota Purworejo.

    Saat waktunya tiba, warga beramai-ramai turun ke kedung atau embung guna menangkap ikan atau gogoh ikan yang ada di embung itu. Penangkapan ikan secara massal itu merupakan tradisi rutin setiap tuga tahun sekali.

    Seluruhnya dengan semangat 45, turun me air guna menangkap ikan dengan cara teadisonal manual baik dengan menggunakan tangan maupun jala. Mereka berebut sekuat dan semampu yang mereka bisa. Tujuannya sama, menangkap ikan sebanyak-banyaknya untuk dibawa pulang.

    “Tradisi gogoh iwak ini sudah turun remurun, dan merupakan salah satu wujud dari guyub rukun antar warga Desa Megulunglor. Adapun kegiatan tersebut sudah berjalan ratusan tahun, yakni tiga tahun sekali, bertepatan dengan menjelang panen,” ungkap warga Desa Mugulunglor, Luthfi Khakim.

    Dikatakan, kegiatan tersebut diawali dengan membendung aliran kali, yakni di bagian atas kedung (kolam) atau embung tersebut. Setelah air kolam tersebut surut, warga beramai-ramai turun ke kolam dan menangkap ikan.

    Artikel Menarik Lainnya :  Melirik Potensi Usaha Budidaya Tawon Klanceng

    “Tua muda tidak malu-malu terjun ke kolam yang memiliki ukuran lebar 20 meter dan panjang kolam 300 meter itu,” ujarnya.

    Adapun ikan yang didapat boleh dibawa pulang dan dikonsumsi. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menjual ikan-ikannya karena yang diperoleh cukup banyak. Mulai dari ikan lele, nila dan bayong.

    Menurutnya, tradisi itu perlu dilestarikan. Karena dapat membangun kerukunan antar warga.

    Warga lain, Dewi Gita mengaku cukup senang meski tidak berhasil mendapatkan ikan sebanyak teman-temannya yang lain. Motivasinya ikut gogoh ikan bukan semata-mata ikan. Berkumpul dengan para tetangga satu desa adalah kebahagiaan yang tak terkira.

    “Bagi saya sih yang penting hepi. Mainan air dan berebut ikan dengan teman itu seru sekali. Meski hanya dapat beberapa ekor ikan saja, tak masalah. Yang jauh lebih penting bukan ikannya kok, tapi seru-seruannya. Terlebih event ini kan tidak mesti setiap tahun ada. Jadi nggak boleh disia-siakan,” katanya. (*)