Gerakan Toleransi Melalui Kampung Religi di Kota Magelang

RELIGI. Walikota Magelang dr Muchamad Nur Aziz meresmikan Kampung Cemara Asri, Kedungsari sebagai kampung religi.(foto : wiwid arif/magelang ekspres)
RELIGI. Walikota Magelang dr Muchamad Nur Aziz meresmikan Kampung Cemara Asri, Kedungsari sebagai kampung religi.(foto : wiwid arif/magelang ekspres)

KOTA MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.COM Pemkot Magelang terus menambah kampung religi sebagai gerakan moral positif masyarakat. RW 04 Kelurahan Kedungsari, Magelang Utara, resmi dinobatkan sebagai Kampung Religi Cemara Asri.

Walikota Magelang dr Muchamad Nur Aziz mengatakan, kampung religi merupakan dorongan sikap toleransi di tengah heterogenitas masyarakat. Diharapkan, pencanangan itu akan semakin mempertebal keimanan masyarakat, sehingga tercipta suasana perkampungan tentram, nyaman, kondusif, dan penuh toleransi.

Pada kesempatan itu, orang nomor satu di Kota Jasa itu juga mengatakan bahwa salah satu program unggulannya yakni “Rodanya Mas Bagia” berupa dana Rp30 juta per RT per tahun harus dirasakan semua masyarakat tanpa terkecuali. Program itu, merupakan swakelola tipe 4 berbasis pemberdayaan masyarakat.

“Infrastruktur 20 persen, sedangkan 80 persen difokuskan untuk pemberdayaan masyarakat. Jadi dana RT nanti memang benar-benar digunakan oleh masyarakat untuk membiayai usaha yang dirintis,” katanya.

Sementara itu, Pembina Kampung Religi, Suko Tricahyo mengatakan, arti dari Cemara Asri adalah, cermati aspirasi rakyat aman sehat rukun dan indah. Warga di kampung ini menganut berbagai agama, mulai dari Islam, Kristen, Katolik hingga Hindu.

”Meski berbeda-beda agama dan keyakinan, masyarakat hidup rukun berdampingan. Dalam berbagai kegiatan warga kampung bergandeng tangan dan harmonis. Ini seperti miniatur Indonesia hidup damai berdampingan dalam kebersamaan guyup rukun,” kata Suko, mantan birokrat Pemkot Magelang itu.

Ia berujar bahwa kampung Religi Cemara Asri juga sebagai laboratorium kehidupan sosial keagamaan dan juga ekonomi. Sebagai perwujudan untuk mendukung program Pemkot Magelang baik dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.

Oleh karena itulah, menurutnya, dibutuhkan sebuah sistem yang mengawal program kampung religi Cemara Asri ini berjalan dengan baik. Salah satunya yaitu sistem informasi berbasis web yang mengintegrasikan seluruh elemen-elemen di dalamnya.

”Salah satu contohnya adalah sistem informasi khusus untuk masjid, antara lain informasi tentang kajian keagamaan, kegiatan sosial santunan hingga laporan keuangan masjid berbasis digital yang bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat,”ujarnya.

Dia juga menjelaskan, dalam sistem informasi ini tak hanya untuk masjid tapi tempat ibadah lain seperti gereja juga akan memiliki sistem informasi yang hampir sama. Bahkan, sistem informasi berbasis web ini juga akan menjadi etalase pemasaran bagi produk-produk UMKM Kampung Cemara Asri.

”Jadi setelah diresmikan justru banyak hal yang harus dikerjakan, berbagai kegiatan keagamaan kampung dan juga geliat ekonomi kampung tertampung dalam sistem informasi tersebut,” pungkasnya. (wid)