Garam Pantai Selatan Mulai Dilirik Pemda

TINJAU. Bupati tampak berdialog dengan petani garam di kawasan Purworejo selatan. (Foto lukman)
TINJAU. Bupati tampak berdialog dengan petani garam di kawasan Purworejo selatan. (Foto lukman)

PURWOREJO, MAGELANGEKSPRES.COM – Bupati Purworejo RH Agus Bastian SE MM meninjau lokasi pembuatan garam di pantai Desa Patutrejo Kecamatan Grabag, Selasa (26/7). Didampingi Asisten Administrasi dan Kesra Drs Pram Prasetya Ahmad MM, Kepala DPPKP Wasit Diono SSos serta Kabag Humas Protokol Rita Purnama SSTP MM, Bupati sempat berdialog dengan petani anggota Kelompok Usaha Garam Rakyat (Kugar) Pendowo Limo.

Bupati menyatakan jenis usaha yang tergolong baru ini perlu terus dikembangkan, mengingat Kabupaten Purworejo yang memiliki panjang pantai sekitar 22 km, sehingga sangat berpotensi menjadi daerah penghasil garam.

“Apalagi ada informasi kalau garam organik atau yang sering disebut garam krokos ini bisa digunakan dengan cara tertentu untuk kesehatan, karena kandungan NaCl yang sangat tinggi mampu melepaskan virus yang menempel di organ tubuh,” katanya.

Secara terpisah Wasit Diono mengungkapkan, pembuatan garam dilakukan dengan memanfaatkan lahan bekas tambak udang, menggunakan sistem tunnel. “Pengenalan produksi garam sistem tunnel, sudah dilakukan sejak tahun 2018 oleh Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Tegal bekerjasama dengan Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Kabupaten Purworejo,” ungkapnya.

Menurutnya, hasil produksi garam sistem tunnel yang sudah pernah dilakukan sebagai percontohan, merupakan jenis garam organik pansela yang mempunyai kandungan NaCl 97,49 %  dan berwarna putih bersih. “Itu merupakan hasil analisis Sucofindo – Semarang pada 3 Mei 2021, sehingga garam ini dapat dimasukkan sebagai garam industri,” jelasnya.

Dijelaskan, penggaraman sistem tunnel merupakan metode baru, yaitu model tertutup dengan lahan terasering. Penerapan model tertutup bertujuan agar produksi garam bisa berlangsung sepanjang tahun, walaupun musim hujan. Meski berada dalam ruang yang tertutup plastik, tetap ada panas sehingga proses kristalisasi dapat terjadi. Lahan pembuatan garam dibuat berpetak-petak secara bertingkat agar air dapat mengalir kapan saja dengan gaya gravitasi.

Artikel Menarik Lainnya :  Universitas Muhammadiyah Purworejo Kembangkan Media Pembelajaran Smart Learning Torso

“Sistem pembuatan garam ini adalah secara organik tidak menggunakan bahan kimia tambahan apapun serta ramah lingkungan, karena tidak menghasilkan limbah yang berbahaya bagi lingkungan. Sehingga produk yang dihasilkan adalah garam organik,” jelasnya.

Dikatakan bahwa sampai pertengahan tahun 2021 ini, produksi garam terus meningkat dari 2,2 ton di bulan Januari, menjadi 3,1 ton pada bulan Mei. Produk yang dihasilkan berupa garam krosok dengan harga  Rp2500/kg, Rp4000/kg dan Rp5000/kg.

“Pemasaran dilakukan dalam bentuk curah dan kemasan 200 gr, 1000 gram, 5000 gram maupun 25 kg. Produk garam ini digunakan untuk keperluan pupuk tanaman, suplemen pakan ternak, ikan dan udang, pengobatan, dan sebagainya,” kata Wasit. (luk)