Gagal Mudik, Sejumlah Mahasiswa Kreatif Bercocok Tanam

KREATIF. Para mahasiswa gagal mudik kreatif memanfaatkan waktunya untuk bercocok tanam di rumah kontrakan Kelurahan Sindurjan Kecamatan Purworejo,
KREATIF. Para mahasiswa gagal mudik kreatif memanfaatkan waktunya untuk bercocok tanam di rumah kontrakan Kelurahan Sindurjan Kecamatan Purworejo,

MAGELANGEKSPRES.COM,PURWOREJO – Adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan di berbagai kota besar serta larangan mudik di tengah pandemi Covid-19 mengakibatkan sejumlah mahasiswa perantau di Kabupaten Purworejo gagal mudik ke kampung halamannya. Namun, kondisi itu justru memantik kreativitas dan produktivitas di bidang pertanian. Sebagian mahasiswa memanfaatkan waktunya untuk bercocok tanam di rumah kos atau kontrakan yang ditempati.

Trimulyo Agbaora, salah satunya. Mahasiswa asal Batam ini mengaku tidak dapat mudik lantaran pandemi Covid-19 masih berlangsung. Bersama 2 orang temannya, ia hanya dapat berdiam diri di kontrakan yang terletak di Kelurahan Sindurjan Kecamatan Purworejo.

Pemilik panggilan akrab Bora ini mengatakan, ide untuk bercocok tanam muncul spontanitas. Saat mengisi waktu libur kuliahnya, ia dan 2 orang temannya tersebut berpikiran untuk menanam sayur-sayuran yang bisa ia manfaatkan untuk kebutuhan makan sehari-hari. Sejak beberapa hari yang lalu ia mulai membeli Polybag dan juga benih sayuran yang tersedia di toko-toko pertanian.

“Selain untuk mengisi waktu libur kuliah kita juga mengantisipasi krisis pangan yang terjadi jika pandemi Covid-19 ini tidak segera berakhir,” katanya, Jumat (4/6).

Setidaknya ada 4 jenis tanaman yang ditanam di sekitar kontrakannya. Sampai saat ini ia sudah menyiapkan seratusan polybag untuk ditanami sayurang yang lebih dulu ia semai.

“Yang biasa kita perlukan seperti Cabai, Sawi, Tomat, dan kangkung. Kita akan terus tambah supaya nantinya warga sekitar juga bisa memanfaatkannya,” sebutnya.

Baca Juga
Alat Rapid Test Diisukan Tak Standar, Dinas Kesehatan Membantah

Menurut Bora, jadwal libur kuliah onlinenya tampaknya akan diperpanjang mengingat situasi yang kurang mendukung. Karena itu, ia akan terus menanam dan kemudian menyosialisasikannya kepada warga sekitar kampungnya bahwa tanaman yang ia tanam boleh secara suka rela diambil dan dimanfaatkan oleh warga.

“Kita bebaskan warga sekitar yang mau merawat dan memanfaatkan tanaman ini nanti saya kasihkan gratis,” ujarnya.

Ia berharap dengan dirinya menanam dan memberikannya secara gratis ke warga, dapat menjadi contoh dan akan ditiru oleh warga lainnya. Hal yang ia lakukan juga memberikan edukasi kepada warga tentang Virus Covid-19 dan ketahanan pangan di tengah pandemi Covid-19.

“Selain itu nanti warga yang datang untuk mengambil bibit tanaman gratis akan kita ajak ngobrol tentang Virus Covid-19” ungkapnya. (top)