Fenomena Gay Merebak di Purworejo, Satpol PP Damkar Gencarkan Penelusuran

Foto: PENELUSURAN. Petugas Satpol PP Damkar Purworejo melakukan razia kos-kosan dan hotel untuk memberantas praktik penyimpangan seksual dan penyakit masyarakat lainnya. (istimewa)
Foto: PENELUSURAN. Petugas Satpol PP Damkar Purworejo melakukan razia kos-kosan dan hotel untuk memberantas praktik penyimpangan seksual dan penyakit masyarakat lainnya. (istimewa)

PURWOREJO, MAGELANGEKSPRES.COM Fenomena sek menyimpang yakni gay atau homoseksual merebak di wilayah Kabupaten Purworejo. Bahkan, pelakunya diketahui memiliki kelompok-kelompok dan terdiri atas berbagai kalangan, termasuk mereka para pelajar.

Munculnya pecinta sesama jenis tersebut terendus oleh Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP Damkar) Kabupaten Purworejo, pada pertengahan Januari 2022 lalu saat petugas melakukan razia kos-kosan dan perhotelan di wilayah Kabupaten Purworejo. Saat melakukan razia, petugas mendapati 2 pasangan gay di sebuah hotel. Satu pasang di Kecamatan Purworejo, sedangkan satu pasang lain di sebuah hotel di kawasan Kecamatan Kutoarjo.

“Awalnya mereka tidak mengaku, tetapi kemudian ketika kita mintai keterangan yang bersangkutan mengakui bahwa mereka adalah pasangan gay,” kata Sekretaris Satpol PP Damkar Kabupaten Purworejo, Bambang Gatot Seno Aji SE MM, Kamis (17/2).

Bermula dari itu, Satpol PP Damkar Purworejo gencar menelusuri jaringan komunitas gay di Purworejo. Dari keterangan yang didapat, petugas kemudian melakukan tracking dan berhasil membongkar sindikat komunitas gay.

Dari hasil tracking yang dilakukan Satpol PP Damkar, fenomena penyimpangan seksual itu cukup akut merebak di Purworejo. Sebanyak 20 pria terbukti menjadi bagian dari komunitas gay. Bahkan, jumlah tersebut terus bertambah seiring penelusuran yang terus dilakukan petugas.

“Terakhir kita mintai keterangan satu orang, ia mengaku telah melakukan hubungan seksual sesama jenis dengan 12 orang,” ungkapnya.

Mayoritas penyebab perilaku gay tersebut adalah disorientasi seksual karena perilaku hidup bebas. Ada pula akibat pengaruh media sosial, dan beberapa memang memiliki kelainan seksual sejak lahir.

Gatot menyebut, rata-rata usia pelaku gay berada pada rentang usia usia 20-an tahun. Bahkan sebagian merupakan pelajar yang masih duduk di sekolah menengah atas. Pria pecinta sesama jenis terlihat normal dalam kesehariannya. Namun, baru diketahui homoseksual setelah pemeriksaan oleh petugas.

“Ada kalangan pelajar, banyak juga kalangan mahasiswa. Mayoritas 80 persen ini rata-rata orang Purworejo,” sebutnya.

Lebih lanjut diterangkan bahwa kondisi tersebut telah disikapi oleh Satpol PP Damkar dengan melakukan sosialisasi pencegahan pergaulan bebas remaja ke sekolah-sekolah melalui program Satpol PP Goes to School. Dalam program itu dihadirkan sejumlah narasumber untuk memberikan pencerahan kepada siswa mengenai bahaya dampak pergaulan bebas.

“Kita ingin menyelamatkan generasi bangsa kita dari pengaruh narkoba dan masalah pergaulan bebas lainnya,” terangnya. (top)