Dua Penghargaan Membanggakan Diraih Pemkab Magelang di Era Pandemi

PENGHARGAAN. Bupati Magelang Zaenal Arifin saat menerima penghargaan APE Kategori Utama dari Rumah Dinas Bupati Magelang.
PENGHARGAAN. Bupati Magelang Zaenal Arifin saat menerima penghargaan APE Kategori Utama dari Rumah Dinas Bupati Magelang.

MAGELANG, MAGELANGEKSPRES. COM HARI ini Selasa 22 Maret 2022, Kota Mungkid telah berusia 38 tahun. Peringatan Hari Jadi Kota Mungkid sebagai ibu kota Kabupaten Magelang dikemas secara sederhana dengan protokol kesehatan yang ketat.

Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung 2 tahun lebih sangat terasa dampaknya bagi seluruh sektor kehidupan masyarakat, khususnya di wilayah Kabupaten Magelang.

Di tengah suasana pandemi Covid-19, seluruh jajaran Pemkab Magelang berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Meski tidak dapat dipungkiri, situasi dan kondisi selama pandemi, menjadikan layanan pada masyarakat menjadi kurang optimal karena adanya pembatasan akses dan sejumlah aturan lainnya yang harus dipatuhi.

Komitmen untuk bekerja secara optimal itu, setidaknya ditunjukkan dengan 2 penghargaan membanggakan yang diraih oleh Pemkab Magelang selama pandemi Covid-19.

Yakni penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya (APE) Kategori Utama tahun 2020 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dan penghargaan Program Kampung Iklim (Proklim) Tahun 2021 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Dua penghargaan yang diraih tersebut, tentu bukan yang pertama tapi sudah yang keempat kalinya.

Pemerintah Kabupaten Magelang telah mendapatkan penghargaan APE kategori Pratama pada tahun 2012 dan 2016, kemudian naik kelas mendapatkan  kategori Madya pada tahun 2018, pada tahun 2020 kembali naik kelas mendapatkan kategori Utama. Demikian pula penghargaan Proklim, sudah keempat kalinya secara berturut-turut diberikan kepada Pemkab Magelang.

Bupati Magelang Zaenal Arifin mengungkapkan Pemkab Magelang meraih penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya Kategori Utama dari Kementerian PPPA karena dinilai telah berkomitmen dalam pencapaian dan perwujudan kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak serta pemenuhan kebutuhan anak.

Bupati sangat mengapresiasi atas penghargaan tersebut. Dia menjelaskan penghargaan ini sebagai bentuk pengakuan atas komitmen dan peran pemerintah daerah, lembaga/organisasi masyarakat/keagamaan/dunia usaha dalam upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam strategi pengarusutamaan gender. “Artinya terus ada peningkatan dari penghargaan APE ini. Ini menunjukkan ada keseriusan dari kita (Pemerintah Daerah) untuk melaksanakan dan menjunjung kesetaraan dan keadilan gender,” kata Zaenal Arifin.

Lebih spesifik, Zaenal menjelaskan bahwa kesetaraan gender ini salah satu contohnya adalah memberikan hak kepada siapapun secara profesional. “Contohnya setingkat Kepala Dinas di lingkungan Pemerintah Kabupaten Magelang, ada yang diisi oleh kaum perempuan. Artinya kita tidak melihat pada sisi genderitas itu tetapi lebih pada sisi kemampuan. Ya kemampuan managerial, kemampuan secara personalitinya juga,” jelas Zaenal.

Kasi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada Dinsos PPKB PPPA Kabupaten Magelang, Yurini Wiarsi menerangkan, ada tujuh komponen kunci dalam penilaian Anugerah Parahita Ekapraya antara lain, komitmen, kebijakan, kelembagaan, SDM dan anggaran, alat analisis gender, data gender, serta partisipasi masyarakat. “Dan Kabupaten Magelang ini telah berkomitmen melaksanakan percepatan Pengarus Utamaan Gender (PUG). Semoga upaya untuk menciptakan keadilan bagi SDM perempuan yang memiliki potensi di berbagai bidang pembangunan dapat terwujud, dan penghargaan ini harus dipertahankan dan kedepan harus menjadi lebih baik,” pungkas, Yurini.

Sementara itu, mengingat masih dalam kondisi Pandemi Covid-19, maka penyerahan penghargaan Proklim Tahun 2021 ini diserahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar secara virtual.

Bupati Magelang diwakili, Sekretaris Daerah Kabupaten Magelang Adi Waryanto, mengungkapkan rasa bangga atas raihan penghargaan Proklim dalam kurun waktu empat tahun secara berturut-turut. Ia berharap, penghargaan Proklim tersebut bisa menjadi momentum serta motivasi masyarakat atau desa dalam upaya pencegahan pemanasan global dan emisi gas rumah kaca.

“Tentunya atas nama Pemerintah Kabupaten Magelang kami mengucapkan penghargaan yang setinggi-tingginya atas penghargaan Proklim ini. Harapannya melalui penghargaan ini bisa terus ditingkatkan untuk mencegah terjadinya pemanasan secara global dan emisi gas rumah kaca,” ungkap, Adi Waryanto usai acara penerimaan penghargaan Proklim Tahun 2021 secara virtual dari Ruang Command Center, Setda Kabupaten Magelang.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang, Joko Sudibyo menjelaskan bahwa, Tahun 2021 ini Kabupaten Magelang kembali mendapatkan penghargaan Proklim yang ke empat kalinya. Perolehan Penghargaan Proklim Tahun 2021 untuk Kabupaten Magelang antara lain, Bupati Magelang mendapatkan piagam apresiasi sebagai pembina Proklim Tingkat Kabupaten/Kota.

Kemudian Desa Sambak, Kecamatan Kajoran meraih tropi Proklim lestari, Desa Sawangan meraih tropi Proklim Utama, Desa Tirto Grabag meraih sertifikat Proklim Utama. Sementara 12 desa lainnya mendapatkan penghargaan Proklim Madya.

“Tahun ini Desa Sambak mendapatkan tropi Proklim lestari. Ini merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan kepada desa. Sebelumnya tahun 2017 Desa Sambak ini telah mendapatkan penghargaan Proklim Utama dari KLHK, namun demikian desa tersebut tetap meningkatkan upaya mitigasi dan pencegahan pemanasan global dengan membina desa-desa lainnya, sehingga dianugerahi penghargaan Proklim Lestari,” terang Joko Sudibyo.

Sementara Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar mengatakan dari tahun 2016 berbagai perangkat kebijakan dan peraturan terus dikembangkan agar Indonesia dapat memenuhi komitmen penurunan emisi gas rumah kaca dan memperkuat ketahanan dalam menghadapi perubahan iklim (ketahanan iklim).

“Komitmen yang dibangun diutamakan untuk kita dapat berperan aktif dalam menjaga keberlangsungan kehidupan di bumi, dengan cara menahan laju kenaikan suhu bumi agar dapat memenuhi ambang batas yang direkomendasikan oleh para ilmuwan,” kata Siti Nurbaya.

Menurutnya, pada saat ini dorongan untuk memperketat laju kenaikan suhu bumi agar tidak melebihi 1,5 derajat Celcius terus menguat. “Sehingga perlu disikapi dengan bijaksana agar kepentingan lingkungan hidup dapat berimbang sejalan dengan kebutuhan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat,” pungkas Siti Nurbaya.(rls/cha).