DPRD Wonosobo Inginkan Mitigasi Sebagai Solusi Jangka Panjang

MONITOR. Bupati Wonosobo melakukan monitoring bencana longsor di wilayah Wonosobo utara.
MONITOR. Bupati Wonosobo melakukan monitoring bencana longsor di wilayah Wonosobo utara.

WONOSOBO, MAGELANGEKSPRES.COM Ketua DPRD Wonosobo, Eko Prasetyo HW meminta adanya solusi jangka panjang terkait penanganan kebencanaan di Kabupaten Wonosobo. Hal itu untuk menyikapi tinggi kejadian longsor dan banjir ketika diterpa hujan deras.

“Hanya hujan sepekan saja sudah ada 103 titik longsor dan itu terus bertambah, angka kerugian materia ditaksir melebih Rp2 miliar, saya kira itu perlu disikapi secara sungguh-sungguh  dan tidak sporadis,” ungkap Eko.

Menurutnya, pemerintah harus memiliki perspektif jangka panjang dengan melibatkan berbagai unsur untuk mengatasi persoalan tersebut. Sebab longsor dan banjir ini diduga tidak hanya karena hujan deras semata, tapi juga aspek aspek yang lain seperti kerusakan lingkungan, tata kelola lahan, dan tata pemukiman yang belum baik.

“Jadi tidak menyalahkan hujan, terus pasrah, tanpa ikhitiar, pemerintah harus membuat sistem yang baik, ajak masyarakat, agar mereka paham dan mendukung upaya pemerintah. Jadi banjir dan longsor ini menjadi pembelajaran bersama,” katanya.

Eko juga meminta kepada pemerintah daerah merancang pola mitigasi secara lebih fokus pada upaya pencegahan banjir dan longsor, utamanya di daerah rawan bencana. Supaya memunculkan kesadaran bersama.

“Ketika masyarakat berada di kawasan rawan bencana, mereka paham apa yang harus dilakukan dalam menjaga lingkuna, apa yang akan dilakukan untuk antisipasi dan apa yang akan dilakukan ketika terjadi serta paska kejadian,” terangnya.

Dijelaskan, melihat kejadian yang ada di Kabupaten Wonosobo dalam sepekan mencapai ratusan titik longsor dan berdampak pada kerusakan pemukiman, jalan, jembatan, sekolah serta ratusan hektar lahan. Maka, pola penanganan seperti yang saat ini, dinilai kurang efektif dan  akan cukup melelahkan OPD terkait maupun para relawan.

“Saya ikut merasakan, betapa repotnya para relawan yang sehari harus berkunjung ke 5 hingga 10 titik sekaligus, apalgi SDM dan sarparas terbatas, maka perlu pola yang lebih sistematis,” katanya.

Setiap tahun ketika musim penghujan tiba, di Kabupaten Wonosobo selalu muncul titik longsor. Apalagi kontur secara umum berupa perbukitan, lantaran kabupaten dingin ini berada di kaki gunung. Bahkan Wonosobo masuk 5 besar kabupaten rawan bencana di Jateng.

“Dengan kondisi itu, maka kita mestinya memiliki pengalaman penangnan yang sudah cukup panjang untuk mengatasi ancaman bencana longsor dan banjir,” pungkasnya. (gus)