Dolanan Bocah Kembalikan Permainan Tempo Dulu

0
148
Dolanan Bocah Kembalikan Permainan Tempo Dulu
DOLANAN. Anak-anak Dusun Pucung Pandak berkostum Jawa nDesa bermain permainan tradisional di tanah lapang dekat kebun warga ditonton puluhan pengunjung, 

WONOSOBO – Salah satu rangkaian acara festival budaya Hamerti Kitri 2019, Dusun Pucung Pandak Desa Sidorejo Kecamatan Selomerto adalah Dolanan Bocah yang digelar di pekarangan warga setempat kemarin (13/9).

Menurut koordinator Hamerti Kitri Theodorus Setia Budi Hertoyo atau yang akrab disapa Yoyok, di malam sebelumnya sudah dihelat Ambirat Pepeteng dengan menyalakan obor di sudut-sudut dusun. Lalu dilanjutkan bersih makam dan dusun pada Jumat paginya.

“Dolanan bocah ini sebagai bentuk pengingat untuk seluruh warga, akan permainan jaman dahulu. Hari ini kita ajak anak-anak bermain sudamanda, ula-ula cabe, jaranan debog, karetan, adu gambar, bahkan ada juga balon sarung. Tak hanya anak-anak para bapak ternyata juga kangen permainan seperti ini dan ikutan,” ungkapnya kemarin.

Permainan itu juga diramaikan para penonton dari warga setempat, tetangga dusun dan para pengunjung, bahkan beberapa berasal dari luar daerah. Mereka pun ikut menggunakan pakaian adat Jawa ndesa. Yang disebut Yoyok ialah sebagai pakaian orang Jawa di masa dahulu tapi yang lazim ada di desa.

“Pengunjung juga kami ajak memakai kostum Jawa Ndesa ini untuk menyelami budaya jawa yang kini jarang diangkat. Meskipun berdebu dan beralaskan tanah, ternyata anak-anak senang dan tidak risih. Bahkan mereka betah sekali,” ungkap Yoyok.

Agenda lain di Sabtu (14/9) pagi ialah Pengambilan 7 Sumber air dilanjutkan Kurban Silih pada siang harinya yang akan ditutup Sarasehan Budaya pada malam hari yang menghadirkan budayawan Haqqi El Anshary dengan puncaknya Sesaji Pajak Bumi atau Sedekah Bumi tepat jam 12 malam.

Menurut salah satu pengunjung asal Jawa Barat, Chintya Dewi, dirinya dibuat terpukau dengan keberagaman budaya yang ada di Wonosobo dan salah satunya tercermin di Pucung pandak. Bahkan Chintya mengaku memperpanjang masa tinggalnya di Wonosobo untuk menonton Hamerti Kitri itu. Dirinya awalnya mengaku harus kembali pada 12 September lalu. Namun, usai menonton Grebeg Suran massal di Alun-alun lalu melihat publikasi Hamerti Kitri, dirinya tertarik untuk datang ke Pucung Pandak.

“Melihat para ibu merias Tenong, anak-anak bermain permainan zaman dahulu seperti ini membuat saya betah. Bahkan tadi disediakan baju Jawa dan nyaman dipakai. Rasanya bisa nge-blend dengan acara ini dan nuansanya membekas sekali. Dari sini saya juga dapat banyak foto yang bagus dan tentunya membuat saya ingin datang lagi ke Wonosobo,” ungkap Chintya yang sebelumnya menginap di Dieng itu. (win)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here