DLH Kabupaten Magelang Uji Kualitas Mata Air Sebanteng

MATA AIR. Petugas DLH Kabupaten Magelang melakukan pengambilan sampel mata air Sebanteng, Sremben dan Glondong Desa Wulunggung Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.
MATA AIR. Petugas DLH Kabupaten Magelang melakukan pengambilan sampel mata air Sebanteng, Sremben dan Glondong Desa Wulunggung Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.

MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.COM  – Pengambilan sampel mata air dan penanaman pohon di sekitar mata air Sebanteng, Sremben dan Glondong Desa Wulunggung Kecamatan Sawangan, dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magelang. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kualitas air. Wilayah tersebut merupakan lereng Gunung Merbabu.

Kepala DLH Kabupaten Magelang, Sarifudin mengatakan terdapat 200 batang bibit pohon yang ditanam, berjenis tanaman buah buahan dan tanaman konservasi lainnya. Upaya ini dilakukan sebagai peringatan Hari Air Sedunia sekaligus Hari Ulang Tahun-38 Kota Mungkid, yang jatuh pada tanggal yang sama yaitu 22 Maret.

“Hari Air Sedunia (World Water Day) adalah hari yang diperingati atau dirayakan sebagai usaha untuk menarik perhatian publik masyarakat sedunia mengenai pentingnya air bersih bagi kehidupan, dan merupakan usaha penyadaran untuk melindungi sumber daya air bersih secara berkelanjutan.

Inisiatif memperingati Hari Air Sedunia diumumkan pada Sidang Umum PBB ke-47 tanggal 22 Desember 1992 di Rio de Janeiro, Brasil,” ucap Sarifudin.

Dirinya menjelaskan, penanaman pohon merupakan upaya menjaga ketersediaan air di wilayah desa Wulunggung agar tetap lestari. Sarifudin berharap kegiatan serupa dapat diikuti oleh seluruh komunitas Jogo Tuk di seluruh wilayah Kabupaten Magelang.

Adapun terkait pengambilan sampel air di tiga mata air, DLH bekerjasama dengan Pemerintah Desa Banyuroto sebagai pembina desa proklim Desa Wulunggunung, Kominitas Jogo Tuk dan Pemerintah Desa Wulunggung.

Pengendali Dampak Lingkungan DLH, Heny Murdiyaningrum mengatakan pengambilan sampel air tersebut bertujuan mengetahui kualitas mata air yang digunakan oleh warga Desa Wulunggunung.

“Supaya warga tahu kualitas airnya, sudah tercemar atau belum, karena berdasarkan cerita dari Pak Kades ada mata air lain yang kandungan colinya tinggi,” jelas Heny.

Heny menjelaskan debit air di mata air tersebut sudah mulai berkurang. Padahal, mata air Sebanteng ini dimanfaatkan oleh 150 keluarga dusun Batur. Mata air Sremben dimanfaatkan 175 keluarga warga Desa Banyuroto dan mata air Glondong Tengah dimanfaatkan sekitar 60 keluarga.(cha)