Dipersulit “Kulakan” Pertalite Pedagang BBM Eceran Geruduk SPBU

GERUDUG. Puluhan pedagang BBM mengerudug salah satu SPBU di Kecamatan Ngadirejo Selasa kemarin. (foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)
GERUDUG. Puluhan pedagang BBM mengerudug salah satu SPBU di Kecamatan Ngadirejo Selasa kemarin. (foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)

MAGELANGEKSPRES.COM, TEMANGGUNG – Puluhan pedagang Bahan Bakar Minyak (BBM) eceran mengerudug salah satu SPBU di Kecamatan Ngadirejo Selasa (8/6), mereka menuntut agar pedagang BBM eceran bisa kembali membeli (kulakan) di SPBU.

Dengan mengendarai kendaraan bak terbuka dan puluhan sepeda motor, para pedagang BBM eceran ini langsung menuju SPBU 4456214 di Kecamatan Ngadirejo. mereka juga membawa sejumlah tulisan seperti, “Demi Perut Ku Berjuang Antri Pertalite, “keberatan dari Pertalite ke Pertamax”, “Kami Juga Mau Berusaha Biar Bisa Bayar Utang” dan sejumlah tulisan bernada tuntutan lainnya.

“Kami ini hanya rakyat kecil, pengusaha kecil yang berjualan pertalite eceran didesa,”kata Atik salah satu pedagang pertalite dari Kecamatan Bejen.

Menurutnya, sebagai rakyat kecil dirinya hanya bisa mengikuti kebijakan yang dikeluarkan oleh Pertamina maupun Pemerintah, hanya saja kebijakan saat ini sangat memberatkan pedagang Pertelite eceran.

“Dulu dari Premium pindah ke Pertalite kami sudah nurut, dan sekarang ada peraturan baru lagi Pertalite tidak boleh dibeli dengan jerigen, dan disuruh membeli Pertamax,”tuturnya.

Ia menuturkan,l saat ini Pertamina juga sudah mengeluarkan produk baru yakni Pertashop, sejumlah Pertashop juga sudah mulai ada dipelosok-pelosok desa. Padahal harga Pertashop hanya Rp9.000 per liter.

“Memang bukan saingan bagi kami, namun dengan adanya Pertashop ini mengurangi penghasilan kami. Sementara kami kalau membeli Pertalite di SPBU harganya sudah Rp9.000 kalau hanya dijual dengan harga Rp9.000 tidak mungkin, harga Rp9.500 kami tidak dapat keuntungan, untuk membeli Pertalie saja sudah membutuhkan kendaraan dan yang lainnya,”tuturnya.

Oleh karena itu, dirinya mewakili pedagang Pertalite eceran di Temanggung bagian utara, agar kebijakan atau aturan melarang membeli Pertalite dengan jerigen untuk dicabut.

Artikel Menarik Lainnya :  17.639 Pekerja Swasta di Temanggung Telah Divaksin Covid-19

“Kami hanya ingin kembali bebas saat ngangsu (membeli) Pertalite di SPBU,”harapnya.

Romadhon, pedagang lainnya juga menuturkan hal yang sama, kebijakan melarang pembelian pertalite dengan mengunakan jerigen ini menyusahkan masyarakat kecil, sebab selama ini daerah-daerah terpencil tidak terjangkau langsung oleh pertamina.

“Jika kami tidak diperbolehkan membeli pertalite untuk dijual kembali, kami sangat keberatan. Pertalite bukan merupakan BBM bersubsidi,”tuturnya.

Dirinya mengaku, aksi yang digelar ini hanya spontanitas saja, karena selama sepekan terakhir ini pedagang Pertalite eceran di wilayah Kecamatan, Bejen, Candiroto, Ngadirejo, Tretep, Wonoboyo dan daerah lainnya sudah tidak bisa membeli Pertalite dengan mengunakan jerigen di SPBU.

“Keinginan kami hanya sederhana, kebijakan tidak mempersulit rakyat kecil dan kami bisa kembali membeli pertalite dengan jerigen untuk dijual kembali, itu saja,”tutupnya.

Sementara itu manajer SPBU 4456214 di Kecamatan Ngadirejo Andoyo saat menerima para pedagang mengatakan, pihaknya akan menampung seluruh aspirasi yang disampaikan oleh pedagang.

“Saya berjanji akan langsung menyampaikan aspirasi pedagang ke Sales Manajer Pertamina Temanggung, Magelang dan Wonosobo, agar aspirasi pedagang ini diperhatikan,”tuturnya.

Menurutnya, kebijakan dari pihak Pertamina area Yogyakarta ini hanya disampaikan secara lesan, mulai tanggal 5 Juni pihak SR rayon Yogyakarta, tidak memperbolehkan Pertalite masuk dalam jerigen padahal Pertalite bukan merupakan bahan bakar minyak bersubsidi kenapa harus pertamak.

“Aturan baru disampaikan secara lesan, kami merasa kebingungan saat menyampaikan kepada para pedagang, berbeda manakala ada aturan secara tertulisnya,”katanya.

Padahal katanya, meskipun hanya disampaikan secara lesan namun ada ancaman jika ketahuan menjual pertalite ke jerigen itu ada sanksi, sanksinya cukup berat yakni tidak akan dikirim pertalite selama tiga hari.

“Padahal kami sebagai pengusaha jika dikenai sanksi seperti itu bisa tutup, harapan kami kedepan ada kebijakan yang pasti,”harapnya.(set)

Artikel Menarik Lainnya :  Alhamdulillah, Produktivitas Kopi Robusta Temanggung Tahun ini Meningkat