Diduga Ada Kartel di Balik Meroketnya Harga Daging Sapi

Diduga Ada Kartel di Balik Meroketnya Harga Daging Sapi

MAGELANGEKSPRES.COM,JAKARTA – Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso alias Buwas menyampaikan melambungnya harga daging sapi belakangan ini, diduga lantaran adanya spekulan atau kartel yang mempermainkan stok daging sapi. Harga daging sapi sempat menembus di angka Rp130 ribu per kilogram (kg).

Berbeda dengan Buwas, menurut pihak Kementerian Perdagangan (Kemendag) mahalnya harga daging sapi karena adanya kenaikan harga dari negara eksportir, Australia. Itu karena Negeri Kangguru itu sedang melakukan regenerasi sapi, sehingga menyebabkan stok melandai.

“Itu hanya akal-akalan supaya ada kenaikan yang nanti jadi pembenaran, sehingga dipatok harga daging yang tadinya Rp120 ribu per kg, sudah mahal itu tidak bisa turun malah dinaikkan jadi Rp130 ribu per kg dan dianggap harga normal ke depan,” ujar Buwas di Jakarta, kemarin (3/2).

Sebagai solusi, Perum Bulog akan mendatangkan impor daging kerbau yang berasal dari India. Bulog sendiri disebut mendapat jatah impor daging kerbau sebesar 80 ribu ton untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging dalam negeri utamanya menjelang bulan Ramadan dan Lebaran.

Buwas berharap, kedatangan daging kerbau impor nantinya bisa menekan harga daging sapi hingga stabil. Masyarakat Indonesia sendiri disebut Buwas sudah mulai terbiasa dengan konsumsi daging kerbau sebagai alternatif daging sapi.

“Masyarakat Indonesia sudah familiar dengan daging kerbau, yang dulunya sulit untuk konsumsi karena masih belum terbiasa, sekarang sudah terbiasa. Harapannya ini juga bisa tekan dari harga daging sapi,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Komisi Pengawas Persaiangan Usaha (KPPU) Deswin Nur mengatakan, pihaknya sudah langsung bergerak begitu adanya dugaan monopoli daging sapi yang menyebabkan kenaikan harga di pasaran.

“Kami ada dua cara (pengecekan), satu ke lapangan, mantau langsung ke penjualnya dan perantaranya rumah potong, kemudian juga kita perhatikan arus barangnya,” ujar Deswin kepada FIN, kemarin (3/2).

Artikel Menarik Lainnya :  Dapatkan Promo Paket Pemeriksaan Up to 34 Persen hanya di Pramita Lab Magelang

Menurut Deswin, dari pemeriksaan arus barang masuk bisa diketahui berapa kebutuhannya dan berapa pasokannya. Apabila di lapangan ditemukan adanya penyimpangan, KPPU baru akan masuk di sana. Hal inilah yang saat ini sedang dilakukan KPPU terkait gejolak harga daging.

“Yang saya tahu teman-teman di Kanwil saat ini tengah memantau di lapangan semua, jadi sekarang kita belum dapat hasil dari mereka,” tuturnya.

KPPU sendiri, lanjut Deswin, tidak perlu menunggu adanya laporan dari instansi tertentu terkait adanya dugaan kartel. Sebab, KPPU disebut Deswin selalu memantau perkembangan di lapangan. “Yang kami lakukan adalah inisiatif, langsung memantau lapangan. Jadi kita tidak perlu tunggu laporan,” pungkasnya.

Mengutip laman infopangan.jakarta,go.id, pada Rabu (3/2), harga daging sapi murni (semur) berada di angka Rp126.170 per kg. Harga tersebut naik Rp106 per kg jika dibandingkan pada hari sebelumnya.

Sementara itu untuk harga daging sapi has (paha belakang), tercatat mengalami kenaikan Rp348 per kilogram menjadi Rp129.786 per kg dibanding pada hari sebelumnya. (git/din/fin)