Dari Maggot, Kampung Paten Gunung Kota Magelang Raih Apresiasi dan Keuntungan

MAGGOT. Pengurus kampung organik dan bank sampah Kampung Paten Gunung membudidaya maggot untuk mengurai sampah organik di wilayah tersebut.
MAGGOT. Pengurus kampung organik dan bank sampah Kampung Paten Gunung membudidaya maggot untuk mengurai sampah organik di wilayah tersebut.

MAGELANGEKSPRES. COMSUDAH mengantongi berbagai gelar dan penghargaan tingkat Kota Magelang, tak membuat masyarakat Kampung Paten Gunung, Rejowinangun Selatan, Magelang Selatan puas diri.

Justru, kini mereka punya kesibukan baru. Seluruh kalangan masyarakat, mulai remaja, ibu rumah tangga, pemuda, hingga lansia ramai-ramai melakukan budi daya maggot.

Ketertarikan warga RW XI, Kampung Paten Gunung terhadap maggot bukan tanpa alasan. Hal itu dilatarbelakangi keprihatinan warga yang seringkali melihat tumpukan sampah organik di depo sampah, tepi jalan, hingga bantaran Kali Manggis di tengah perkampungan mereka.

Ketua RW XI, Kampung Paten Gunung, Wartomo bersama dengan PKK setempat lalu mencetuskan ide budi daya maggot. Fungsinya, untuk mengurai sampah-sampah supaya lingkungan terlihat bersih dan bebas bau.

Keseriusan warga Kampung Paten Gunung memelihara maggot, begitu terlihat Sabtu (8/1) lalu. Ibu-ibu anggota PKK aktif memasukkan sampah-sampah organik ke kandang maggot yang berada di lahan pribadi milik Ketua RW, Wartomo. Lahan sekitar 500 meter persegi itu sengaja disediakan Wartomo untuk kegiatan para aktivis kampung organik dan bank sampah di wilayah RW XI.

Selain budi daya maggot, warga juga rutin merawat tanaman organik. Jenisnya sangat beragam. Mulai dari sayuran seperti sawi, cabai, terong, hingga tanaman keras seperti pohon, jambu, dan budi daya ikan lele.

”Kami jamin yang tersedia di lahan pertanian RW XI ini semuanya organik. Tidak pakai pestisida, apalagi pupuk kimia. Rencana ke depan, kami ingin tambah tanaman buah, yang bisa langsung dikonsumsi,” ujar Wartomo.

RW XI Paten Gunung sendiri memiliki tiga RT. Tak jarang, tiga ketua RT kompak bersama warga lainnya turut membantu para pengurus bank sampah.

Artikel Menarik Lainnya :  Berkat Berprestasi dan Dedikasinya, Inilah 6 Anggota Polres Magelang Kota yang Meraih Penghargaan

Sampah-sampah organik tersebut diambil para pengurus dan aktivis bank sampah di sekitar tempat tinggal mereka. Bahkan mereka juga mencari sampah hingga ke area Pasar Rejowinangun. Sampah yang sudah terkumpul dibawa ke balai RW untuk dijadikan pakan maggot.

”Alasan kami pakai maggot karena mengurai sampah organik sangat cepat. Apalagi sudah ada arahan dari Pemkot Magelang, supaya kampung-kampung kini budi daya maggot untuk mengurangi produksi sampah,” imbuh Wartomo.

Ide itu didapat setelah dia dan warga lainnya kerap melihat sampah-sampah dibuang di pinggir pertigaan jalan dekat rumahnya. Tumpukan sampah itu menimbulkan bau busuk serta merusak pemandangan. Sebab, dikerumuni lalat.

Pria paruh baya itu mulai mencari tahu cara budi daya maggot. Dia menelusurinya dari internet. Kebetulan, balai RW-nya kini sudah dilengkapi dengan WiFi gratis bantuan Pemkot Magelang. Berbekal pengetahuan dari dunia maya, dia mulai mencoba memelihara maggot.

”Ide saya ini didukung seluruh masyarakat. Termasuk Anggota DPRD Kota Magelang, Bapak Waluyo. Beliau sering datang ke sini, untuk melihat perkembangan budi daya maggot,” ujarnya.

Kini, belasan kilogram maggot membutuhkan rata-rata 10 kilogram sampah untuk pakannya. Demi mencukupi kebutuhan sampah, Wartomo melibatkan para pengurus bank sampah dan warga untuk mengambil sampah dari pasar.

Dia mengatakan bahwa di balai RW juga ada budi daya lele. Maggot yang sudah dipanen digunakan untuk pakan lele.

”Maggot ini digunakan sebagai pakan ternak karena proteinnya tinggi sampai 50 persen,” paparnya.

Selain itu, produk-produk dari budi daya maggot kini bisa dijual secara daring. Hasil rupiah yang berhasil mereka kumpulkan dijadikan tambahan fasilitas di balai RW. Termasuk diwujudkan dalam aksi sosial, kepada warga yang membutuhkan.

Artikel Menarik Lainnya :  Kota Magelang Tambah 3 Kasus Covid-19, Kini Dirawat di RS

”Kami ingin keberadaan kampung organik ini membawa manfaat bagi warga. Meski jumlahnya tidak seberapa, tapi minimal kita mendapat keuntungan yaitu lingkungan jadi bersih dan bebas bau,” pungkasnya. (prokompim/kotamgl)