Dampak PPKM, Sektor Wisata di Kota Magelang Turun Drastis

DAYA TARIK. Salah satu daya tarik wisata religi di Kampung Dudan, Magelang Selatan yakni Makam Kyai Dudo yang ramai dikunjungi para peziarah, sebelum pandemi melanda. (foto : wiwid arif/magelang ekspres)
DAYA TARIK. Salah satu daya tarik wisata religi di Kampung Dudan, Magelang Selatan yakni Makam Kyai Dudo yang ramai dikunjungi para peziarah, sebelum pandemi melanda. (foto : wiwid arif/magelang ekspres)

KOTA MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.COM – Pengunjung tempat wisata Kota Magelang mengalami penurunan drastis akibat pandemi dan PPKM yang diterapkan sejak Juli 2021 lalu. Bahkan, seluruh destinasi wisata terpaksa ditutup total hingga kini.

Jika level PPKM sudah beranjak ke angka dua, maka dimungkinkan destinasi bisa dibuka secara bertahap. Selain penegasan protokol kesehatan, aksesibilitas pariwisata menjadi solusi yang diyakini mampu meningkatkan kembali jumlah pengunjung.

Walikota Magelang, dr Muchamad Nur Aziz memberikan keleluasaan Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) untuk menggunakan fasilitas di Pemkot Magelang, guna menunjang aksesibilitas wisata.

Menurutnya, kemudahan transportasi pariwisata akan menambah daya tarik tersendiri. Masalah transportasi harus menjadi fokus utama setelah destinasi wisata kembali dibuka nantinya.

“Saya ingin ada transportasi khusus wisata menggunakan beberapa unit bus di Pemkot Magelang. Silakan pergunakan untuk akses transportasi pariwisata, jika nanti objek wisata dan destinasi wisata sudah dibuka,” katanya usai menjadi narasumber Pelatihan Tata Kelola, Bisnis, dan Pemasaran Destinasi Pariwisata, Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Magelang, di Hotel Atria Magelang, Rabu (6/10).

Dia optimis, jika tempat-tempat wisata lain, diberikan akses transportasi umum, maka jumlah pengunjungnya juga akan naik. “Misalnya ada pengunjung dari luar kota ke Gunung Tidar. Nah, mereka kita ajak ke destinasi wisata lain bisa difasilitasi dengan memasukkan mereka ke bus-bus Pemkot Magelang,” imbuhnya.

Sejauh ini, kata Aziz, Pemkot telah berusaha mengembangkan objek wisata baru, seperti kampung wisata, Gunung Tidar, museum-museum, dan wisata heritage. Hanya saja, kekayaan daya tarik wisata ini belum tereksplorasi dengan baik.

“Saya ingin ada cerita dan narasi yang bagus karena Kota Magelang kaya akan warisan budaya. Banyak terdapat museum, peninggalan sejarah, dan budaya yang menjadi saksi sejarah daerah ini, sehingga sangat layak kalau Kota Magelang menjadi daerah pariwisata,” ucapnya.

Artikel Menarik Lainnya :  HIR Jatmiko, Politisi Partai Hanura ini Ingin Bangkitkan Mental Kewirausahaan

Sementara itu, General Manager Atria Hotel Magelang, Chandra Irawan mengaku, pada PPKM level 3 yang diberlakukan di Kota Magelang, berimbas pada kenaikan okupansi hotel yang berada di Jalan Jenderal Sudirman, Magelang Selatan itu. Padahal, selama PPKM level 4 diberlakukan Juli-Agustus, penurunan pengunjung mencapai 90 persen.

“Sekarang perlahan mulai ada lagi, persentase kunjungan sekitar 50-60 persen seiring dengan pelonggaran PPKM yang dilakukan pemerintah,” katanya.

Chandra menilai, penyebab penurunan tamu hotel ini karena seluruh destinasi wisata di Magelang Raya ditutup total selama PPKM level 3. Padahal menurutnya, antara pariwisata dan perhotelan menjadi dua hal yang tidak dapat terpisahkan.

“Selalu sejalan dan beriringan antara wisata dan hotel. Kalau nanti levelnya sudah turun, dan wisata dibuka, saya yakin kunjungan ke hotel juga akan normal kembali,” katanya. (wid)