Cuaca Sering Berubah, Panenan Tembakau di Temanggung Menurun

Cuaca Sering Berubah, Panenan Tembakau di Temanggung Menurun
Tembakau merupakan komoditas unggulan dari Kabupaten Temanggung yang sangat bergantung dengan panas sinar matahari. Foto: istimewa.

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Para petani tembakau asal Kabupaten Temanggung terus berharap agar kondisi cuaca dapat tetap konsisten seperti yang mereka harapkan. Kondisi cuaca yang dimaksud adalah memperoleh pasokan terik panas sinar matahari agar hasil rajangan tembakau yang mereka jemur dapat kering hingga kadar tertentu sehingga memiliki kualitas yang tinggi.

“Dalam periode waktu-waktu seperti ini petani memang sangat membutuhkan sinar terik matahari karena kebanyakan sedang memasuki tahap penjemuran tembakau rajangan. Semoga cuaca yang mendukung ini dapat terus berlangsung karena kemarin sempat beberapa hari turun hujan yang mengakibatkan tembakau tidak kering maksimal,” jelas salah seorang petani asal Tlogomulyo, Yulianto (35), Rabu (14/9/2022).

Ia menambahkan, dengan memperoleh tembakau dengan kualitas hasil maksimal, para petani juga kian memiliki asa cukup tinggi tembakau yang mereka produksi dapat dibeli oleh pihak pabrikan dengan harga yang lumayan tinggi.

“Kalau tidak bisa kering dalam satu hari saja, hancur sudah Mas. Karena tembakau yang baik itu kering dengan proses penjemuran satu hari,” imbuhnya.

Mewakili para petani pada umumnya, ia berharap agar musim panen tembakau tahun ini dapat menghasilkan produk berkualitas, sehingga hasil penjualan kepada pihak pabrikan dapat memberikan limpahan rejeki bagi para petani.

“Biaya operasional untuk memproduksi tembakau mulai dari proses tanam, rajang, hingga penjemuran membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Jadi harapan kami harga beli pabrikan juga sebanding dengan biaya yang kami keluarkan,” harapnya.

Sementara itu, Bupati Temanggung, HM Al Khadziq menyampaikan bahwa biaya tanam dan biaya pengolahan tembakau tahun ini naik berlipat ganda akibat cuaca yang berubah-ubah.

Imbasnya, produksi tembakau Temanggung pada tahun 2022 ini diprediksi mengalami penurunan akibat perubahan iklim. Diperkirakan tahun ini produksi hanya berkisar di angka sekitar 8.000 sampai 10.000 ton tembakau kering.

Dengan hitung-hitungan tersebut, di atas kertas seluruh produk tembakau petani lokal akan mampu terserap sepenuhnya oleh pihak industri.

“Oleh sebab itu kami meminta pabrikan agar menyerap habis seluruh tembakau petani Temanggung seeta dapat membelinya dengan harga tinggi supaya para petani bukan saja bisa menutup biaya produksi, tetapi juga agar mendapatkan keuntungan ekonomi,” pinta Khadziq.

Bukan tanpa alasan, para petani sejatinya telah memiliki hitung-hitungan terkait biaya operasional yang harus dikeluarkan untuk bertanam hingga memproduksi tembakau sehingga masalah beli menjadi faktor yang cukup krusial.

Seperti diungkapkan Sekretaris DPC Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Temanggung, Yamuhadi. Menurutnya, berdasar perhitungan matematis analisa usaha, setiap 1 hektare lahan tanaman tembakau petani harus mengeluarkan biaya minimal Rp 70 juta.

Sehingga dengan asumsi tingkat produktifitas panen di angka 650 sampai 750 kilogram per hektare nya, minimal harga jual tembakau yang ideal bagi mereka adalah pada rentang Rp80.000 sampai Rp 100.000 atau lebih setiap kilogramnya.

Diberitakan sebelumnya, dari hasil kunjungan industri Pemkab Temanggung ke dua pabrikan rokok raksasa, yakni PT Gudang Garam dan PT.Djarum diperoleh kabar bahwa pada musim panen raya ini, estimasi serapan tembakau dari petani Temanggung mencapai angka 18.000 sampai 19.000 ton.

Dengan rincian PT.Gudang Garam sekitar 15.000 ton dan PT.Djarum antara 3.000 sampai 4.000 ton. (riz)