Covid-19 Naik, Masyarakat Jurangombo Utara Bangkitkan Peran Satgas Jogo Tonggo

DISKUSI. Keaktifan Satgas Jogo Tonggo di Jurangombo Utara menggelar diskusi pencegahan penyebaran Covid-19 (foto: prokompim kota magelang)
DISKUSI. Keaktifan Satgas Jogo Tonggo di Jurangombo Utara menggelar diskusi pencegahan penyebaran Covid-19 (foto: prokompim kota magelang)

KAMPUNG TANGGUH KOTA MAGELANG

MAGELANGEKSPRES.COM, MAGELANG – Kelurahan Jurangombo Utara, Magelang Selatan menjadi satu dari 17 kelurahan di Kota Magelang yang mampu menangani pandemi Covid-19 melalui peran Satgas Jogo Tonggo. Meski sempat terjadi lonjakan kasus, pada awal bulan Juni lalu, namun sekarang perlahan kasus mulau melandai berkat fungsi Satgas Jogo Tonggo kembali dikuatkan.

Lurah Jurangombo Utara, Sumijan mengatakan bahwa kondisi ini dipengaruhi ketatnya pengawasan protokol kesehatan yang dilakukan Satgas Covid-19 Kota Magelang, dan Satgas Jogo Tonggo tingkat RW. Ia tak menapik bahwa pasca-Lebaran lalu memang ada penurunan performa dari para anggota Satgas Jogo Tonggo, sehingga memengaruhi pencegahan optimal dari tatanan lingkungan RT/RW.

”Tetapi sekarang dengan kesadaran sendiri, masyarakat mulai aktif kembali. Itu juga tidak lepas peran kelurahan yang intens memberikan sosialisasi, menindaklanjuti arahan dari Walikota Magelang untuk memastikan segala ketentuan di dalam PPKM Skala Mikro,” kata Sumijan, Minggu (27/6).

Selain itu, sosialisasi penerapan protokol kesehatan, seperti mengenakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun (3M) juga intens digelar di tengah masyarakat.

”Aktif pendekatan ke warga dengan memberi penjelasan melalui skala kecil di tingkat RT. Untuk menjaga masing-masing lingkungan dengan protokol kesehatan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, semenjak ada kenaikan kasus yang mempengaruhi jumlah pasien isolasi mandiri di Kelurahan Jurangombo Utara, Satgas Jogo Tonggo yang merupakan gerakan swadaya masyarakat ini konsisten mengacu pada kearifan lokal. Kerja sama perangkat RT/RW dan Satgas Covid-19, Kepolisian, TNI, dan Pemkot Magelang dianggap paling efisien untuk bersama-sama memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

”Melihat perkembagan kasus yang memang ada kenaikan, maka kami merasa perlu menguatkan lagi Satgas Jogo Tonggo di semua wilayah Jurangombo Utara. Tampaknya, semua warga sudah dengan kesadaran sendiri, membangkitkan lagi peranan krusial Satgas Jogo Tonggo. Misalnya dengan berbagai sembako kepada para penyintas yang tengah menjalani isolasi, gotong-royong, intinya adalah masyarakat di sini masih kompak,” jelasnya.

Artikel Menarik Lainnya :  PTM Terbatas Mulai Digelar di Kota Magelang

Menurut Sumijan, penanganan Covid-19 berbasis komunitas atau masyarakat di tiap RT dan RW merupakan strategi yang paling realistis diterapkan di lingkungannya. Kondisi pandemi seperti ini, membuat kepedulian antarwarga semakin bergairah lagi.

”Ada program Cantelan Berbagi, di mana warga yang kurang mampu disediakan makanan swadaya masyarakat. Bedanya kalau dulu kita taruh di pagar rumah warga, kalau sekarang langsung diberikan kepada mereka yang sedang menjalani isolasi mandiri, supaya tidak perlu untuk keluar rumah, sekadar mencari makanan atau kebutuhan sehari-hari,” terangnya.

Peran Satgas Jogo Tonggo di tingkat RW di Kelurahan Jurangombo Utara, imbuhnya, juga sangat aktif dalam mendistribusikan bantuan. Satgas juga berperan mengedukasi kepada warga, agar tidak menganggap bahwa penyintas Covid-19 sebagai aib.

”Alhamdulillah belum pernah terjadi pengucilan. Kalau ada yang kena, langsung dibantu, dikirim sembako. Satgas keamanan juga rutin memantau, untuk memastikan mereka yang sedang menjalani isolasi, benar-benar isolasi, dan sementara tidak keluar rumah dulu,” ucapnya.

Menurut Sumijan, keseriusan menangani pandemi Covid-19 harus melibatkan semua sektor. Selain perhatian ekonomi, kebutuhan dasar para penyintas, dan kedisiplinan masyarakat melaksanaan 3M, tak kalah penting adalah menjaga lingkungan agar tetap bersih. Di kelurahannya, setiap pekan selalu dilakukan penyemprotan disinfektan di tempat publik maupun rumah warga.

”Kami melalui Satgas Jogo Tonggo juga aktif melaksanaan pantauan terhadap kemungkinan tamu dari luar. Adanya Cantelan, penyemprotan disinfektan, dan pendataan warga yang keluar masuk di Jurangombo Utara sudah dilakukan sejak lama. Terlebih terhadap tamu, kami sangat selektif agar menunjukkan keterangan negatif tes swab,” tuturnya.

Selain aktif dalam pencegahan Covid-19, masyarakat Jurangombo Utara juga mempertahankan kualitas lingkungan dengan menghidupkan kembali bank sampah dan kampung organik. Jurangombo Utara yang sejak dulu dikenal sebagai sentra olahan aloevera (lidah buaya) itu, kini perlahan mulai digagas kembali, setelah berhenti karena adanya pandemi Covid-19.

Artikel Menarik Lainnya :  Hadiah Utama Undian Bapas 69 Dua Mobil Diraih Nasabah Kantor Kas Krasak dan Srumbung

Saat dirintis tahun 2016 lalu, jumlah peminat budidaya lidah buaya kian pesat. Masyarakat yang didominasi para ibu rumah tangga itu memanfaatkan lahan pekarangan yang dikemas bertingkat untuk ditanami tanaman bermanfaat.

Salah satu pegiat tanaman aloevera Jurangombo Utara, Nur menjelaskan bahwa saat ini hasil karya para ibu rumah tangga di tempat itu sangat kompleks. Lidah buaya bisa diolah menjadi permen, teh, dan shampoo anti kutu aloe lice. Sampai saat ini budidaya masih terus eksis, terlebih dengan bantuan yang diberikan oleh Pemkot Magelang dan pemerintah pusat.

TIdak sampai di situ, kreasi warga Kampung Jagoan, Jurangombo Utara juga melaksanakan berbagai upaya untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat. Warga berinisiasi untuk mengolah limbah dan sampah menjadi bernilai jual. Prosesnya, lewat bank sampah. Jadi, sampah disetorkan dari warga untuk kemudian dipilah dan diaur-ulang.

”Hasil karya kerajinan juga sudah cukup banyak, seperti sampah dijadikan tas, taplak, celemek, dan lain-lain. Kemudian menggunakan lagi lampu pijar dengan mengganti bagian tertentu. Termasuk mendaur ulang sampah organik menjadi pupuk cair dan kompos,” imbuhnya. (prokompim/kotamgl)