Cara Pemkot Magelang Kurangi Produksi Sampah Lewat Lomba

Duta Bank Sampah Kota Magelang, Niken Ichtiaty Nur Aziz memberikan hadiah berupa uang pembinaan kepada para juara lomba bank sampah dan kampung organik di Pendopo Pengabdian kemarin. (foto : dokumen DLH)
JUARA. Duta Bank Sampah Kota Magelang, Niken Ichtiaty Nur Aziz memberikan hadiah berupa uang pembinaan kepada para juara lomba bank sampah dan kampung organik di Pendopo Pengabdian kemarin. (foto : dokumen DLH)

KOTA MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.COM – SAMPAH masih menjadi persoalan utama di Kota Magelang untuk segera dituntaskan. Sebab kota seluas 18,53 kilometer persegi ini, memiliki produksi sampah cukup tinggi, mencapai 60-70 ton per hari. Sebuah hitungan yang tinggi, jika diukur dengan jumlah penduduk yang tak sampai 130.000 jiwa.

Duta Bank Sampah Kota Magelang, Niken Ichtiaty Nur Aziz mengatakan bahwa perlu upaya serius untuk mengurangi produksi sampah. Upaya reduksi sampah membutuhkan strategi komprehensif antara lain pemilahan, pengolahan, dan pengelolaan sampah.

”Sampah yang dibuang ke Tempat Pengelolaan Sampah Akhir (TPSA) Kota Magelang itu benar-benar sampah yang memang tidak ada nilainya dan sudah tidak bisa diolah lagi. Dengan begitu, maka produksi sampah di Kota Magelang bisa tereduksi,” kata Niken, usai menyerahkan hadiah lomba bank sampah se-Kota Magelang di Pendopo Pengabdian, Selasa (16/11).

Istri Walikota Magelang dr Muchamad Nur Aziz, yang juga Ketua Tim Penggerak PKK tersebut menjelaskan, strategi lain yang tidak kalah penting adalah meningkatkan kesadaran warga. Pengelolaan sampah dengan baik harus menjadi budaya semua kalangan dan usia.

”Harapan kami tentunya tidak hanya warga dewasa yang terlibat dalam pengurangan sampah, tapi mulai anak-anak usia dini sudah dibangun mindset untuk mengelola sampah dengan baik,” tuturnya.

Dirinya mengatakan bahwa pengelolaan sampah dengan baik memerlukan perubahan pola pikir masyarakat. Wilayah kota bukan sekadar terlihat bersih dan rapi, namun masyarakatnya memiliki budaya mengelola sampah dengan baik.

”Kita harus memulai kegiatan pengurangan sampah dengan aktivitas 3R (reduce-kurangi, reuse–guna ulang, recycle–daur ulang). Lomba bank sampah dengan hadiah ratusan yang diinisiasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) ini layak diapresiasi, karena tujuannya agar pengelolaan sampah menggelora di semua kalangan,” jelasnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Alhamdulillah! Dua Guru di Kota Magelang Raih Medali Emas Ajang Gurulympics 2021

Ia menilai, kemajuan masyarakat modern bisa dimulai dengan pengelolaan sampah sehingga dapat dimanfaatkan kembali. Seperti pemanfaatan maggot, yang mampu mendegradasi sampah organik.

Kemudian sampah anorganik yang terpilah dapat ditabung melalui bank sampah untuk selanjutnya di-recycle di industri daur-ulang sehingga mampu menghasilkan nilai lebih.

“Di kota-kota maju dunia, contoh saja di Tokyo Jepang, kita akan menemukan bagaimana seluruh masyarakat mengurus sampahnya. Sampah bukan saja jadi urusan pemerintah, tapi warganya juga sudah memiliki budaya bagaimana menanganinya. Hal seperti inilah yang saya harapkan bisa diadopsi masyarakat Kota Magelang,” paparnya.

Sementara itu, Kepala DLH Kota Magelang, Otros Trianto menambahkan, lomba bank sampah dan kampung organik ini diikuti 124 peserta. Setidaknya ada 7 kategori yang dilombakan antara lain Lomba Kampung Organik Tingkat Lanjut, Kampung Organik Tingkat Pemula, Lomba Bank Sampah Tingkat Lanjut, Bank Sampah Tingkat Pemula, Bank Sampah Perangkat Daerah, Bank Sampah Tingkat Sekolah, dan Lomba Daur Ulang.

“Ada dua kategori lomba yaitu kampung organik dan bank sampah. Untuk bank sampah, kategori dibagi berdasarkan peserta yaitu masyarakat umum, perangkat daerah atau instansi, dan sekolah-sekolah. Total hadiahnya mencapai Rp161 juta karena ada 35 juara dari semua kategori,” ucapnya.

Duta Bank Sampah Kota Magelang, Niken Ichtiaty Nur Aziz didampingi Kepala DLH Otros Trianto memberikan motivasi kepada para juara lomba bank sampah dan kampung organik seusai penyerahan hadiah kemarin. (foto : dokumen DLH)
MOTIVASI. Duta Bank Sampah Kota Magelang, Niken Ichtiaty Nur Aziz didampingi Kepala DLH Otros Trianto memberikan motivasi kepada para juara lomba bank sampah dan kampung organik seusai penyerahan hadiah kemarin. (foto : dokumen DLH)

Ia berharap, output dari lomba ini mampu membangkitkan semangat warga dan pengurus bank sampah, agar tetap melakukan aktivitas penanganan sampah seperti sebelumnya. Sebab, ia menilai jika bank sampah merupakan salah satu strategi pengelolaan sampah terbaik sejauh ini.

“Harapannya 3R yaitu reuse, reduce, recycle, bisa terlaksana dengan baik, sehingga bisa mengurangi produksi sampah di Kota Magelang. Ke depan, kami berencana menggelar lomba serupa, dengan hadiah yang lebih besar lagi,” tuturnya.

Artikel Menarik Lainnya :  Sukses Sulap Sampah Jadi Rupiah, Potret Bank Sampah Bougenville Jurangombo Utara

Pada lomba ini, gelar juara kategori bank sampah tingkat lanjut berhasil diraih Bank Sampah Bougenville Jurangombo Utara. Kemudian Bank Sampah Maju Lancar Tidar Selatan menjadi juara kedua dan Bank Sampah Bersemi Cacaban, sebagai juara ketiga.

Sementara untuk kategori pemula, juara diraih Bank Sampah Kuncup Mekar Wates. Juara kedua, Bank Sampah Sari Makmur Kelurahan Kedungsari dan Bank Sampah Gemah Ripah, Wates, sebagai juara ketiga.

Kemudian, kategori bank sampah tingkat sekolah, Bank Sampah SMP Negeri 6 berhasil menjadi juara pertama, kemudian SMP Negeri 5 juara kedua, dan SD Katolik Santa Maria meriah juara tiga.

Selanjutnya, kategori perangkat daerah dimenangkan oleh Bank Sampah RSUD Tidar, kemudian DPMPTSP meraih juara kedua, dan Bank Sampah Kecamatan Magelang Utara menjadi juara ketiga.

Lalu pada lomba kreasi daur ulang tingkat Kota Magelang, Bank Sampah Sumber Rejeki Kramat Utara, meraih predikat juara. Disusul kemudian Bank Sampah Gemah Ripah Wates sebagai runner-up, dan Bank Sampah Maju Lancar Tidar Selatan sebagai juara ketiga.

Di setiap kategori juga terdapat juara harapan 1 dan 2, sehingga total ada 35 bank sampah yang menerima hadiah jutaan rupiah.

”Dengan hadiah itu kami harapkan mampu memotivasi masyarakat untuk lebih baik lagi mengelola bank sampah dan kampung organik. Bagi yang belum menyabet juara, jangan berkecil hati, karena tahun depan, lomba akan diadakan lagi,” ungkap Otros. (adv)