Bupati Wonosobo Prihatin, Harga Migor Tak Kunjung Turun

DIWAWANCARAI. Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat saat diwawancarai.
DIWAWANCARAI. Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat saat diwawancarai.

WONOSOBO, MAGELANGEKSPRES.COM– Memasuki pertengahan bulan Ramadan, harga kebutuhan pokok masyarakat semakin menaik. Bahkan minyak goreng (migor) curah yang sudah diatur HET nya masih cukup tinggi di pasaran. Migor tersebut masih di angka Rp19 ribu per liter.

Kondisi tersebut jelas menyulitkan masyarakat yang pendapatannya belum sepenuhnya mengalami perbaikan lantaran diterpa pandemi sejak dua tahun lalu. Diharapkan pemerintah harus bersikap lebih tegas dalam menerapkan kebijakan.

“Saya prihatin, kondisi ekonomi belum pulih, tapi harga harga kebutuhan pokok justru masih tinggi, terutama minyak goreng yang sudah diatur oleh pemerintah, tapi harganya di atas HET,” ungkap Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat.

Menurutnya, dari informasi tim pengendali inflasi daerah, bagian perekonomian dan juga disdagkop UMKM, ditemukan bahwa harga minyak goreng curah belum mengalami penurunan. Sementara harga migor jenis kemasan sederhana maupun premium juga naik harga.

“Ya kasihan kalau kebutuhan pokok terus naik. Saya dengar harga migor curah saja masih Rp19 ribu perliter. Sementara yang kemasan sudah Rp25 ribu per liter,  jelas itu memberatkan, beli dua liter saja sudah Rp50 ribu,” katanya.

Afif menambahkan, jika harga kebutuhan pokok masyarakat terus mengalami kenaikan, maka daya beli masyarakat berpotensi turun. Di sisi lain, naiknya kebutuhan pokok juga akan mengurangi kebahagian masyarakat dalam merayakan hari raya Idul Fitri tahun 2022.

“Saya minta dinas terkait, pantau terus kondisi pasar. Selain itu juga akan kita gelar pasar murah untuk warga miskin, meski itu sangat terbatas,” ucapnya.

Untuk kebutuhan pokok yang lain dan bersifat strategis, seperti LPG dan BBM, mantan ketua DPRD itu meminta kepada pertamina untuk memastikan ketersediaan LPG bagi rakyat dan BBM bersubsidi dalam kondisi cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Beberapa waktu lalu kita mendapatkan informasi, banyak warga miskin di beberapa desa mengeluh, tidak mendapatkan pelayanan gas elpiji bersubsidi. Kita minta ada penanganan cepat dari pihak agen, elpiji bersubsidi seperti ukuran 3 kilogram harus diprioritaskan bagi warga miskin,” katanya.

Sedangkan untuk BBM bersubsidi, seperti solar dan pertalite, dipastikan pasokan sehingga tidak ada antrian panjang di SPBU atau kelangkaan. Sebab, bulan ini hingga lebaran nanti masuk kategori high season, permintaan akan meningkat. (gus)