Puncak Serangan DBD Diprediksi hingga Maret

0
183
Puncak Serangan DBD Diprediksi hingga Maret
FOGGING. Petugas dari Dinas Kesehatan Kota Magelang melakukan pengasapan di SD Pantekosta, sebagai antisipasi penyebaran nyamuk aedes aegypti, kemarin.

MAGELANG SELATAN – Tingginya intensitas hujan di Kota Magelang harus diwaspadai. Terutama ancaman penyakit mematikan yang biasa hadir di musim penghujan yakni demam berdarah dengue (DBD).

Pemkot Magelang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) memprediksi puncak serangan DB terjadi hingga Maret 2019 mendatang. Untuk itu, pemkot mengimbau agar warga Kota Magelang waspada terhadap serangan DBD di bulan Maret.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan Kota Magelang, Yis Romadon mengatakan bahwa berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, serangan DB akan mencapai puncaknya pada bulan Februari.

“Tetapi tahun ini, pergantian musim kemarau ke musim hujan agak terlambat. Sekitar bulan Oktober kemarin, jadi kami perkirakan kalau kasus DBD akan mencapai puncaknya sekitar Maret,” katanya, Rabu (23/1).

Sampai dengan 23 Januari 2018, pihaknya mencatat korban pengidap DBD sebanyak 30 orang. Namun dari sekian itu, hanya 4 penderita yang sudah dinyatakan positif DBD.

“Empat kasus ini merupakan warga ber-KTP Kota Magelang. Kami mendapatkannya dari rumah sakit yang ada,” tuturnya.

Perbandingan tahun lalu pada bulan yang sama, kata Yis, kasus DBD di Kota Magelang mengalami penurunan. Tahun lalu tercatat ada 12 kasus pada bulan Januari.

“Tahun kemarin puncaknya pada bulan Februari, ketika intensitas hujan sedang tinggi-tingginya,” paparnya.

Untuk mencegah, pihaknya menggalakkan program satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik). “Jadi setiap rumah harus ada satu anggota keluarga yang aktif memantau ada jentik nyamuk atau tidak di dalam rumahnya,” kata Yis.

Terkait pencegahan jentik nyamuk, Dinkes membatasi fogging atau pengasapan di kampung-kampung. Pengasapan hanya boleh dilakukan jika ada korban yang memang sudah positif terkena demam berdarah. Jika tidak, maka fogging lebih dihindari.

“Sebab fogging itu hanya membunuh nyamuk dewasa. Sedangan jentiknya tidak mati. Untuk mematikannya, habitatnya di genangan air itu harus dimatikan. Makanya, satu rumah satu jumantik ini harus benar-benar dijalankan,” kata dia.

Sepanjang bulan ini, Dinkes telah melakukan pengasapan di 10 titik. Fogging akan langsung dilakukan jika di kawasan tersebut sudah ada indikasi warga terserang DBD dengan ditemukannya minimal tiga orang terjangkit panas dan demam.

“Kemudian mempertimbangkan faktor lain yaitu angka jentiknya kurang dari 90 persen barulah kita fogging. Jadi tidak setiap orang yang ingin fogging lalu kita datangi, tapi kita lebih melakukan pembatasan dan pertimbangan seperti itu,” terangnya.

Yis menyebutkan beberapa kelurahan yang rawan terserang DB di antaranya Kelurahan Kemirirejo, Jurangombo Selatan, Tidar Utara, dan Kramat Utara. Kemudian, tempat fasilitas publik seperti pasar tradisional, taman, sekolah, terminal, dan lain sebagainya juga menjadi skala prioritas pengasapan.

“Kemungkinan kasus DBD akan mulai turun pada April, Mei, dan seterusnya sampai kemarau tiba. Selain fogging kita juga rutin menyosialisasikan 3M dan mendistribusikan abate ke tiap kelurahan,” pungkasnya. (wid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here