Populasi Kambing Kaligesing Kurang

0
217
Populasi Kambing Kaligesing Kurang
PENJELASAN. Sugiharto memberikan penjelasan kepada mahasiswa Jepang asal Purworejo yang mengunjungi peternakan Kambing Kaligesing di Edu Farm Desa Donorejo, kemarin.

//Edu Farm Donorejo Cetak Para Peternak//

PURWOREJO – Minat masyarakat, khususnya generasi muda, untuk berwirausaha dengan beternak Kambing Kaligesing masih rendah. Akibatnya, populasi dan kuantitas kambing yang dulu disebut kambing peranakan ettawa (PE) tersebut cenderung stagnan.

Hal itu diungkapkan oleh Sugiharto (42), pemilik pusat pendidikan peternakan atau Edu Farm Gunung Kelir Cipta Mandiri di Desa Donorejo Kecamatan Kaligesing, Sabtu (2/2). Menurutnya, permintaan pasar terhadap Kambing Kaligesing saat ini terus meningkat. Sementara ketersediaan kambing yang ada belum dapat memenuhi.

“Kebutuhannya sangat tinggi, tapi tingkat produksi kita masih ajeg. Sampai hari ini, 25 persen permintaan pasar saja kita belum bisa memenuhi,” ungkapnya.

Berangkat kondisi itu, Sugiharto yang akrab disapa Totok terus mengoptimalkan keberadaan Edu Farm. Totok yang tercatat sebagai pengurus DPP Perkumpulan Peternak Kambing Kaligesing  Nasional (Perkkanas) juga terus mengajak kelompok usaha atau peternak mandiri untuk dapat beternak dengan pola yang baik.

Totok menyebut, keberadaan Edu Farm kian dikenal dan diakui warga atau peternak dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, tidak sedikit perguruan tinggi atau instansi telah menjalin kerja sama dengan Edu Farm yang berada tidak jauh dari lokasi wisata Goa Seplawan tersebut.

Saat ini rata-rata peserta yang mengikuti pelatihan mencapai 8 hingga 12 orang per bulan.

“Paling banyak justru dari luar provinsi, seperti Sumatera, Sulawesi, dan kota-kota besar di Indonesia. Untuk perguruan tinggi sudah banyak, seperti STTP Magelang, UGM, Undip, dan Unsoed,” sebutnya.

Edu Fram menjadi wahana mengenal sekaligus belajar beternak kambing. Mulai dari manajemen pemilihan bibit,  perawatan, reproduksi, kesehatan, hingga pemasaran.

Terdapat 3 paket yang disediakan. Paket pertama yakni introduction atau tingkat dasar dengan durasi waktu 3 hari. Paket kedua yakni Medium dengan durasi pelatihan selama 2 pekan dan paket ketiga yakni tingkat Mahir atau profesional selama 25 hari.

“Kami sediakan tempat home stay atau penginapan dengan Kapasitas sekitar 12 orang,” jelasnya.

Edu Farm berkomitmen mencetak para peternak yang memiliki kemampuan meningkatkan kualitas dan kuantitas ternak dengan menerapkan pola ternak secara tepat. Pasalnya, tidak sedikit peternak sulit berkembang atau bahkan merugi akibat pola beternak yang keliru.

“Untuk masalah kesehatan hewan misalnya, banyak peternak yang tidak mau berubah dari pengetahuan lama. Nah, di sini mereka diajari. Kami juga melibatkan dokter hewan dan dinas terkait sehingga peroalan penyakit dapat dicegah,” tandasnya.

Keberadaan Edu Farm mendapat perhatian dari Megasari Marsela, dokter hewan asal Purworejo yang sedang menempuh studi lanjutan di Universitas Hokkaido Jepang. Di tengah kesibukannya menjalankan tugas penelitian di Jogjakarta, ia menyempatkan diri untuk melihat lebih dekat Edu Farm.

“Edukasi yang dikembangkan disini bagus untuk menyadarkan peternak, khususnya terkait kesehatan. Kesehatan hewan menjadi hal yang penting, tapi pada umumnya peternak tradisional egonya tinggi dan tidak mau mengikuti perkembangan. Beberapa kasus yang saya temui, kadang ada yang justru yang ingin mengajari tenaga kesehatan atau dokter,” ungkapnya.

Salah satu peserta pelatihan, Muhammad Vetto (20), mahasiswa semester 5 Jurusan Peternakan Unsoed Purwokerto, mengaku mendapatkan pengalaman khusus selama menjalani praktik kerja lapangan bersama sejumlah mahasiswa lainnya.

“Di kampus kita lebih banyak mempelajari teorinya dan disini kita bisa mempraktikan untuk mendapatkan pembenaran. Adanya penangan-penanganan secara langsung, seperti kambing melahirkan,kita jadi lebih paham,” ujarnya. (top)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here