Pesta Budaya Memantik Wisatawan Datang ke Magelang

0
700
Pesta Budaya Memantik Wisatawan Datang ke Magelang
BEREBUT. Ribuan warga berebut gunungan getuk maupun palawija, setelah proses grebeg selesai dipimpin Walikota Magelang, Sigit Widyonindito di Alun-alun, kemarin.

MAGELANG – Pemkot Magelang terus melakukan upaya mempromosikan wisata daerah bagi turis domestik maupun asing. Terutama wisatawan yang ingin mempelajari tentang budaya dan wisata heritage di Kota Sejuta Bunga.

Walikota Magelang Sigit WIdyonindito mengatakan Kota Magelang menjadi daerah tertua kedua di Indonesia, setelah Palembang. Dengan usianya ke-1113 tahun tak pelak membuat Kota Magelang kaya akan sejumlah peradapan dan budaya yang tinggi, sehingga menarik perhatian bagi wisatawan.

Selain itu, kota yang berada di pusatnya Pulau Jawa ini juga sarat akan legenda, cerita rakyat, dan kekayaan budaya yang tidak ternilai. Kota Magelang sering dijadikan pusat oleh pemerintah kolonial Inggris, Belanda, hingga Jepang. Pemerintah kolonial akrab dengan Magelang karena menjadikan daerah itu sebagai basis militer.

Menyibak kenyataan itu, Sigit merasa ingin Kota Magelang kembali menggaungkan kejayaannya. Terutama dalam bidang pariwisata. Untuk itu, ia pun sangat mendukung kelestarian budaya di era modern ini.

Salah satunya adalah tradisi setiap perayaan hari jadi. Pada 11 April 2019 lalu, Kota Magelang merayakan Hari Jadi ke-1113. Banyak hiburan, budaya, kesenian yang ditampilkan. Seperti grebeg getuk, Minggu (28/4). Tak sekadar gelaran pesta rakyat, kehadiran festival budaya itu juga untuk memantik wisatawan berkunjung ke Kota Sejuta Bunga.

Tradisi ini terus berkembang, bahkan hingga tingkat kelurahan. Hampir semua dari 17 kelurahan yang ada, baru-baru ini aktif menggelar kirab budaya lewat tradisi nyadran.

”Ini tentunya jadi inovasi kreatif, yang dapat mendongkrak tingkat kunjungan pariwisata. Sektor pariwisata menjadi penting, karena dampak multi player efect. Tidak hanya hotel yang ramai, pusat-pusat kuliner di Kota Magelang pun tertular virus positif adanya rangkaian kegiatan kebudayaan semacam ini,” kata Sigit.

Sigit juga menyingung pascapemilu 17 April lalu, di mana Kota Magelang mampu melangsungkan pesta demokrasi itu dengan tertib dan kondusif. Menurutnya, grebeg getuk sekaligus menjadi pemacu semangat masyarakat, untuk kembali bersatu.

”Yang tadinya tidak saling tanya, karena beda pendapat, sekarang waktunya kembali bersama. Itu pesta demokrasi, dan sudah selesai kita laksanakan. Sekarang waktunya kita mengadakan pesta rakyat, grebeg getuk sekaligus mempersatukan dan melestarikan budaya kita,” ujarnya.

Dia berharap tradisi perayaan grebeg getuk, tiap memperingati hari jadi ini tidak sekadar dilakukan karena rutinitas saja. Melainkan adanya inovasi dan kreasi sehingga helatan ini akan selalu menimbulkan kesan di hati masyarakat.

”Setiap tahun harus berbeda. Jadi tidak monoton, tapi tiap tahun ada perubahan-perubahan yang membuat masyarakat penasaran dan tertarik untuk mengikutinya,” ucapnya.

Sebelum dilakukan rebutan gunungan getuk, terlebih dahulu ditampilkan tari kolosal Babad Mahardika yang disutradarai seniman Kota Magelang, Gepeng Nugroho. Tarian ini melibatkan sekitar 230 personel yang menceritakan sejarah kelahiran Kota Magelang.

Adapun terakhir dilangsungkan rebutan gunungan getuk, yang diawali dengan ajakan dari Walikota Magelang Sigit Widyonindito berebut gunungan. Ketika itu, warga yang sebelumnya berada di luar pagar langsung merangsek ke Alun-alun berebut gunungan getuk maupun hasil bumi dari 17 kelurahan.

Salah satu budayawan Magelang, Budiyono menuturkan bahwa prosesi grebeg getuk sebagai ikon hari jadi Kota Magelang bukan semata diartikan sebagai upacara semata. Lebih dari itu, ada filosofi dan makna terdalam yang bisa diambil dari event berbalut seni dan budaya ini.

”Grebeg getuk merupakan salah satu kearifan lokal yang menjadi benteng-benteng budaya, khususnya di Kota Magelang. Generasi muda atau milenial masa kini pun diharapkan mampu mencermati kearifan tersebut,” ujar Budiyono yang juga Dosen dari Universitas Tidar (Untidar) tersebut.

Menurutnya, grebeg getuk yang diadakan secara meriah ini juga bisa diartikan sebagai ajang saling mempererat secara emosional untuk warga yang bermartabat. Kalau biasanya bersikap acuh tak acuh, maka sekarang saatnya kembali bergandengan tangan.

”Generasi milenial, barangkali perlu ada jembatan untuk dapat mencintai kembali budaya kita, maka grebeg getuk mungkin salah satunya. Termasuk di dalamnya para seniman yang saya ingin lebih aktif lagi menyinggung mereka, sehingga seni budaya terus bergemuruh,” katanya.

Pada grebeg getuk kali ini, Budiyono bersama Camat Magelang Tengah, Tugono memimpin jalannya kirab dari Kantor PDAM menuju Alun-alun Kota Magelang. Kirab diikuti Walikota Magelang Sigit Widyonindito, Wakil Walikota Magelang Windarti Agustina, dan segenap anggota Forpimda.

Seperti tahun sebelumnya, sebelum gunungan gethuk digrebeg, terlebih dahulu ditampilkan 17 gunungan palawija dari 17 kelurahan yang ada. Setiap kelurahan menampilkan kreasi masing-masing dan tidak sedikit yang membawa misi tertentu.

Salah satunya, Kelurahan Wates yang membawa cerita siklus pertanian dari proses menanam, mengusir hama, hingga memanen. Selain gunungan palawija, kelurahan ini pun menyajikan aksi teatrikal tikus yang seolah mengganggu proses tanam padi.”Kami angkat pertanian, karena memang di Wates masih ada warga kami yang menjadi petani. Kita dandani anak-anak muda bertopeng tikus, seolah menjadi hama bagi tanaman padi. Lalu ada juga ibu-ibu yang dandan ala Dewi Sri, dan dandanan yang lain,” kata Kepala Kelurahan Wates, Ravi Pagas Makalosa. (wid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here