Pemulangan Jemaah Lewat Fast Track

0
159
Pemulangan Jemaah Lewat Fast Track
Pemulangan Jemaah Lewat Fast Track

Kemenkes Turun Tangan Cegah Keracunan Jemaah

MAKKAH – Pemerintah Arab Saudi melakukan uji coba fast track atau jalur cepat untuk proses pemulangan jamaah haji termasuk dari Indonesia. Sementara itu, layanan transportasi antar jemput bagi jemaah haji dari hotel ke Masjidil Haram yang biasa disebut bus shalawat kembali beroperasi setelah sempat dihentikan jelang puncak haji, 6 14 Agustus 2019.

“Pada tahun ini Arab Saudi melakukan uji coba fast track untuk proses pemulangan jamaah haji sebagaimana yang mereka lakukan untuk proses kedatangan,” kata Kepala Daerah Kerja Mekkah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2019 Subhan Cholid di Kota Mekkah, kemarin (15/8).

Dikatakannya, saat kedatangan Pemerintah Arab Saudi menerapkan program fast track untuk proses imigrasi yang dipercepat dimana seluruh prosesnya dilakukan di Tanah Air. Dengan begitu, saat ketibaan jamaah di Jeddah atau di Madinah, jamaah tidak perlu lagi menjalani proses pemeriksaan imigrasi.

“Ini terbukti mempercepat waktu tunggu dan waktu antrean jamaah. Mengurangi lelah jamaah. Nah pada haji tahun ini Arab Saudi melakukan uji coba hal serupa tapi untuk proses pemulangan. Mereka sebut iyab,” katanya.

Hal itu kata dia, akan dilakukan oleh Pemerintah Arab Saudi untuk kepulangan pertama jamaah haji Indonesia. “Dimulai dari JKS 4 sampai dengan 28 Agustus 2019 atau sekitar 11 hari,” imbuhnya.

Dalam penerapannya tidak hanya pada personal jamaahnya yang akan melalui proses iyab tapi juga pada bagasi atau barang bawaan jamaah. “Praktiknya seperti apa masih akan terus didalami dan dikoordinasikan dengan penerbangan. Apakah nanti pengambilan sidik jari atau imigrasi di Mekkah, atau tetap di bandara, atau bahkan menggunakan bandara ketika saat kedatangan sudah entri,” katanya.

Subhan mengakui sampai saat ini belum ada sosialisasi resmi dan pihaknya berharap program iyab akan efektif bagi jamaah haji Indonesia dalam mengurangi kejadian keterlambatan panjang saat pemulangan.

Terlebih kapasitas bandara di Arab Saudi yang meskipun besar tapi sudah sangat padat. “Saudi menerbangkan 200 flight per hari. Antrian runway dan lainnya perlu kecermatan dan ketepatan waktu. Kemudian proses loading mulai dari imigrasi sampai sweeping butuh waktu lama. Itu sudah dibantu city check ini sejak dua hari di hotel,” katanya.

Di sisi lain, Subhan menyebut layanan transportasi antar jemput bagi jemaah haji Indonesia dari hotel ke Masjidil Haram, pergi pulang, atau yang biasa disebut bus shalawat mulai kemarin (15/8), kembali beroperasi. Layanan ini sebelumnya dihentikan sementara jelang puncak haji, 6 14 Agustus 2019. “Bus shalawat mulai sore ini, paling lambat habis Asar, siap mengantar jemaah dari terminal terdekat di Masjidil Haram menuju hotel,” terangnya.

Ada tiga terminal terdekat Masjidil Haram yang digunakan oleh jemaah haji Indonesia. Pertama, Syib Amir untuk jemaah yang tinggal di kawasan Aziziah, Syisah, Raudlah, dan Jarwal. Kedua, Jiad untuk jemaah yang tinggal di kawasan Misfalah dan Rey Bakhsy. Ketiga, Bab Ali untuk jemaah yang tinggal di daerah Mahbas Jin. “Khusus untuk rute Bab Ali ke Mahbas Jin atau yang disebut rute taraddudi, kami masih menunggu pihak kepolisian untuk membuka jalur,” jelasnya.

Karena bus shalawat baru beroperasi setelah Asar, Asep Subhana mengimbau jemaah yang ingin beraktivitas ke Masjidil Haram dimulai jelang Magrib. “Untuk Salat Magrib, bus shalawat siap antar jemaah dari hotel ke Masjidil Haram. Bus shalawat ini akan beroperasi sampai pemulangan terakhir jemaah haji Indonesia,” tandasnya.

Terpisah Tim Sanitasi Kemenkes Daerah Kerja Madinah berhasil mencegah terjadinya kemungkinan keracunan makanan pada kelompok terbang yang tinggal di Maktab 50 Mina yakni BDJ 09, asal Kota Banjarmasin.

Berdasarkan siaran pers yang diterima Fajar Indonesia Network (FIN) dari Kementerian Kesehatan yang diterima di Jakarta, kemarin, tim sanitasi menemukan makanan yang diduga sudah tidak layak dan tak aman bagi kesehatan jika dikonsumsi oleh jamaah haji Indonesia.

Penanggung Jawab Tim Sanitasi Kemenkes Daker Madinah Ali Wardana sebelumnya mendapatkan laporan dari Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) melalui Sistem Informasi Kesehatan Jamaah Haji Indonesia (Siskohatkes) bahwa terdapat temuan makanan yang diduga tidak layak dikonsumsi.

“Kami langsung melakukan verifikasi melalui pemeriksaan organoleptik pada sampel makanan serta melakukan pemeriksaan higienis dengan menggunakan ATP meter pada sekitar jam 23 tadi malam,” tutur Ali.

Tim Sanitasi Kemenkes selanjutnya berkoordinasi dengan Seksi Katering Kementerian Agama untuk melakukan pemeriksaan cepat. Lalu diputuskan menarik seluruh kotak makanan yang diduga memiliki potensi atau dapat menjadi faktor risiko timbulnya permasalahan bagi kesehatan jamaah apabila tetap dikonsumsi. Berikutnya pihak katering segera memberikan makanan pengganti.

Dugaan sementara kejadian ini disebabkan karena ketiadaan pasokan listrik ketika terjadi hujan lebat di Mina pada Senin (12/8) sore. Saat itu pihak katering dalam proses penyediaan makanan bagi jemaah haji, sehingga akibatnya proses pengolahan dan pengiriman menjadi terganggu.

Tim sanitasi juga menyarankan kepada tim Kemenag untuk segera mengevaluasi dan memantau seluruh maktab yang bertanggung jawab terhadap konsumsi yang ada di Mina untuk memastikan kejadian serupa tidak terjadi di maktab atau kloter lainnya yang hasilnya tidak ditemukan adanya kasus serupa.

Agar kejadian yang sama tidak terulang, Ali mengimbau kepada TKHI dan jamaah haji agar lebih memerhatikan kondisi makanan yang akan dikonsumsi. “TKHI untuk lebih waspada lagi dalam hal pemantauan dan pendistribusian makanan sebelum ke jamaah haji. Lakukan tes organoleptik terlebih dahulu sehingga sebelum sampai kepada jemaah, betul-betul makanan tersebut terjamin baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya,” papar Ali.

Ali menganjurkan jamaah segera mengonsumsi makanan dan tidak membiarkan melewati batas toleransi yang sudah ditentukan. Meski demikian, ketika masih dalam batas waktu yang tertera pada label kotak katering, jamaah tetap harus memerhatikan dulu dari sisi bau, rupa dan rasa (organoleptik).

Proses pemeriksaan dan pengawasan makanan dari katering, baik pada aspek pengolahan dan pendistribusian menjadi tugas dari Tim Sanitasi Kemenkes. Upaya deteksi dini yang mereka lakukan terhadap potensi keracunan makanan menunjukkan peran vital tim sanitasi bagi kesehatan jamaah haji Indonesia. Mulai 2019, Tim Sanitasi Kemenkes dilengkapi peralatan baru yang dapat lebih menunjang kemampuan pengawasan dan deteksi dini mereka. (ful/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here