Jelang Ramadan, Warga Mengarak Air Dawung

0
786
Jelang Ramadan, Warga Mengarak Air Dawung
PROSESI. Bojong Banyu diawali dengan prosesi pengambilan air dari mata air tuk Dawung, sebagai pengingat bahwa mata air Dawung merupakan sumber air masyarakat dusun tersebut.

MERTOYUDAN – Tradisi padusan ‘Bojong Banyu’ kembali digelar warga Dusun Dawung, Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Kegiatan rutin tahunan tersebut untuk menyambut bukan Suci Ramadan, Rabu (1/5).

Kegiatan unik itu diawali kirab warga dengan mengenakan pakaian adat Jawa dan membawa air dalam kendi yang diambil dari mata air (tuk) Dawung yang terletak sekitar 100 meter di sebelah dusun. Air tuk dalam kendi tersebut diarak warga dan dibawa menuju tengah Dusun Dawung dengan diiringi musik gamelan dan tari-tarian. Sebelum diarak, dilaksanakan doa bersama di sumber mata air yang dipimpin sesepuh dusun setempat.

Ketua panitia kegiatan tersebut, Gepeng Nugroho, mengatakan, Bajong Banyu merupakan kemasan untuk mengembangan tradisi padusan yang dilaksanakan masyarakat.

”Seperti biasa jelang puasa diadakan padusan, tapi padusan kalau tidak dikemas dengan baik ya menjadi sesuatu yang biasa saja. Oleh karena itu kami kemas dengan kemasan seni budaya dan hiburan maka dibuat bajong banyu atau perang air,” ucap Gepeng.

Gepeng Nugroho menerangkan, secara prosesi Bajong Banyu adalah mengambil air dari sendang yang menjadi mata air di Dusun Dawung, dengan filosofi sederhana bahwa mata air tersebut merupakan sumber kehidupan masyarakat sekitar.

“Filosofinya sebenarnya kita mengingatkan mengambil air itu bukan hanya mengambil air saja, tapi ini mata air yang dari dulu ada menghidupi masyarakat sebelum ada PDAM masuk. Mandi nyuci di sini dan ini masih hidup sampai sekarang meskipun sudah jarang masyarakat mengunakan, dan kita juga memahamkan kepada masyarakat untuk selalu menjaga lingkungan kita,” terang Gepeng.

Usai acara prosesi pengambilan air, seluruh warga saling melempar air yang sudah dimasukkan ke dalam kemasan plastik. Masyarakat menyebutnya sebagai ”Bajong Banyu”. Meski harus basah kuyup terkena lemparan air mereka tetap antusias dan tampak bergembira.

“Tradisi perang air dipercaya oleh masyarakat sebagai simbol untuk melebur kesalahan antar warga. Semua saling memaafkan sehingga saat menjalankan puasa diharapkan dalam keadaan bersih, mulai dari hati, pikiran dan perbuatan,” imbuh Gepeng.(cha)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here