Harga Garam Makin Anjlok Rp250 per Kg

0
300
Harga Garam Makin Anjlok Rp250 per Kg
Harga Garam Makin Anjlok Rp250 per Kg

JAKARTA – Harga garam sejak bukan Juni 2019 sampai saat ini semakin melorot. Padahal saat ini sedang berlangsung panen garam.

Kemarin panen raya bulan Juli harganya tambah jatuh menjadi Rp300 per kilogram (kg), bahkan sampai ada yang Rp250 kg, kata Ketua Umum Himpunan Masyarakat Produsen Garam Indonesia (HMPGI), Edi Ruswandi kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (9/8).

Jatuhnya harga garam membuat petambak garam frustasi karena pendapatan mereka menjadi rata-rata Rp50 ribu per hari. Harga garam di tingkat petani Rp250-Rp300 per kg di bawah HPP (Harga Pokok Produksi).

Menurut Edi, anjloknya harga garam lantaran kelebian impor garam. Sebab saat ini masih banyak stok garam yang tertimbun di gudang-gudang.

“Tahun ini kuota garam impor 2,7 juta ton, dan akan terealisasi 2,6 juta ton. Padahal jumlah stok garam tahun lalu masih ada di gudang-gudang. Nah ini yang membuat garam dari petani tidak terserap dan harganya pun menjadi rendah, ujar dia.

Oleh karena itu, dia mendesak pemerintah melakukan tindakan nyata menyelamatkan petani garam yang kian terpuruk.

“Harusnya ada keadilan dari pemerintah, jangan biarkan impor masuk terus padahal jumlah stok garam masih banyak dari petani di saat panen raya,” tutut Edi.

Atas kondisi pergaraman yang semakin memprihatinkan, HMPGI sempat melayangkan protes kepada pemerintah pada 27 Juli 2019 lalu dengan menuntut garam untuk dimasukkan sebagai komoditas kebutuhan pokok dan barang penting sehingga ada penetapan harga garam yang layak.

Kita juga menuntut dicabutnya aturan Pemerintah No 9 Tahun 2018 tentang peraturan impor pergaraman yang banyak merugikan petani garam, tutur dia.

Harapan HMPGI, harga garam bisa di kisaran Rp 900/kg di tingkat petani atau Rp1.200/kg. Sejauh ini petani juga sudah meningkatkan kualitas garam menjadi lebih putih dan higienis.

“Kami juga sudah berinvestasi menambahkan geomembran baik itu dari inisiatif atau bantuan kementerian. Yang jelas secara kualitas garam rakyat sudah lebih baik tapi kenapa harganya masih tetap jeblok,” ucap Edi kesal.

Nah dia menduga ada pihak yang bermain merusak tata niaga garam. Sebab harga garam di tingkat pasar tidak berbeda jauh masih tetap stabil. Sebalinya di tingkat petani jauh menurun dari harga akhir tahun lalu yang sempat menginjak Rp 1.000 per kg.

“Pemerintah harus segera mencari oknum yang bermain dan menertibkannya agar tata niaga garam bisa lebih baik dan petani bisa mendapat harga yang wajar sesuai dengan kerja kerasnya menghasilkan garam,” Ucap Edi.

Melihat harga garam yang terus anjlok, Deputi Bidang Koordinasi SDA dan Jasa, Agung Kuswandono belum lama ini berjanji akan mencari solusi yang terbaik untuk petani garam.

“Kami cari solusi dengan pihak terkait. Kami hanya ingin tidak ada polemik terkait turunnya harga garam, semua sudah tertata dengan rapi dan kami sudah siapkan langkah-langkah yang jelas sampai dengan tahun 2024, bahkan sudah ada rencana pembangunan pabrik besar di Gresik, kata Agung.

Dijelaskan Agung, untuk garam rakyat, adalah garam yang kadar NaCl-nya plus impurities-nya mendekati garam industri, yakni garam dengan kualitas Level 1 (K1). Sementara, harga garam yang anjlok saat ini adalah garam dengan level K2 dan K3, yaitu berkadar NaCl dibawah standar yang telah ditentukan.

Utamanya kita harus terus edukasi petani garam untuk tidak produksi garam saja, tetapi agar diperhatikan juga kadar NaCl-nya, itulah pentingnya edukasi. Nah, kondisi saat ini, sebagian besar garam yang diproduksi kurang berkualitas akan tetapi minta harga tinggi, ya tidak bisa begitu, jelas dia.

Pihaknya menegaskan, akan menjalin kerja sama dengan kementerian/lembaga terkait lainnya supaya mendorong komoditas garam kembali menjadi barang kebutuhan pokok, atau barang penting.

Kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Kementerian Perdagangan melalui pertimbangan Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Perindustrian dan institusi terkait lainnya, tutur Agung.

Deputi Bidang Teknologi, Informasi, Energi dan Material Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Eniya Listiani memaparkan bahwa solusi agar Indonesia segera swasembada pangan melalui penambahan lahan total sekitar 40 ribu hectare (ha) dengan produksi garam sebanyak 4 juta ton per tahun.

Dengan konsep lahan terintegrasi dapat diperoleh produksi garam yang tinggi dengan kualitas mencapai garam industry. Selain itu, sedang dikaji potensi garam dari PLTU, di mana dari PLTU Paiton dapat diperoleh sekitar 100 ribu on garam per tahun, pungkas dia.(ds/din/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here