FLG Berbaground Burung, Turut Diramaikan Tarian Korea

0
257
FLG Berbaground Burung, Turut Diramaikan Tarian Korea
GARUDA. Para seniman menari dipanggung dengan latar belakang Burung Garuda Merapi, membangun suasana gagah dalam Festival Lima Gunung 2019.

DUKUN – Burung Garuda Merapi dengan sayap terkepak lebar menjadi background panggung Festival Lima Gunung (FLG) 2019 di Dusun Tutup Ngisor Desa Sumber Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang.

Sebagaimana diketahui, FLG merupakan pestanya orang desa dari lima gunung di sekeliling Magelang, yaitu Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing dan Menoreh.

Kepak sayap burung itu gagah menghiasi panggung yang sudah mulai ramai pagelaran pada tanggal 5 hingga 7 Juli, dimana pagelaran FLG tersebut merupakan pagelaran ke 18 kalinya.

Seniman kreator perancang dan pembuat burung tersebut, Ismanto mengatakan, dari sisi filosofi Burung Garuda dan Gunung Merapi merupakan suatu hal yang tidak bisa dipisahkan.

“Burung Garuda dan Gunung Merapi ibarat kesetiaan anak dengan ibu. Bila terjadi gejolak di Gunung Merapi, Burung Garuda selalu memberi tahu kepada masyarakat setempat.

Dalam hal ini yang dimaksud adalah Burung Alap-alap atau Elang Merapi. Figur hewan tersebut dipakai dalam Festival Lima Gunung tahun ini, sebagai simbol kesetiaan dan kasih sayang,” ucap Ismanto, Minggu (7/7).

Selain itu, lanjut Ismanto, Festival Lima Gunung 2019 mengusung tema “Gunung Lumbung Budaya” yang memberikan arti, bahwa kebudayaan sistem sosial masyarakat di pegunungan mayoritas justru lebih toleran dan beragam.

“Kebudayaan itu tidak hanya dalam lingkup kesenian rakyat atau kerajinan, tetapi budaya adalah perilaku hidup, ada etika, tepo seliro, sopan santun, menerima keragaman dalam kehidupan sosial masyarakat,” ungkap Ismanto seniman dari Desa Sengi Dukun.

Kegiatan FLG 2019 pada hari terakhir Minggu (7/7) menampilkan kirab budaya dan beragam pertunjukan tari.

77 kelompok kesenian. Selain dari lima gunung di Kabupaten Magelang, juga dari berbagai kota di Jawa dan luar Jawa, seperti Toraja, Kediri, Malang, Cilacap dan ada yang dari Korea.

“Yang dari luar Magelang menampilkan kesenian dari daerah masing-masing. Yang dari luar negeri justru malah menampilkan kesenian daerah Indonesia,” pungkas Ismanto.(cha)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here