Doa Keselamatan Negeri dari Puncak Gunung Tidar

0
138
Doa Keselamatan Negeri dari Puncak Gunung Tidar
UMBUL DONGA. Gubernur Jateng bersama Walikota Wakil Walikota, Bupati dan wakil bupati besama-sama berdoa meminta perdamaian NKRI, Minggu (24/3)petang.

//Ganjar Ikuti Selameten Puser Bumi//

MAGELANG SELATAN-Warga Magelang berinisiatif menggelar ‘Selametan Puser Bumi, Merawat NKRI ‘, untuk mendoakan  Pemilu tahun 2019 agar berjalan dengan lancar dan damai Minggu (24/3) petang di Puncak Gunung Tidar Kota Magelang. Pentingya acara ini membuat Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo datang dan mengikut prosesi ruwat bumi.

Kedatangan orang nomor satu di Jawa Tengah bahkan didampingi langsung Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito, Wakil Wali Kota Windarti Agustina, Bupati Magelang Zaenal Arifin, serta Wakil Bupati Edi Cahyana yang mengenakan pakaian adat jawa lengkap. Ganjar Pranowo beserta Sigit Widyonindito dan Zaenal Arifin pun ikut menuangkan air kendi di tugu yang dipercaya sebagai puser bumi pakuning jawa di Puncak Gunung Tidar, sebagai representasi penyucian.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengungkapkan hampir seluruh daerah di Jawa Tengah berdoa sesuai kultur mereka (masyarakat-red) masing-masing untuk kondisi Jawa Tengah dan Indonesia agar kondusif. Warga, menurut Ganjar, kemudian menghubungi dirinya untuk berdoa bersama. “Mereka kontak sama saya, Pak Gubernur kulo badhe bareng-bareng doa bersama dari kawan-kawan yang sedang menjalankan ini, dari doa dan doa. Untuk memohon kepada Allah SWT agar Jawa Tengah aman, agar Indonesia aman, agar Pemilu lancar,” katanya.

Ganjar menuturkan, dipilihnya Puncak Gunung Tidar dikarenakan pemilihan dan usulan warga yang ingin menggelar tumpengan di pakuning tanah jawa. Usulan tersebut, menurut Ganjar, kemudian diapresiasi dan dirinya langsung mengontak dan meminta izin Wali Kota Magelang.

“Pak Wali kemudian mempersilahkkan. Niki warga desa badhe nyiapke. Kemudian Pak Bupati juga ajeng mriku. Terus akhirnya kumpul di sini, dan semuanya berkumpul pada sore hari ini. Semua dengan kesederhanaan itu dengan adanya ketulusan warga,” ujarnya.

Masyarakat lanjut dia harus sadar, bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dengan berbagai macam perbedaan yang ada. Beda warna kulit, beda suku, agama, ras, golongan.

“Namun perbedaan itu harus menjadi pemersatu. Bedo partai yo kudu rukun (beda partai ya harus tetap rukun), arep milih presiden nek bedho-bedho pilihan ya kudu tetep rukun (mau memilih presiden meskipun berbeda-beda harus tetap rukun),” tambahnya.

Dalam kesempatan itu pula, Ganjar mengajak seluruh warga untuk berdoa bersama menjelang Pilpres 2019. Semoga pesta demokrasi tersebut berjalan lancar tanpa ada gangguan apapun.

“Mari kita berdoa, agar nanti diberikan pemimpin yang amanah, yang merakyat, yang tahu keinginan rakyat dan yang bisa menyenangkan rakyat,” ungkapnya.

Bupati Magelang Zaenal Arifin didampingi Wakil Bupati Edi Cahyana, menyebutkan bahwa ini adalah keprihatinan kita bersama, keinginan kita bersama untuk menjaga keindonesiaan kita, merawat keindonesiaan kita. Ditengah-tengah kita sedang akan menghadapi hajat besar, menurut Bupati, tentunya seluruh rakyat Indonesia termasuk warga masyarakat kota dan Kabupaten Magelang, ingin berharap Indoonesia tetap berjalan dengan damai, lancar tanpa halangan apapun.“Maka hari ini, saya bersama Pak Wali, Pak Wakil Bupati dan Bu Wakil Wali Kota maka nderek Pak Gubernur untuk berdoa bersama. Doa di sini, doa untuk kedamaian di negara yang dicintai. Ini pusatnya tanah jawa, sehingga harapan doa dari pusat ini akan menyebar,” tuturnya.

Sementara Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito menyebutkan, pihaknya mendukung acara selametan ini untuk mendoakan keutuhan NKRI. Menurut Sigit, pihaknya juga menyambut baik doa tersebut dikarenakan dipilihnya Gunung Tidar sebagai tempat doa bersama. “Ruwat puser bumi ini menjadi upaya menjaga kearifan lokal dan juga sebagai upaya nguri-nguri budaya yang menjadi warisan para pendahulu. Tentu tujuannya agar warga paham bagaimana warga bisa menjaga alam ini dengan seimbang, dengan memperhatikan konteks kekinian,” katanya.

Selain itu, terdapat pula 24 gunungan yang mewakili jumllah 24 Kecamatan di Magelang Raya. Selain itu, terdapat pula gunungan jerami atau umbul donga dengan ketinggian sekitar tiga meter berisikan kertas doa dan harapan, yang ditulis oleh warga. Gunungan berisikan kertas tersebut kemudian dibakar. Pembakaran ini dimaksudkan agar doa dan harapan mencapai ke atas dan didengar oleh Tuhan YME.

Penanggungjawab kegiatan sekaligus Kepala Desa Jambewangi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Arianto mengatakan, acara ini berkonsep kenduri dengan sebuah doa bersama warga dan diakhiri dengan makan bersama. “Gagasan selametan ini sebenarnya sudah lama diperbincangkan. Warga Magelang merasa punya keprihatinan yang sama mengenai situasi politik akhir-akhir ini.Kami kesetrum dengan spirit itu, dan semakin semangat setelah pak Gubernur Ganjar menggelar Apel Kebangsaan Kita Merah Putih di Semarang,” katanya.

Dalam acara doa bersama tersebut ada prosesi Umbul Donga. Setiap warga yang hadir akan menuliskan doa dan harapannya untuk Indonesia di secarik kertas. Kertas-kertas doa itu akan ditempelkan pada salah satu gunungan yang telah disediakan. Selanjutnya gunungan tersebut akan dibakar atau dilarung bersama api dan angin naik ke langit, menyatu dengan semestara. “Melalui prosesi ini diyakini bahwa seluruh doa bisa menembus dimensi nubuwah, malakut atau bahkan dimensi ilahiah. Dengan demikian, Insya Allah doa manusia akan di kabulkan,”jelas Arianto, Usai doa penutup, Gubernur, Wali Kota, Wakil Wali Kota, Bupati, Wakil Bupati serta seluruh warga kemudian makan bersama (hen/oko)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here