Bisnis Pakan Ternak Janjikan Peluang Usaha Bagi Petani Millenial

Bisnis Pakan Ternak Janjikan Peluang Usaha Bagi Petani Millenial
Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu, Sabir saat pembukaan Pelatihan Formulator Pakan di kampus Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta – Magelang (06/09).

MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.COM – Jumlah penduduk Indonesia sedikit banyak berpengaruh terhadap peningkatan kebutuhan pangan. Selain menjadi tantangan besar bagi pelaku sektor pertanian, sekaligus menjadi peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Begitu pula binis pakan ternak yang menjadi factor pengungkit keberhasilan usaha ternak.

Pasokan pakan bergizi dengan kualitas terbaik mempengaruhi produksi usaha peternakan. Kualitas dan kontinuitas pakan harus diperhatikan untuk menjamin produktivitas. Oleh karenanya, formulasi pakan menjadi sangat penting untuk dipelajari.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu, Sabir, pada sambutannya di pembukaan Pelatihan Formulator Pakan di kampus Magelang (06/09). Di hadapan 35 mahasiswa semester 3 program studi Teknologi Pakan Ternak, Sabir menyampaikan kebutuhan pakan merupakan prioritas utama usaha ternak.

“Ke depan, kebutuhan formulator pakan sangat mendesak untuk diselesaikan. Saatnya lulusan Polbangtan mengambil peluang ini. Jadilah job creator yang handal. Buka lapangan kerja di bidang formulasi pakan, karena ini sangat mengutungkan”, jelasnya.

Di kesempatan yang sama, Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta – Magelang (Polbangtan YoMa), Bambang Sudharmanto menambahkan bahwa bisnis ini telah menggeser stigma low benefit yang erat dengan dunia “ngarit”.

“Pendapatan tertinggi dalam usaha ternak, justru pada pembuatan pakan. Banyak peternakan yang sudah membuktikannya. Yang semula hidup dari berjualan ternak, sekarang mulai menjual pakan ternak untuk masyarakat. Sehingga populasi ternak dipertahankan untuk uji coba pakan.”ungkapnya.

Untuk berhasil sebagai formulator pakan, Bambang menjelaskan perlunya memanfaatkan bahan baku local sebagai unsur utama pakan.

“Tingginya biaya produksi yang diakibatkan oleh pakan dapat dikurangi dengan menggunakan bahan lokal yang ada di sekitar kita. Bahkan sekarang ini sudah banyak formulator memanfaatkan pelok (biji mangga) sebagai bahan baku pakan” jelas Bambang mencontohkan.

Ia mengajak mahasiswa untuk serius menekuni bidang ini. Melalui 14 hari pelatihan, Bambang berharap mahasiswa dapat menggali informasi penting dari narasumber. Ia menghimbau mahasiswa untuk membekali diri sebaik-baiknya menghadapi industri 4.0.

Mentan Syahrul Yasin Limpo menyampaikan, kunci dari kesuksesan dalam memasuki era revolusi industri 4.0 adalah pencapaian efisiensi dan produktivitas. Revolusi industri 4.0 ini akan lebih dahulu merambah bisnis perunggasan, utamanya bisnis pakan yang merupakan bagian dari bisnis perunggasan. “Maka dari itu, industri pakan harus mampu dan siap menyesuaikan diri dengan kemajuan tersebut,” ucap Mentan Syahrul.

Untuk itu, sumber daya manusia mempunyai peran sangat penting. Khususnya petani milenial sebagai generasi penerus pembangunan di sektor pertanian. Menurut Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi, “Nantinya di tangan milenial lah pembangunan pertanian ke depannya dijalankan”, tegas Dedi.

Sebab menurutnya petani milenial inilah adalah penggerak sektor pertanian khususnya dalam menghadapi industri 4.0, “Kalian semua adalah pendekar, oleh karena itu kalian itu harus bersiap-siap menjadi penggerak, motor, pelopor pembangunan pertanian di Negara yang kita cintai ini”, pungkasnya.(hms)