Berpuasalah dari yang Mengharamkan, Inilah Hal-hal yang Membatalkanya

Berpuasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga
Berpuasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga

MAGELANGEKSPRES.COM – Pada pertemuan yang ini, pesan indahnya adalah “Berpuasalah dari Hal yang Diharamkan oleh Allah”.
Ahibbaty hafidzakumullah.

Sudah kita ketahui bersama bahwasanya berpuasa adalah menahan makan, minum, bersetubuh di siang hari bulan Ramadhan, dan seluruh yang membatalkan puasa di siang hari bulan Ramadhan, dari mulai terbit fajar kedua sampai terbenam matahari.

Tetapi kita juga harus ingat bahwasanya berpuasa bukan hanya meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa, tetapi berpuasa juga meninggalkan hal-hal yang mengurangi pahala puasa.

Makanya hati-hati akan hal ini, karena terkadang seseorang berpuasa kemudian meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa (makan, minum, bersetubuh di siang hari bulan Ramadhan), tetapi ternyata pahalanya cuma dapat lapar dan haus setelah dinilai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan akan hal ini. Sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Ibnu Khuzaimah dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa ala alihi wasallam bersabda:
❲ لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ❳
“Bukanlah berpuasa itu cuma menahan makan dan minum, akan tetapi sesungguhnya berpuasa adalah menahan dari perbuatan-perbuatan sia-sia dan rafats.”

Rafats [ رَفَثَ ], kata Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah di dalam kitab beliau Fathul Baari (adalah) [ الْكَلَامُ الْفَاحِشِ ] yaitu ucapan yang keji, ucapan yang kotor, ucapan yang porno.
Kemudian beliau mengatakan:
وَهُوَ يُطْلَقُ عَلَى هَذَا وَعَلَى الْجِمَاعِ وَعَلَى مُقَدِّمَاتِهِ
“Dan dia adalah ucapan juga mencakup seluruh ucapan yang berkaitan dengan hubungan badan dan segala pendahuluan dari hubungan badan.”

Maka ketika berpuasa kita harus menjaga dari ucapan-ucapan yang kotor, ucapan-ucapan yang keji, ucapan-ucapan yang tidak pantas diucapkan oleh seorang muslim apalagi saat dia sedang berpuasa.
وَعَلَى ذِكْرِهِ مِنَ النِّسَاءِ

Termasuk juga, kata beliau, termasuk ucapan fahisy, adalah ucapan-ucapan yang berkaitan dengan penyebutan apa yang ada pada perempuan yang bisa menaikkan syahwat, yang bisa menggerakkan nafsu birahi.

Maka orang yang berpuasa, bukan hanya sekedar menahan yang mubah (makan, minum, bersetubuh) tetapi juga menahan lisan dari berkata-kata yang keji dan kotor.
Kemudian di dalam hadits tadi disebutkan [ مِنَ اللَّغْوِ ] ‘minal laghwi’ yaitu berpuasa dari perbuatan yang sia-sia.

Ahibbaty hafidzakumullah Ta’ala.

Berpuasa dari perbuatan yang sia-sia banyak contohnya. Di antaranya yaitu hal-hal yang sangat diharamkan saat berpuasa; seperti berkelahi, bertengkar. Kadang-kadang terkumpul rasa lapar, rasa haus, kemudian ada orang yang bikin masalah, maka jaga kelakuan kita.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa ala alihi wasallam bersabda dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu:
❲ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثُ وَلَا يَصْخَبُ ❳
“Jika pada hari salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah dia berkata rafats.”
وَلَا يَصْخَبُ
Kata Al-Hafidz ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam kitab beliau Fathul Baari:
الصَّخْبُ : الْخِصَامُ مَعَ الصِّيَاحِ
” Sakhb adalah bertengkar sambil berteriak-teriak.”
Makanya setelah itu Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan solusi agar kita tidak bertengkar.
❲ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِ امْرُءٌ صَائِمٌ ❳
Kalau seandainya ada orang ngajak bertengkar, ngajak berkelahi, menghina dia, mencaci dia, maka ucapkan (ada ulama yang mengatakan ucapkan dengan lisan, ada ulama yang mengatakan.. ini namanya maknawi, artinya jauhi): “Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa”.
Ini salah satu perbuatan yang sia-sia.
Kemudian, ahibbaty hafidzakumullah,

Berpuasa bukan hanya sekedar menahan makan, minum, bersetubuh, dari mulai terbit fajar kedua sampai terbenam matahari dan seluruh yang membatalkan puasa, tetapi juga menahan hal-hal yang mengurangi pahala puasa.

Di antaranya juga adalah yaitu berdusta, lisannya dusta dan juga segala perbuatan yang mengkonsekuensikan kepada kedustaan, dan juga perbuatan yang tidak bermanfaat. Maka orang yang berpuasa harus menjauhi akan hal ini.

Sebagaimana hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu:
❲ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرُ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Barang siapa yang tidak meninggalkan dusta [ الزُّوْرُ ] ‘az-zuur’, kata Al-Hafidz
Ibnu Hajar [ قَوْلُ الْكَذِبِ ] ucapan dusta; [ وَالْعَمَلَ بِهِ ] dan perbuatan yang mengkonsekuensikan kepada kedustaan (berarti dia termasuk menipu, mengoplos, memalsukan, me-mark up, dan semisalnya); dan juga [ الْجَهْلَ ] ‘al-jahla’, kata Al-Hafidz Ibnu Hajar dan Imam Nawawi as-safah artinya perbuatan sia-sia, perbuatan dari orang yang dungu; maka Allah tidak memerlukan seseorang meninggalkan makan dan minumnya.

Artinya puasanya nggak manfaat. Kenapa? Karena dia puasa-puasa meninggalkan yang halal tetapi masih mengerjakan yang haram.

Maka hati-hati dusta, hati-hati perbuatan yang mengkonsekuensikan kepada kedustaan saat berpuasa, hati-hati al-jahla yaitu saat berpuasa mengerjakan perbuatan-perbuatan yang sia-sia, tidak ada manfaatnya.

Nah termasuk di dalamnya bisa kita qiyaskan yaitu ghibah saat berpuasa; namimah.
• ghibah: menyebutkan keburukan seseorang di belakang
• namimah: memindahkan pembicaraan orang lain kepada seseorang untuk menghancurkan hubungan orang lain dengan seseorang ini.

Maka saat berpuasa seseorang harus menjauhi perbuatan tersebut. Kalau tidak, yang puasanya cuma menahan makan, minum, bersetubuh dan seluruh yang membatalkan puasa, maka puasanya nanti nihil (nol) bahkan tidak dapat pahala. Dan itu ada. Orang yang berpuasa cuma dapat lapar dan haus itu ada. Bukan cuma wacana.

Dalam hadits riwayat Imam Ibnu Khuzaimah dan Imam Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
❲ رُبَّ صَائِمٍ؟ ❳
Dalam riwayat yang lain:
❲ كَمْ مِنْ صَائِمٍ؟ ❳
“Berapa banyak?”
Artinya sangat banyak.
❲ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ ❳
“Bagian dari puasanya cuma lapar dan haus.”

Maka kita tidak ingin seperti itu. Sudah menahan makan, minum, hal-hal yang mubah kita tahan, dan seluruh yang membatalkan puasa kita tahan dari mulai terbit fajar kedua sampai terbenam matahari, ternyata pahala puasanya nol. Kita tidak ingin.

Nah saya ingin membacakan perkataan menarik dari Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah di dalam kitab beliau Lathoiful Ma’arif. Kenapa orang yang berpuasa tetapi dapatnya cuma lapar dan haus? Beliau mengatakan:
وَسِرُّ هَذَا
Rahasianya adalah,
أَنَّ التَّقَرُّبَ إِلَى اللهِ بِتَرْكِ الْمُبَاحَاتُ لَا يَكْمُلُ إِلَّا بَعْدَ التَّقَرُّبِ إِلَى اللهِ بِتَرْكِ الْمُحَرَّمَاتُ .
“Mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan berpuasa, meninggalkan hal-hal yang mubah.”

Puasa itu kan meninggalkan hal-hal yang mubah:
– meninggalkan makan mubah, kita tinggalkan demi puasa,
– minum mubah, kita tinggalkan demi puasa,
– bersetubuh mubah, kita tinggalkan demi puasa.

Ini semua tidak akan sempurna sampai kita meninggalkan yang haram.
Kemudian beliau mengatakan:
فَمَنِ ارْتَكَبَ الْمُحَرَّمَاتُ ثُمَّ تَقَرَّبَ إِلَى اللهِ بِتَرْكِ الْمُبَاحَاتُ كَانَ بِمَثَابَةِ مَنْ يَتْرُكُ الْفَرَائِضَ وَيَتَقَرَّبُ بِالنَّوَافِلِ .
“Siapa saat berpuasa mengerjakan hal-hal yang haram kemudian dia mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan yang halal, ini persis seperti orang yang meninggalkan shalat-shalat wajib, amalan-amalan wajib, lalu mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunah, maka ini tidak bermanfaat.”

Maka hati-hati, puasanya bukan cuma berpuasa dari makan minum, tetapi berpuasalah dari hal-hal yang haram. Karena Allah menginginkan saat kita berpuasa kita pun juga bertakwa. Bahkan tujuan puasa adalah takwa. Dan salah satu takwa adalah meninggalkan hal-hal yang haram saat berpuasa.

Selamat berjuang meninggalkan hal-hal yang haram saat berpuasa sebagaimana anda berjuang menahan lapar dan haus. (disampaikan oleh: Ustadz Ahmad Zaenuddin Al Banjary, Lc dalam kajian online GIS)