Balkesmas Magelang Fasilitasi Program Malaria

Perwakilan dari Balkesmas Wilayah Magelang memberikan penjelasan bahaya Malaria di di aula Puskesmas Sumpiuh 2, Banyumas
PEMAPARAN. Perwakilan dari Balkesmas Wilayah Magelang memberikan penjelasan bahaya Malaria di di aula Puskesmas Sumpiuh 2, Banyumas,

MAGELANGEKSPRES.MAGELANG -Balkesmas Wilayah Magelang menfasilitas kegiatan koordinasi Program Malaria di wilayah kerjanya Banyumas, Selasa(6/5). Kegiatan ini diikuti oleh 20 peserta dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, Kecamaan (Tambak, Sumpiuh, Kemrajen), Puskesmas dan desa-desa terkait.

Dyah Rina A, SKM mewakili Kepala Balkesmas Magelang mengatakan malaria merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat menyebabkan kematian terutama pada kelompok risiko tinggi, seperti bayi, balita, dan ibu hamil. Selain itu malaria secara langsung menyebabkan anemia dan dapat menurunkan produktifitas kerja. Dyah menyebutkan kasus malaria di wilayah kerja Balkesmas Wilayah Magelang tahun 2018 = 307 kasus (API 0,04/1.000), tahun 2019 = 97 kasus (API 0,013/1.000) dan tahun 2020 = 76 kasus (API 0,01/1.000). Dari 7 Kabupaten/Kota Wilayah Kerja, Kabupaten Magelang dan Kota Magelang telah mencapai eliminasi pada tahun 2014, Kabupaten Kebumen dan Cilacap pada tahun 2018, Kabupaten Banyumas dan Purbalingga pada tahun 2019. Sedangkan Kabupaten Purworejo diharapkan mencapai eliminasi paling lambat tahun 2022, mengingat target eliminasi Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2023.

“Eliminasi malaria merupakan salah satu upaya untuk menghentikan penularan malaria di wilayah kabupaten/kota atau provinsi. Perlu diketahui, bahwa tidak ada penularan malaria bukan berarti tidak ada kasus malaria impor serta sudah tidak ada vektor penular di wilayah tersebut, maka tetap dibutuhkan kegiatan kewaspadaan untuk mencegah penularan kembali,”katanya saat memberikan koordinasi program Malaria di Aula Puskesmas Sumpiuh 2, Banyumas, kemarin.

Dyah menjelaskan Kabupaten Banyumas telah mencapai eliminasi pada tahun 2019, tetapi wilayah reseptif di Kabupaten Banyumas masih beresiko terjadi penularan malaria kembali karena mobilisasi penduduk dari dan ke daerah-daerah endemis. Program malaria di daerah pemeliharaan ini menghadapi tantangan untuk mencegah penularan kembali termasuk sistem surveilans dan kewaspadaan dini, mobilitas penduduk dan jejaring tatalaksana kasus. “Sehubungan dengan hal tersebut perlu dilakukan pertemuan fasilitasi koordinasi malaria sebagai upaya pemeliharaan eliminasi agar tidak terjadi penularan kembali,”kata Dyah.

Artikel Menarik Lainnya :  PTM Terbatas Mulai Digelar di Kota Magelang

Dyah berharap kegiatan ini dihasilkan komitmen yang positif terkait dengan upaya untuk mencegah penyakit malaria. Juga adanya kerjasama lintas sektor yang dapat bersinergi terkait tujuan yang ingin di capai setelah mengikuti kegiatan koordinasi program malaria ini. (adv/hen)