Awas Upal, Sejumlah Pedagang di Pasar Kaloran Temanggung Jadi Korban Transaksi Upal

Sejumlah Pedagang di Pasar Kaloran Temanggung Jadi Korban Transaksi Uang Palsu
Inilah wujud uang palsu yang diterima seorang pedagang di Pasar Kaloran, Temanggung. (Foto: rizal ifan chanaris. )

TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Di tengah tingginya aktifitas jelang memasuki bulan Ramadan, masyarakat tampaknya wajib waspada terhadap marak beredarnya peredaran palsu (upal).
Bukan tanpa alasan, belum lama ini salah seorang pedagang kebutuhan pokok di Pasar Kaloran Kabupaten Temanggung bernama Yanti (45) menjadi korban peredaran uang palsu.

Saat dikonfirmasi Magelang Ekspres.com, ia menceritakan bahwa jumlah uang palsu yang ia terima dari hasil transaksi dagangnya di pasar tersebut mencapai Rp 250.000 dalam bentuk pecahan Rp 100.000 sebanyak 2 lembar dan pecahan Rp 50.000 sebanyak 1 lembar.

“Iya benar saya jadi korban peredaran uang palsu saat berjualan di Pasar Kaloran hari Kamis tanggal 17 Maret kemarin,” jelasnya, Jumat (18/3).

Ia menceritakan, pada hari Kamis kemarin lapak dagangannya sangat ramai oleh pembeli yang datang berbelanja kebutuhan Sadranan. Hal ini biasa terjadi setiap tahunnya mengingat Nyadran merupakan sebuah tradisi setiap warga di seluruh penjuru desa jelang bulan Ramadhan.

Lanjutnya, uang yang diperoleh tersebut lantas digunakan untuk kulakan atau berbelanja lagi stok dagangan di Magelang.

Sesaat setelah selesai berbelanja, Yanti ditelpon oleh pedagang Magelang tersebut yang ingin mengembalikan uang senilai Rp 250.000 karena diduga kuat palsu.
“Uang hasil dagangan saya kan saya belanjakan lagi. Kulakan ke Magelang.

Ya awalnya gak tahu. Sesaat setelah pulang kulakan, pedagang Magelang itu telpon mau mengembalikan uang saya karena diduga palsu. Ya saya kaget, kan pas dagang di Pasar Kaloran itu kondisinya ramai prepegan.

Jadi gak memperhatikan uang yang saya terima dan siapa pembeli yang bayar pakai uang itu,” bebernya.
Dengan peristiwa tersebut, pihaknya mengaku sangat dirugikan. Pasalnya laba dagangannya bisa dibilang tidak besar.

Terlebih, uang palsu yang ia terima jumlah nominalnya mencapai Rp 250.000.
“Baru pertama saya mengalami ini. Saya sebagai pedagang kecil di pasar sangat dirugikan. Saya merasa tertipu karena bentuk uangnya sangat mirip dengan yang asli jadi gak ngeh Mas.

Tapi setelah saya amati secara seksama agak beda. Kertas sama warnanya. Tidak tahu uang itu mau diapakan, yang jelas pedagang lain harap hati-hati,” pungkasnya. (riz)