Asah Kesigapan Penanganan Kebakaran, 40 ASN BPBD Wonosobo Dilibatkan Simulasi

SIMULASI. BPBD Wonosobo menggelar simulasi penanganan kebakaran, sebagai upaya meningkatkan kesigapan seluruh jajaran ASN dan karyawan kantor setempat.
SIMULASI. BPBD Wonosobo menggelar simulasi penanganan kebakaran, sebagai upaya meningkatkan kesigapan seluruh jajaran ASN dan karyawan kantor setempat.

WONOSOBO, MAGELANGEKSPRES.COM– Tingginya kasus kebakaran di Kabupaten Wonosobo menjadi perhatian semua pihak. Terkait hal itu BPBD Wonosobo menggelar simulasi penanganan kebakaran, sebagai upaya meningkatkan kesigapan seluruh jajaran ASN dan karyawan kantor setempat.

“Kita gelar simulasi kebakaran dengan melibatkan 40 personil ASN dan karyawan di kantor BPBD Wonosobo. Pelatihan singkat selama setengah hari dimulai dari teori, pengenalan peralatan, cara mengoperasionalkan peralatan, mengevakuasi korban ketika ada korban,  dan praktek lapangan,” ungkap Kepala BPBD Wonosobo, Bambang Trie, kemarin.

Menurutnya, simulasi itu untuk meningkatkan kesigapan dan juga kemampuan ASN di lingkungan BPBD agar mereka semakin terasah dalam menghadapi kejadian kebakaran. Sebab yang dibutuhkan dalam setiap kasus tersebut adalah kecepatan dan ketenangan.

“Sikap dan tenang dalam menghadapi masalah ini. Utamanya dalam penanganan kebakaran harus terus diasah, maka kita lakukan itu dengan simulasi,” katanya.

Tim Damkar, anggota BPBD dan relawan harus menjadi contoh dalam menghadapi kasus kebakaran, mereka perlu menunjukkan kapasitas kepada masyarakat bahwa mereka bekerja berdasarkan pada ilmu dan cara cara yang sesuai dengan standar operasional.

“Tidak boleh anggota kita bersikap ceroboh dalam penanganan kebencanaan, termasuk kebakaran, mereka akan bekerja berdasarkan protap, sehingga tidak asal-asalan, segala tindak tanduk personil damkar, BPBD dan relawan akan dinilai oleh masyarakat,” katanya.

Dalam simulasi juga ditampilkan pola kerjasama diantara para tim, sehingga tidak semua orang bekerja dalam satu titik saja, tapi mereka akan melakukan penanganan berdasarkan tugas masing-masing.

“Tidak ada hero atau satu orang pahlawan dalam menangani kasus kebakaran, mereka harus bekerja tim, ada yang menyemprotkan air ada yang mengendalikan api serta ada yang menyuplai air, itu satu kesatuan kerja,” ucapnya.

Selain itu, penggunaan alat juga harus dikuasai oleh. Sebab jangan hanya ikut panik saat kejadian terjadi, tapi mampu melakukan upaya pertolongan dengan cepat, dan tidak gagap dalam menggunakan alat.

“Banyak yang belum paham pola pengendalian api, jika masih pada tahap awal apa yang harus dilakukan, jika kemudian api sudah besar tindakan apa yang perlu segera dilakukan, semua sudah ada tata cara, namuan itu perlu diasah,” terangnya.

Simulasi kebakaran akan digelar ke sejumlah kecamatan di wonosobo dengan melibatkan para relawan tingkat kecamatan. Agar mereka juga memahami tata cara memadamkan dan mengendalikan api ketika terjadi kebakaran di pemukiman atau di lokasi yang lain. (gus)