Area Publik Dipasang Detektor H2S, Warga Dieng Beraktifitas Biasa

PERS. PT Geo Dipa Energy, menggelar konferensi pers di kantornya, Kemarin (13/3).
PERS. PT Geo Dipa Energy, menggelar konferensi pers di kantornya, Kemarin (13/3).

WONOSOBO, MAGELANGEKSPRES.COM – Pasca kebocoran gas beracun di sumur Eksisting PLTP Dieng I memasang detektor H2s di area publik. Warga di sekitar Dieng sudah beraktifitas seperti biasa. Sementara H2S atau gas beracun yang keluar dari sumur PAD 28 B telah berhasil dinetralisir.

“H2S dari sekitar Pad 28 di TKP, saat ini sudah tidak terindikasi oleh alat detektor kami ya. Jadi sudah tidak ada lagi bau menyengat seperti belerang di sana. Namun tetap akan dipastikan pengukuran di sekitar kepala sumur dan tangki lumpur. Kita lakukan setelah mendapat izin dari aparat kepolisian,” terang Direktur Utama PT Geodipa Energy, Riki Firmanda Ibrahim saat menggelar konferensi pers di kantornya, kemarin (13/3).

Menurutnya, jika untuk memastikan tingkat keamanan paparan dan radiasi efek gas beracun yang ditimbulkan itu telah dicek secara langsung oleh tim KRB Gegana Jawa Tengah. Hasilnya, konsentrasi H2S sudah dibawah ambang batas. Yakni terukur 2,1 ppm dari jarak 1 sampai 3 meter dari sumber paparan.

“Dengan hasil ini tentu masyarakat tidak perlu khawatir lagi mengenai pencemaran yang ditimbulkan. Karena kondisinya sudah dibawah ambang batas,” terangnya.

Namun untuk meyakinkan kepada publik, pihaknya tetap akan memasang alat detektor H2S di area publik. Sehingga saat muncul paparan tersebut bisa langsung diketahui oleh masyarakat di sekitar lokasi penambangan milik PT Geo Dipa Energy.

“Kita akan tambah di beberapa lokasi wisata dan perkampungan. Alat itu seperti sirine ambulance. Jadi ketika ada paparan akan langsung menyala dan bunyi,” tandasnya.

Lebih jauh, Riki menjelaskan kronologis sebenarnya yang terjadi di lokasi kejadian pada Sabtu (12/3) lalu, sekitar pukul 14.00 siang. PT Geo Dipa Energy Dieng sendiri tengah melakukan perbaikan pada Dua sumur di Pad 28 A dan B. Karena tengah diperbaiki, sumur tersebut dipastikan sedang dimatikan (quenching).

“Setelah kita quenching ini, ternyata relief valve ini tidak berfungsi. Lah penyebab kenapa tidak berfungsi ini yang sedang kita identifikasi lebih jauh,” terangnya.

Padahal dalam proses quenching ini, relief valve bekerja sangat krusial. Sebab seharusnya pompa air dari tangki yang dimasukkan dalam sumur melalui relief valve ini tidak berfungsi. Sehingga menyebabkan pengendapan berlebih.

“Karena terjadi pengendapan berlebih, pipa akhirnya kemasukan H2S tadi yang menyebabkan kebocoran itu,” jelasnya.

Sementara itu, untuk pasien yang dirawat di pihak Geodipa sendiri mengakui jika ada data yang masih kurang. Sebab di awal rilis yang diberikan pihaknya menyebut ada Tujuh pekerja yang dirawat. Namun setelah mengkonfirmasi pihak RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo mengaku memang ada Sembilan pekerja yang dirawat. Satu diantaranya telah dinyatakan meninggal dunia atas nama Lilik Marsudi yang bekerja sebagai toolpusher di PT Bormindo asal Magelang.

“Mengapa awalnya kita hanya melaporkan Tujuh korban itu karena memang orang-orang tersebut yang awalnya tergeletak di lokasi. Sementara dua orang lain itu karena kelelahan melakukan evakuasi dan merawat korban,” terangnya.

Dan pada pukul 12.00 siang, jumlah pasien yang masih dirawat di RSUD sendiri tersisa Empat orang saja. Yakni Irvan, Sulthoni Amin, Sutrisno yang dinyatakan masih berada di ruang ICU. Juga Slamet masih dirawat, namun sudah berada di bangsal pasien umum.

Sementara Empat orang lainnya sudah diperbolehkan pulang dan melakukan rawat jalan. Diantaranya Endang, Sutrisno, Edi, dan Matthew.

“Kepada seluruh korban sudah kita diklaimkan ke BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan. Dari kami juga akan memberikan santunan, utamanya kepada keluarga yang telah dinyatakan meninggal dunia,” jelasnya.

Sejauh ini, kawasan pintu masuk menuju sumur Eksisting PLTP Dieng I masih di jaga ketat oleh aparat kepolisian. Selain menerjunkan aparat, di depan pintu masuk juga dipasang garis polisi untuk memastikan tidak ada yang boleh masuk ke lokasi tanpa izin dari pihak yang berwajib.(gus)