Antisipasi Lonjakan Covid-19, Disdikpora Temanggung Gencar Lakukan Tracing ke Sekolah-sekolah

Antisipasi Lonjakan Covid-19, Disdikpora Temanggung Gencar Lakukan Tracing ke Sekolah-sekolah
KEPALA Disdukbud Kabupaten Temanggung, Agus Sujarwo saat ditemui di ruang kerjanya. Foto: rizal ifan chanaris.
TEMANGGUNG, MAGELANGEKSPRES.COM – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Temanggung terus menggencarkan program testing sekaligus tracing secara acak dan menyeluruh ke berbagai institusi pendidikan atau sekolah. Pihak Disdikpora menggandeng Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.
“Langkah ini ditempuh mengingat kasus Covid 19 varian Omicron tengah mengganas di beberapa wilayah,” ungkap Kepala Disdikpora Kabupaten Temanggung, Agus Sujarwo saat ditemui di kantornya Jumat (11/2).
Berdasarkan data terbaru dari Tim Satgas Covid Kabupaten Temanggung, saat ini  terdapat sedikitnya 200 warga yang terkonfirmasi positif terpapar virus tersebut.
“Memang belum tahu 200 warga yang terkonfirmasi positif ini terpapar virus varian apa, entah Delta atau Omicron. Yang jelas mengalami kenaikan signifikan,” jelasnya.
Oleh karena itulah pihaknya kini terus bekerja sama dengan pihak terkait dalam hal ini Dinas Pendidikan untuk terus menggelar program testing dan tracking ke berbagai sekolah secara acak. Yakni dengan melaksanakan tes swab kepada siswa, guru, dan pegawai di lingkungan sekolah bersangkutan.
Lanjutnya, apabila hasil tes swab ditemukan satu orang yang terkonfirmasi positif, maka hanya akan diambil langkah isolasi mandiri. Namun apabila jumlahnya banyak atau minimal lima persen dari sampel yang diambil, maka akan ditempuh upaya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di sekolah bersangkutan. “Kita lihat kasus per kasus. Yang jelas kami akan melaksanakan deteksi dini secara terus-menerus,” imbuhnya.
Sementara itu, ditanya masalah Pembelajaran Tatap Muka (PTM), Agus mengungkapkan bahwa sekolah-sekolah di bawah naungan dinas setempat mulai tingkat PAUD hingga SMP baru melaksanakan kegiatan belajar dengan diisi sebanyak 50 persen siswa saja.
Ditambah jumlah hari juga dibatasi selama 50 persen dari total maksimal 6 hari dalam sepekan. “Yang sudah penuh itu jam pembelajarannya, yaitu 6 jam meski untuk intensitas hari nya hanya 50 persen saja setiap minggunya,” pungkasnya. (riz)