Anggota DPR Cantik Ini Mendorong Magelang Meningkatkan Ekspor Komoditas Holtikultura

Anggota Komisi IV DPR RI, Vita Ervina saat memberikan keterangan kepada awak media, Jumat (19/11).
WAWANCARA. Anggota Komisi IV DPR RI, Vita Ervina saat memberikan keterangan kepada awak media, Jumat (19/11).

KOTA MAGELANG, MAGELANGEKSPRES.COM – Hortikultura merupakan salah satu sub sektor pertanian yang potensial dan didorong untuk meningkatkan kesejahteraan petani, ekonomi daerah, ekonomi nasional serta meningkatkan devisa negara melalui ekspor.

Sub sektor hortikultura pada kuartal I dan II tahun 2021, tumbuh positif sebesar 3,01% dan 1,84%, kontribusi sub sektor hortikultura yang sangat baik dalam struktur PDB Nasional. Peningkatan ekspor ini didominasi oleh komoditas buah-buahan selama masa komoditas holtikultura menjadi salah satu komoditas unggulan yang dapat terus dikembangkan oleh petani, baik itu tanaman sayuran, hias, obat maupun buah.

Khusus tanaman buah, melihat data BPS Kabupaten Magelang dari tahun 2017-2020, buah durian, alpukat, salak, sirsat dan manggis meningkat produktivitasnya. Namun ada beberapa komoditas buah justru mengalami penurunan seperti jeruk, kelengkeng, pepaya dan pisang.

“Keprihatinan saya pada komoditas jeruk yang mengalami penurunan cukup drastis, dari produksi 2.600 ton menjadi tinggal 300 ton saja. Mulai bulan Maret lalu, saya menginisiasi pengembangan budidaya bibit jeruk keprok Ngablak yang semakin langka karena terserang hama penyakit huanglongbing. Puji syukur, awal Desember ini, 1000 batang jeruk keprok Ngablak yang unggul tahan penyakit, akan segera di tanam di dua desa di Kecamatan Ngablak,” ujar Vita Ervina, anggota Komisi IV DPR RI, saat ditemui usai membuka acara Bimtek dengan tema “Peluang dan Tantangan Ekspor Komoditas Holtikultura di Magelang” yang berlangsung di wisma Sejahtera Kota Magelang, Jumat (19/11).

Kegiatan ini diikuti para petani dari Kabupaten Magelang, bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang serta Balai Karantina Pertanian Propinsi Jateng.

Vita berharap upaya ini bisa membawa peningkatan produksi dan ekonomi masyarakat serta melestarikan keberadaan jerukkeprok endemik Kabupaten Magelang. Kemudian buah kelengkeng, pihaknya juga menyambut baik upaya pengembangan di wilayah Borobudur dan Salaman, khususnya di perbukita Menoreh.

Artikel Menarik Lainnya :  4 Tahun Mati Suri, Dewan Kesenian Kota Magelang Dibangkitkan Kembali

Hal itu menjadi gambaran bahwa produk-produk holtikultura memiliki tantangan dan peluang yang cukup dalam upaya meningkatkan produksi, kualitas dan kontinuitas yang berorientasi ekspor.

Peningkatan ekspor ini, imbuh Vita, didominasi oleh komoditas buah-buahan selama masa pandemi Covid-19 tahun 2020. Nilai realisasi ekspor buah-buahan tahun 2020 tercatat meningkat sekitar 30,31 persen dibanding 2019.

“Maka pengembangan kawasan sentra produksi komoditas unggulan menjadi program prioritas kita bersama, agar mampu menjawab peluang pasar yang masih terbuka lebar. Kami berkomitmen, Komisi IV DPR RI bersama kementrian Pertanian siap untuk bersinergi mendukung melalui pendampingan dari sisi hulu dengan peningkatan teknologi dan akses,” tegasnya.

Sementara itu, Pratiwi, Sub Koordinator Balai Karantina Pertanian Propinsi Jateng menambahkan, pihaknya mendampingi petani menyiapkan untuk bisa masuk pasar internasional terkait dengan peraturan dan persyaratan di negara tujuan. Hal itu memang menjadi salah satu kendala. Karenanya melalui bimtek diharapkan petani paham dengan persyaratan dari negara tujuan.

Menurutnya, peluang ekspor buah ke Eropa, Austraian maupun Asia sangat besar. Terutama Australia yang banya meminta buah salak dari Kabupaten Magelang. Selain itu, daun pakis juga banyak diminta pasar luar negri. Hanya sayangnya, untuk daun pakis belum ada yag mengelola. “Justru yang mengelola dari Temanggung. Nah kalau bisa di kelola di Magelang sendiri,” imbuh Pratiwi. (hen)