Ancaman Bencana di Purworejo Tinggi, Wabup Yuli: Tempati Urutan ke-2 Jateng

APEL. Peserta sosialisasi pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB) dan Tagana Masuk Sekolah (TMS), Kecamatan Grabag saat mengikuti apel pembukaan kegiatan. (Foto Lukman Hakim)
APEL. Peserta sosialisasi pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB) dan Tagana Masuk Sekolah (TMS), Kecamatan Grabag saat mengikuti apel pembukaan kegiatan. (Foto Lukman Hakim)

PURWOREJO, MAGELANGEKSPRES.COM – Dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan penanggulangan bencana, Kemensos RI melalui Dinsosdaldukkb Kabupaten Purworejo menyelenggarakan sosialisasi pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB) dan Tagana Masuk Sekolah (TMS), di Kecamatan Grabag, Selasa (6/9).

Wakil Bupati Purworejo Hj Yuli Hastuti SH menyambut baik dan mengapresiasi dilaksanakannya sosialisasi pembentukan KSB dan TMS, karena kegiatan ini merupakan salah satu langkah antisipasi dini menghadapi bencana berbasis masyarakat.

Wilayah Kabupaten Purworejo terdiri dari dataran, pegunungan, perbukitan, dan pantai memungkinkan terjadinya berbagai jenis ancaman serta memiliki potensi bencana yang tinggi.

“Berdasarkan perhitungan BNPB tentang Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) Tahun 2020, indeks risiko bencana Kabupaten Purworejo menempati urutan ke 36 tingkat nasional dan peringkat dua tingkat Provinsi Jawa Tengah, dengan kelas risiko tinggi,” jelasnya.

Lebih lanjut Wabup mengatakan, nilai tersebut jangan dipandang sebagai angka belaka, namun hendaknya dapat menjadi panduan bagi para pengambil kebijakan di tingkat nasional dan daerah untuk menentukan prioritas upaya penanggulangan bencana di daerahnya masing-masing, termasuk meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana.

“Saya mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak lengah dan harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana. Dengan dibentuknya KSB dan TMS diharapkan semakin memperkuat kewaspadaan dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana secara dini,” harapnya.

Di sisi lain, Plh Kadinsosdaldukkb Widyowati Dyah Anggraheni SH MH selaku ketua penyelenggara menyampaikan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan meluaskan jangkauan wilayah siaga bencana.

Dijelaskan, kegiatan ini berlangsung selama tiga hari yakni tanggal 6 sampai dengan 8 September 2022, dan melibatkan 410 peserta dari delapan desa. Desa tersebut meliputi Desa Ukirsari, Desa Nambangan, Desa Kertojayan, Desa Pasaranom, Desa Munggangsari, Desa Patutrejo, Desa Ketawangrejo, dan Desa Harjobinangun. (luk)