Aktivis di Purworejo Gelar Aksi Kamisan, Jalanan Alun-alun Tiba-tiba Lengang

AKSI. Sejumlah aktivis saat menggelar aksi kamisan di kawasan Alun-alun Purworejo. (foto : lukman hakim/purworejo ekspres)
AKSI. Sejumlah aktivis saat menggelar aksi kamisan di kawasan Alun-alun Purworejo. (foto : lukman hakim/purworejo ekspres)

PURWOREJO, MAGELANGEKSPRES.COM – Sejumlah mahasiswa dan pemuda menggelar Aksi Kamisan Purworejo di bawah tugu perempatan Kantor Pos sudut Alun-alun Purworejo, Kamis (10/2) sore. Dengan membentangkan spanduk ‘Purworejo Sedang Tidak Baik-baik Saja’, aksi tersebut didedikasikan sebagai bentuk dukungan dan solidaritas terhadap masyarakat Desa Wadas.

Meski aksi hanya dilakukan oleh segelintir orang, saat aksi berlangsung kawasan Alun-alun Purworejo tampak lengang. Tidak ada kendaraan baik roda dua maupun roda empat yang melintas. Akses kendaraan yang hendak melintas ke arah Alun-alun dialihkan oleh aparat kepolisian melewati jalur lain.

Koordinator aksi, Nashih Mi’ Rojul Fikri merasa bahwa respon penutupan jalur tersebut merupakan bentuk dari upaya pembungkaman dengan cara halus. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan langkah Rojul dan rekan-rekannya untuk tetap berorasi menyuarakan keadilan bagi masyarakat Wadas.

Dikatakannya, unjuk rasa tersebut diikuti tidak hanya dari kalangan mahasiswa saja. Tapi juga anak-anak muda yang tergerak hatinya melihat ketidakadilan di sekitar mereka.

“Kami di sini berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang mahasiswa, pekerja hingga aktivis pemuda yang memiliki kegelisahan yang sama terkait ragam persoalan di Purworejo,” kata Rojul.

Disampaikannya, aksi unjuk rasa itu merupakan bentuk solidaritas terhadap saudara-saudara mereka yang hingga kini masih gigih berjuang mempertahankan tanahnya yang akan di eksploitasi untuk pembangunan Bendungan Bener yakni di Desa Wadas Kecamatan Bener.

“Kami mengutuk keras tindakan represif berupa teror maupun intimidasi terhadap warga Desa Wadas yang terus berjuang mempertahankan tanah milik mereka sendiri,” ujar Rojul dalam orasinya.

Dikatakan Rojul, tindakan kesewenang-wenangan tersebut tidak boleh terulang kembali. Pasalnya, semuanya ia yakin memiliki keinginan yang sama. Yakni kehidupan yang aman dan damai. “Kami sama sekali tidak menolak adanya proyek Bendungan Bener. Namun pelaksanaannya harus sesuai dengan mekanisme aturan perundang-undangan yang berlaku. Misalnya, adanya amdal yang tidak melibatkan warga sebagai pemilik sah lahan yang akan di eksploitasi itu,” katanya.

Secara umum, imbuh Rojul, aksinya juga ditujukan kepada seluruh warga yang terdampak proyek Bendungan Bener. “Kami menuntut agar jangan sampai rakyat menjadi korban. Keadilan harus ditegakkan,” katanya.

Rojul menambahkan, aksi terus tersebut akan terus digelar selama ketidakadilan masih dirasakan oleh masyarakat Purworejo khususnya warga Wadas serta masyarakat terdampak proyek Bendungan Bener.

Dijelaskan, dalam kasus agraria, warga selalu menjadi korban. Warga yang mendukung dan menolak selalu ditempatkan di posisi saling berhadapan. Konflik horizontal yang terjadi kadang justru lebih menyakitkan dibandingkan proses pembebasan tanah itu sendiri. “Dalam posisi ini warga sangat membutuhkan kehadiran pemerintah dalam hal ini Bupati,” jelasnya.

Rojul berharap, permasalahan di Wadas bisa segera selesai, dengan kebijakan yang tidak menciderai keadilan bagi warga. “Intinya warga sangat rindu perhatian pemerintah, jangan hanya mengandalkan kepolisian di depan yang kadang justru kontra produktif ketika berhadapan dengan warga,” harapnya. (luk)